Oleh : Inna Hudaya
Kemarahan
Para perempuan post-abortive biasanya mengekspresikan rasa bersalah dan malunya melalui kemarahan yang di tujukan pada dirinya dan orang-orang yang terlibat dalam membuat keputusan aborsi seperti pasangan, teman, dokter atau keluarganya. Dia juga bisa menunjukkan kemarahan pada anak nya nanti, biasanya dengan melakukan penolakan atau menyakitinya secara fisik. menurut sebuah penelitian di amerika, 10 tahun sejak di legalkan aborsi, angka kekerasan pada anak meningkat lebih dari 500%. ( US Dept. of HHS 1991) sebuah studi menunjukkan bahwa 91% kekerasan pada anak terjadi pada kehamilan yang di rencanakan pada pasangan yang sebelumnya pernah melakukan aborsi ( University of Southern California Profesor Edward lenoski, Heartbeat, Vol 3, no 4, Dec 1980 ). Hal ini terjadi karena para orangtua terutama si Ibu merasa bersalah dan menjadi depresi karena tidak merasa terikat pada sang anak.
Kemarahan ini biasanya akan semakin parah ketika seorang post-abortus tidak dapat mengendalikan emosinya sehingga akan membias ke berbagai kondisi emosi lainnya yang saling bertumpuk menimbulkan depresi.
Insomnia dan Mimpi Buruk
Salah satu gejala sindrom paska aborsi adalah adanya gangguan tidur, salah satu yang akan kita bahas di sini adalah mengenai insomnia dan mimpi buruk. Insomnia adalah keadaan di mana seseorang sulit untuk tidur. Perempuan lebih rentan menserita insomnia daripada lelaki. Pada perempuan post-abortus, insomnia biasanya disebabkan kegelisahan dan stress yang berkepanjangan. Fikiran yang gelisah membuat seseorang sulit untuk merasa tenang. Mimpi buruk adalah suatu mimpi yang sangat mengganggu keadaan emosional, biasanya orang tersebut akan terbangun dari tidurnya dengan perasaan cemas dan takut. Mimpi buruk adalah sub kategori dari mimpi. Yang membedakan mimpi buruk adalah perasaan takut dan/atau perasaan-perasaan lainnya yang dihasilkan oleh mimpi tersebut. Anda cenderung untuk bangun dengan perasaan takut di tengah-tengah mimpi buruk. Karena perasaan takut yang dihasilkan, anda cenderung untuk mengingat mimpi buruk dan detail yang sangat jelas. Hal ini menjadi semakin buruk jika gambaran mimpi tersebut terus menetap dalam fikiran seseorang. Mimpi buruk tipe ini masuk ke dalam kategori spesial yang disebut Post Traumatic Stress Nightmare (PSN). Mimpi-mimpi buruk ini bisa terjadi karena kita mengabaikan dan menolak untuk menerima situasi tertentu di dalam kehidupan. Mimpi buruk juga bisa menjadi alarm bawah sadar yang mencoba menginformasikan terhadap alam sadar bahwa ada permasalahan yang harus di hadapi. Ini adalah waktunya untuk menanggapi dan memperhatikan satu masalah atau situasi. Mimpi buruk mempunyai tugas yang penting untuk menunjukkan anda apa yang menganggu anda dari dalam diri anda yang lebih dalam.
Depresi dan Merasa Kehilangan
Biasanya disebut sebagai “post-abortion blues”, terjadi dalam rentang waktu beberapa lama dari aborsi, namun berkepanjangan, depresi yang berat yang tidak biasa. Depresi adalah mood yang bercampur antar rasa sedih, rasa bersalah, penyesalan dan merasa putus asaBanyak yang bertanya bagaimana seorang perempuan post-abortus merasa kehilangan akan bayi yang pernah dikandungnya. Kenyataannya banyak para perempuan yang melakukan aborsi secara sadar akan konsekuensinya tetap saja merasakan rasa kehilangan. Hal ini bisa di pahami, walaubagaimanapun bayi tersebut pernah ada dalam tubuhnya. Ketika janin tersebut mulai tumbuh, ia telah membentuk sebuah ikatan yang kuat dengan si ibu. Ketika janin tersebut diaborsi, keluar dari tubuhnya maka tubuh merasakan ada bagian yang hilang tersebut dan biasanya ini tercermin pada perasaan si ibu.Kedekatan secara fisik ini yang menyebabkan kenapa perempuan lebih banyak merasa kehilangan akan bayi yang pernah di aborsinya daripada si pihak lelaki.
Beberapa perempuan post-abortive merasa telah di lumpuhkan oleh depresi ini hingga ia tidak lagi merasa tertarik pada seseorang atau apapun sejak terjadinya aborsi. Tangisan yang tidak terkontrol dan dapat terjadi kapan dan di mana saja, dapat terjadi setiap hari bahkan hingga bertahun-tahun lamanya.Para perempuan post-abortive juga merasakan reaksi yang negatif ketika mereka melihat bayi atau perempuan hamil di sekitar mereka.
Gagal Dalam Hubungan
Beberapa tindakan aborsi biasanya dilakukan untuk tetap dapat menjaga hubungan dengan pasangan. Namun menurut seorang advokat Linda Bird Franck, kebanyakan hubungan akan tetap gagal baik itu sebelum ataupun setelah aborsi ( Rearddon, p.123-124). Justru tindakan aborsi dapat mempengaruhi seseorang dalam membina hubungan baik karena kurangnya rasa percaya diri dan ketidakmampuan untuk bisa mempercayai pasangan.
