Metode aborsi tergantung pada masa/umur Kehamilan, mengetahui umur pasti kehamilan sangat penting untuk menentukan metode aborsi yang paling tepat dan aman. pada umumnya metode aborsi dikategorikan menjadi dua :
Surgical abortion atau aborsi dengan tindakan merupakan metode aborsi yang aman dan efektif yang dilakukan melalui prosedur operasi dengan menggunakan peralatan tertentu.
Medical abortion merupakan metode aborsi yang dilakukan dengan menggunakan obat-obatan tertentu untuk menghentikan kehamilan, biasanya dilakukan dibawah pengawasan dokter dan efektif pada trimester pertama atau kehamilan. Jika menggunakan metode ini di atas trimester pertama, metode ini harus digabung dengan metode tindakan[7].
1) TRIMESTER PERTAMA ( 5-12 minggu )[8]
Pil Aborsi/Pil RU-486
Teknik ini menggunakan 2 hormon sintetik yaitu mifepristone dan misoprostol. Kerja RU 486 adalah untuk memblokir hormon progesteron yang berfungsi vital untuk menjaga jalur nutrisi ke plasenta tetap lancar. Karena pemblokiran ini, maka janin tidak mendapatkan makanannya lagi dan menjadi kelaparan.
Di Amerika Serikat, prosedur ini dijalani dengan pengawasan ketat dari klinik aborsi yang mengharuskan kunjungan sedikitnya 3 kali ke klinik tersebut. Pada kunjungan pertama, wanita hamil tersebut diperiksa dengan seksama. Jika tidak ditemukan kontra-indikasi (seperti perokok berat, penyakit asma, darah tinggi, kegemukan, dll) yang malah dapat mengakibatkan kematian pada wanita hamil itu, maka ia diberikan pil RU 486
Suntikan Methotrexate (MTX)
MTX disuntikkan ke dalam tubuh. MTX pada mulanya digunakan untuk menekan pertumbuhan pesat sel-sel, seperti pada kasus kanker, dengan menetralisir asam folat yang berguna untuk pemecahan sel. MTX menekan pertumbuhan trophoblastoid - selaput yang menyelubungi embrio yang juga merupakan cikal bakal plasenta. Trophoblastoid tidak saja berfungsi sebagai sistem penyangga hidup untuk janin yang sedang berkembang, mengambil oksigen dan nutrisi dari darah calon ibu, serta membuang karbondioksida dan produk-produk buangan lainnya, tetapi juga memproduksi hormon HCG (human chorionic gonadotropin). Corpus luteum terus memproduksi hormon progesteron yang berguna untuk mencegah gagal rahim dan keguguran.
Karena kekurangan nutrisi, maka janin menjadi mati. 3-7 hari kemudian, tablet misoprostol dimasukkan ke dalam vagina untuk memicu terlepasnya janin dari rahim. Terkadang, hal ini terjadi beberapa jam setelah masuknya misoprostol, tetapi sering juga terjadi perlunya penambahan dosis misoprostol. Hal ini membuat cara aborsi dengan menggunakan suntikan MTX dapat berlangsung berminggu-minggu.
Aspiration Vacuum Manual (AMV)[9]
Biasanya dilakukan pada usia kehamilan 6-12 minggu. AMV dikenal juga sebagai menstrual extraction atau suction curettage, Dilakukan oleh dokter di klinik, proses sekitar 5 menit.
Metode D&C
Dilakukan pada usia kehamilan 12-15 minggu . Prosedur sama dengan AMV, hanya didahului dengan kuret, baru dengan suction/penghisap. Proses kurang lebih 10 menit
2) TRIMESTER KEDUA (Minggu ke-13 – 24)
Urea
Suntikan yang biasa dipakai adalah hipersomolar urea. Metode ini kurang efektif dan biasanya harus dibarengi dengan asupan hormon oxytocin atau prostaglandin agar dapat mencapai hasil maksimal. Gagal aborsi atau tidak tuntasnya aborsi sering terjadi dalam penggunaan metode ini, sehingga operasi pengangkatan janin harus dilakukan. Seperti teknik suntikan aborsi lainnya, efek samping yang sering ditemui adalah pusing atau muntah-muntah. Masalah umum dalam aborsi pada trimester kedua adalah perlukaan rahim, yang berkisar dari perlukaan kecil hingga perobekan rahim. Antara 1-2% dari pasien pengguna metode ini terkena endometriosis /peradangan dinding rahim.
Prostaglandin
Prostaglandin merupakan hormon yang diproduksi secara alami oleh tubuh dalam proses melahirkan. Injeksi dari konsentrasi buatan hormon ini ke dalam air ketuban memaksa proses kelahiran berlangsung, mengakibatkan janin keluar sebelum waktunya dan tidak mempunyai kemungkinan untuk hidup sama sekali. Sering juga garam atau racun lainnya diinjeksi terlebih dahulu ke cairan ketuban untuk memastikan bahwa janin akan lahir dalam keadaan mati, karena tak jarang terjadi janin lolos dari trauma melahirkan secara paksa ini dan keluar dalam keadaan hidup. Efek samping penggunaan prostaglandin tiruan ini adalah bagian dari ari-ari yang tertinggal karena tidak luruh dengan sempurna, trauma rahim karena dipaksa melahirkan, infeksi, perdarahan, gagal pernafasan, gagal jantung, dan perobekan rahim.
Dilation and Evacuation (D&E)
Dilakukan pada usia kehamilan 15-21 minggu, metode ini merupakan kombinasi VAM dan D&C. Ultrasound dilakukan sebelum D & E untuk menentukan ukuran rahim dan jumlah minggu kehamilan. Suatu alat yang disebut dilator dimasukkan di leher rahim 24 jam sebelum prosedur untuk membantu mulut rahim membuka perlahan. Misoprostol mungkin juga akan diberikan beberapa jam sebelum operasi. Obat ini dapat membantu melunakkan leher rahim. Membutuhkan waktu 30 menit
Penyedotan ( Suction & Curretage)
Teknik inilah yang paling banyak dilakukan untuk kehamilan usia dini. Ketelitian dan kehati-hatian dalam menjalani metode ini sangat perlu dijaga guna menghindari robeknya rahim akibat salah sedot yang dapat mengakibatkan perdarahan hebat yang terkadang berakhir pada operasi pengangkatan rahim. Peradangan dapat terjadi dengan mudahnya jika masih ada sisa-sisa plasenta atau bagian dari janin yang tertinggal di dalam rahim.
[7] Spitz, I.M; Bardin, CW; Benton, L; Robbins, A (1998). "Early pregnancy termination with mifepristone and misoprostol in the United States". New England Journal of Medicine 338 (18): 1241. doi:10.1056/NEJM199804303381801. PMID 9562577.



0 komentar:
Poskan Komentar