<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433852997966109948</id><updated>2011-10-10T13:46:30.302+07:00</updated><category term='Konseling Pasca Aborsi'/><category term='Konseling Pra Aborsi'/><category term='Support'/><category term='Adopsi'/><category term='Hamil Nggak Ya'/><category term='Artikel'/><category term='Aborsi'/><category term='Konsep Dasar Aborsi'/><category term='Riset'/><category term='SRHR-SW'/><category term='SSKR'/><category term='Deal with it'/><category term='Menjadi Orang Tua'/><category term='Event'/><title type='text'>SAMSARA</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>samsara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06928317136208780151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>59</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433852997966109948.post-8856943346251283708</id><published>2011-10-10T13:40:00.003+07:00</published><updated>2011-10-10T13:40:50.215+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Riset'/><title type='text'>MAKNA DAN PERSEPSI ABORSI DALAM PERSPEKTIF TUBUH MERLEAU PONTY</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Memperbincangkan masalah aborsi sepertinya tidak akan pernah ada habisnya, sebagaimana kita ketahui persoalan ini pada dasarnya adalah sebuah isu yang sangat sensitif selain itu pula aborsi menjadi salah satu isu kesehatan reproduksi yang mengundang kontroversi dalam wacana agama dan norma-norma atau nilai yang dianut oleh masyarakat. Di negara yang tidak mengizinkan aborsi seperti Indonesia, banyak perempuan terpaksa mencari pelayanan aborsi tidak aman karena ketiadaan pelayanan aborsi aman atau biaya yang ditawarkan terlalu mahal. Dengan adanya fenomena seperti ini penulis sangat tertarik untuk melihat dan meneliti lebih dalam terutama sudut pandang perempuan yang telah melakukan aborsi itu sendiri.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi alasan perempuan melakukan tindakan aborsi serta hal-hal apa saja yang melatarbelakangi hingga sampai pada keputusan tersebut. Menganalisis proses pemaknaan perempuan yang melakukan tindakan aborsi dalam memahami atau memaknai aborsi. Bagaimana perempuan yang telah melakukan aborsi dalam hal ini memiliki suatu nilai ataupun pemahaman sendiri yang menyebabkan terjadinya pergeseran makna ditengah-tengah masyarakat yang masih menjujung tinggi nilai-nilai norma, agama, dan lingkungan sosial. Hingga pada akhirnya dapat diketahui pula persepsi mereka atas aborsi yang sangat erat kaitannya dengan tubuh sebagai sebuah proyeksi dari suatu kesadaran. Dalam pandangan seorang filsafat Perancis yaitu Merleau Ponty, tubuh dari seorang individu itu sendiri merupakan sesuatu yang aktif dalam merespon segala yang ada di dalam dunia pengalamannya. Sehingga dapat dikatakan disini tubuh bukanlah sesuatu yang diam dan konstan, karena tubuh itu sendiri merupakan sebuah proyeksi dari suatu kesadaran. Tubuh tersebut memiliki persepsi yang dikomunikasikan melalui bahasa sebagai salah satu cara untuk merefleksikan eksistensinya di dalam lingkungan bermasyarakat. Maka akan sangat menarik ketika meilhat fenomena aborsi ini jika mengembalikannya pada perempuan itu sendiri sebagai seorang yang pernah melakukan aborsi dalam memaknai dan mempersepsikan aborsi ketika hal ini sesungguhnya masih sangat bertentangan dengan sistem nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maka bagi siapapun perempuan khususnya di kota Yogyakarta ini yang mungkin pernah memiliki sebuah pengalaman yang berkaitan dengan penelitian ini mari bersama menyuarakan dan mau berbagi sehingga diharapkan dengan partisipasi anda melalui penelitian ini mampu membawa perubahan dan kebijakan yang membawa hasil yang lebih baik ke depannya bagi para perempuan di Indonesia. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;Contact Person :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andini     : 0821 430 36457 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samsara : samsara.litbang@gmail.com&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433852997966109948-8856943346251283708?l=samsaraindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/feeds/8856943346251283708/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2011/10/makna-dan-persepsi-aborsi-dalam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/8856943346251283708'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/8856943346251283708'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2011/10/makna-dan-persepsi-aborsi-dalam.html' title='MAKNA DAN PERSEPSI ABORSI DALAM PERSPEKTIF TUBUH MERLEAU PONTY'/><author><name>samsara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06928317136208780151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433852997966109948.post-5948444054421680738</id><published>2011-09-24T08:10:00.001+07:00</published><updated>2011-09-24T08:11:40.187+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aborsi'/><title type='text'>Criminalization of Abortion in Indonesia</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #444444; font-family: inherit;"&gt;By : Inna Hudaya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #444444; font-family: inherit;"&gt;Just like in some other countries, positive law of the Indonesian government is supporting the principles related to culture and religion. Here abortion is illegal. And so, women who commit to do abortion are seen as criminals. They have to deal with a whole society that does not accept yet the right of women to choose an action over their own body and future. While on the other hand, government also failed for preserving a bridge between majors' perspective and minors' perspective on abortion issues. The government and society failed in identifying the women as subjects. This has made the position of women as objects which makes women even more vulnerable to violence.