Rabu, 07 Maret 2012

TOR ‘Misoprostol Sebagai Alternatif Pemenuhan Hak Perempuan’

Term Of Reference
‘Misoprostol  Sebagai Alternatif Pemenuhan Hak Perempuan’
April 2012
1.         Pendahuluan
SAMSARA adalah organisasi non-profit yang bergerak di isu-isu kesehatan reproduksi, seksualitas, gender dan spiritualitas budaya terhadap masalah aborsi. SAMSARA berkomitmen  melakukan pendidikan dan advokasi mengenai isu aborsi di Indonesia dengan pendekatan seksualitas, kesehatan reproduksi dan hak-haknya.
Tingginya Angka Kematian Ibu dan  komplikasi akibat aborsi tidak aman di Indonesia berhubungan dengan pembatasan undang-undang, diskriminasi, stigma dan kurangnya akses terhadap informasi dan layanan tentang aborsi yang aman. Melalui kerja-kerjanya, SAMSARA melihat adanya kebutuhan mendesak untuk mengedukasi dan memberdayakan perempuan sehingga perempuan memiliki cukup pengetahuan dan dukungan untuk memilih dan mengakses aborsi aman.

Senin, 10 Oktober 2011

MAKNA DAN PERSEPSI ABORSI DALAM PERSPEKTIF TUBUH MERLEAU PONTY

Memperbincangkan masalah aborsi sepertinya tidak akan pernah ada habisnya, sebagaimana kita ketahui persoalan ini pada dasarnya adalah sebuah isu yang sangat sensitif selain itu pula aborsi menjadi salah satu isu kesehatan reproduksi yang mengundang kontroversi dalam wacana agama dan norma-norma atau nilai yang dianut oleh masyarakat. Di negara yang tidak mengizinkan aborsi seperti Indonesia, banyak perempuan terpaksa mencari pelayanan aborsi tidak aman karena ketiadaan pelayanan aborsi aman atau biaya yang ditawarkan terlalu mahal. Dengan adanya fenomena seperti ini penulis sangat tertarik untuk melihat dan meneliti lebih dalam terutama sudut pandang perempuan yang telah melakukan aborsi itu sendiri.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi alasan perempuan melakukan tindakan aborsi serta hal-hal apa saja yang melatarbelakangi hingga sampai pada keputusan tersebut. Menganalisis proses pemaknaan perempuan yang melakukan tindakan aborsi dalam memahami atau memaknai aborsi. Bagaimana perempuan yang telah melakukan aborsi dalam hal ini memiliki suatu nilai ataupun pemahaman sendiri yang menyebabkan terjadinya pergeseran makna ditengah-tengah masyarakat yang masih menjujung tinggi nilai-nilai norma, agama, dan lingkungan sosial. Hingga pada akhirnya dapat diketahui pula persepsi mereka atas aborsi yang sangat erat kaitannya dengan tubuh sebagai sebuah proyeksi dari suatu kesadaran. Dalam pandangan seorang filsafat Perancis yaitu Merleau Ponty, tubuh dari seorang individu itu sendiri merupakan sesuatu yang aktif dalam merespon segala yang ada di dalam dunia pengalamannya. Sehingga dapat dikatakan disini tubuh bukanlah sesuatu yang diam dan konstan, karena tubuh itu sendiri merupakan sebuah proyeksi dari suatu kesadaran. Tubuh tersebut memiliki persepsi yang dikomunikasikan melalui bahasa sebagai salah satu cara untuk merefleksikan eksistensinya di dalam lingkungan bermasyarakat. Maka akan sangat menarik ketika meilhat fenomena aborsi ini jika mengembalikannya pada perempuan itu sendiri sebagai seorang yang pernah melakukan aborsi dalam memaknai dan mempersepsikan aborsi ketika hal ini sesungguhnya masih sangat bertentangan dengan sistem nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.

Sabtu, 24 September 2011

Criminalization of Abortion in Indonesia

By : Inna Hudaya
Just like in some other countries, positive law of the Indonesian government is supporting the principles related to culture and religion. Here abortion is illegal. And so, women who commit to do abortion are seen as criminals. They have to deal with a whole society that does not accept yet the right of women to choose an action over their own body and future. While on the other hand, government also failed for preserving a bridge between majors' perspective and minors' perspective on abortion issues. The government and society failed in identifying the women as subjects. This has made the position of women as objects which makes women even more vulnerable to violence.

Minggu, 28 Agustus 2011

Partnering Ayo Indonesia in Ruteng

By Martin Ruddock

'The wealth of the Church towers above everything, all must bow to enter the nunnery, it’s not the steep hill that breaks backs but the will of God...
'
Twisting from Bajawa to Ruteng, along, around and over the mountain range, in some places the road in so good its as if when the landscape was formed it came complete with tarmac.  In other places nature is belittling human effort to control the land by tossing boulders as if they are pebbles; around one hairpin we have to dodge a fresh rock that is bigger than the 4x4 we are in.  We will spend the next four days partnering Ayo Indonesia who has a packed schedule in store.  Since they begun their work they have listened to communities and together negotiated strategies forward; from agriculture and roads to advocacy and education.


Workshop Contrasts in Nusa Tenggara Timur


By Martin Ruddock

From the air I can see beautiful oceans, so many shades of blue, leading to long white sand beaches.  Inland the scenery quickly becomes barren shades of brown earth and hard grey rock with rusty corregated tin roofs to match.  It looks more like some BBC stereotype of a nameless African village than the Indonesia I am familiar with.  Carrying only hand luggage I exit the airport within thirty seconds and the ojek driver quickly picks me out amongst the crowd.  On the back of his motor I go to the homestay, grab something to eat, meet Inna, and straight to the workshop.