Seorang post-abortus yang merasa gelisah dan tidak mampu mengendalikan emosinya, secara tidak langsung akan mempengaruhi lingkungan sekitarnya. Ketika seseorang kehilangan kepercayaan dirinya dan kehilangan kendali atas dirinya maka kemampuan berinteraksi sosialnya akan terganggu, itulah yang kemudian membuat hubungan nya dengan pasangan, keluarga atau relasi lainnya mengalami kegagalan.
Disfungsi Seksual
Gangguan seksual bisa terjadi pada perempuan post-abortus. Biasanya para perempuan yang mengalami trauma ini akan merasakan gairah seksual nya berkurang, atau justru sebaliknya. Pada beberapa perempuan yang menyimpan amarah begitu dalam, gangguan ini bisa berubah menjadi aktivitas seksual yang tak terbendung hingga berganti-ganti pasangan.
Frigiditas adalah kebekuan atau ketidakmampuan seorang perempuan mengalami hasrat-hasrat seksual atau mengalami orgasme pada saat bersenggama. Biasanya frigiditas ini terjadi karena beberapa factor ( di sini kita akan memahas yang berhubungan dengan aborsi) :
Organis, karena adanya kelainan pada organ seksual misalnya pada rahim atau vagina. misalnya, ganguan kelainan bawaan pada vagina, seperti lubang terlalu sempit atau liang vagina pendek. Kelainan pada otot dan ganguan jaringan saraf, dan tumor pada alat kelamin. Ganguan ini akan menimbulkan rasa sakit saat melakukan hubungan intim. Perempuan post-abortus yang mengalami trauma akibat aborsi yang menyakitkan atau terjadi infeksi biasanya mengalami gangguan pada bagian organ seksualnya. Hal ini dapat mengakibatkan rasa sakit pada saat bersenggama, sehingga hasrat seksual cenderung berkurang. Hormon juga berpengaruh, wanita usia menopause biasanya produksi hormon estogen menurun sehingga berdampak pada organ intim, seperti vagina kering, gatal dan iritasi.
Relasi social yang tidak mapan, biasanya terjadi jika ada masalah dengan pasangan seksualnya. Jika perempuan post-abortus masih merasakan amarah pada pasangannya yang turut serta berperan dalam tindakan aborsi, hal ini dapat merembet ke hubungan seksual.
Psikologis. Kondisi psikologis seseorang sangat berpengaruh dalam hubungan seksual. Seseorang yang merasakan kegelisahan dan perasaan tidak nyaman tidak dapat ,menikmati hubungan seksual.
Gangguan lain yang mungkin terjadi adalah vaginismus,yaitu kejang urat yang sangat menyakitkan pada bagian vagina. Fungsi vagina dapat menjadi abnormal dengan adanya kontraksi-kontraksi yang dapat sangat menyakitkan. vaginismus terbagi menjadi beberapa kategori berdasarkan penyebabnya. Gangguan yang mungkin terjadi pada perempuan post-abortus adalah Vaginismus jenis psikogen sekunder, yaitu akibat adanya rasa penolakan secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan hubungan seksual. Ada rasa antipati atau rasa tidak mapan terhadap partner seksnya.
Drug Abuse
Pada beberapa kasus, penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan alkohol merupakan hal paling klasik yang biasa terjadi pada perempuan post-abortus. Hal ini dilakukan untuk menutupi rasa gelisah dan rendah diri akibat trauma tersebut. Obat-obatan dan alkohol biasanya menjadi jalan paling mudah yang di pilih untuk mengurangi kegelisahan dan emosi-emosi negatif akibat aborsi. Dengan mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang mereka dapat mengalihkan emosi-emosi mereka yang berhubungan dengan kejadian aborsi. Untuk mengaburkan fikiran negatif, kegelisahan dan mengurangi kecemasan, sebagian mengalihkannya pada obat-obatan dan alcohol. Namun obat-obatan dan alkohol tidak dapat membantu menyelesaikan permasalahan selain hanya menunda dan menimbunnya. Karena permasalahan yang tidak selesai dan kebutuhan untuk mencari ketenangan terus meningkat maka pemakaian obat-obatan dan alcohol pun akan terus berkelanjutan selain karena memang efeknya yang adiktif.
Obat-obatan yang biasanya digunakan adalalah obat penenang seperti amphetamine. Dengan mengkonsumsi obat ini biasanya seseorang dapat melupakan konflik-konflik yang terjadi di dalam kehidupannya. Dalam keadaan yang yang sangat darurat biasanya psikiater akan memberikan obat jenis ini untuk mengurangi penderitaan psikis pasiennya. Namun pemakaian yang terus-menerus akan mengakibatkan ketergantungan. Jenis lainnya adalah morphin yang biasanya dipakai untuk mengurangi rasa sakit dan keresahan hati, biasanya pemakai menjadi gembira dan bergairah dan dapat tidur nyenyak. Untuk sesaat permasalahan-permasalah atau konflik bathin dalam dirinya akan terlupakan sehingga seseorang merasa lebih baik, namun sebenarnya permasalahan tersebut tetap ada, hanya saja mengendap. Satu-satunya penyelesaian terbaik adalah dengan menghadapi dan menyelesaikan permasalahan tersebut.
Dalam jangka waktu yang cukup lama ketergantungan atau candu obat-obatan ini akan mengakibatkan berbagai symptom fisik ataupun psikis. Secara fisik, si pecandu akan merasa kehilangan nafsu makan, haus, gangguan pencernaan, sembelit dll. Secara psikis biasanya mengakibatkan sulit konsentrasi, pelupa, kehilangan ambisi, dipenuhi rasa ketakutan, kepedihan, euphoria, putus asa dll.
Diesel for Women
3 minggu yang lalu



0 komentar:
Poskan Komentar