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #444444; font-family: inherit;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #444444; font-family: inherit;"&gt;Abortion in Indonesia is restricted, it’s illegal except for some reasons ; the pregnancy is danger for the mother or the fetus, the pregnancy caused by rape. Abortion can be done before the gestational age of six weeks unless to save mothers lives.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #444444; font-family: inherit;"&gt;Even it’s possible to have an abortion until 6 weeks of gestational age, a women do not have authority over their own decision. Married women need the consent of her husband, unmarried women need the parental consent. In the case of rape, the parental consent need to be given with the recommendation or approval of psychologist or psychiatrist.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #444444; font-family: inherit;"&gt;Based on the Health Law No 36/2009, the penalties for anyone who had induced abortion were 10 years imprisonment or a fine of 1 billion rupiah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #444444; font-family: inherit;"&gt;In reality, due to resctricted access on sex education, reproductive health and health services, especially contraception, women tend to be vulnerable to unwanted pregnancy that leads to the need of safe abortion.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #444444; font-family: inherit;"&gt;Women; young, unmarried, less educated, poor and in rural areas, are the most vulnerable groups and severely affected when faced unplanned pregnancy. In this situation unsafe abortion is the option that available and accessible.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #444444; font-family: inherit;"&gt;The criminalization of abortion did not only impact on the number of unsafe abortion and maternal mortality, it also creates many kind of violence towards women’s rights. As the results, the criminalization of abortion develop an industry on abortion. Many illegal clinic available in cities, especially Java. Those clinic provide abortion for women without considering the rights of the patients . Women situation taking for granted. Many drug dealer&amp;nbsp; cheats on women without women having the rights to report it to the police. This creates a space to many forms of violence and complicated problems toward the issue of abortion to grow.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #444444; font-family: inherit;"&gt;Criminalization is violence against women’s rights. Its not only putting women as an object of violence but also letting people taking advantages from women’s situation. It’s a hypocracy of the nation ; who believe that abortion is a sin but creating another kind of sins to be grows.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #444444; font-family: inherit;"&gt;Criminalization on abortion is not the answer to reduce the number of abortion. The only way to reduce the number of abortion is by giving the rights to sex education and reproduction and open access to health services so women’s having control over their sexual and reproductive lives that protect them from unwanted pregnancy.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span lang="EN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #444444; font-family: inherit;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Do you think it’s wise to criminalize women without giving their rights at first? This is an act of ignorance.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433852997966109948-5948444054421680738?l=samsaraindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/feeds/5948444054421680738/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2011/09/criminalization-abortion-in-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/5948444054421680738'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/5948444054421680738'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2011/09/criminalization-abortion-in-indonesia.html' title='Criminalization of Abortion in Indonesia'/><author><name>samsara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06928317136208780151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433852997966109948.post-1137535079196479801</id><published>2011-08-28T00:48:00.000+07:00</published><updated>2011-08-28T00:48:31.587+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SRHR-SW'/><title type='text'>Partnering Ayo Indonesia in Ruteng</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;By Martin Ruddock&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;'The wealth of the Church towers above everything, all must bow to enter the nunnery, it’s not the steep hill that breaks backs but the will of God...&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;'&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;Twisting from Bajawa to Ruteng, along, around and over the mountain range, in some places the road in so good its as if when the landscape was formed it came complete with tarmac.&amp;nbsp; In other places nature is belittling human effort to control the land by tossing boulders as if they are pebbles; around one hairpin we have to dodge a fresh rock that is bigger than the 4x4 we are in.&amp;nbsp; We will spend the next four days partnering Ayo Indonesia who has a packed schedule in store.&amp;nbsp; Since they begun their work they have listened to communities and together negotiated strategies forward; from agriculture and roads to advocacy and education.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;At the Ayo Indnesia office they have recalled field staff and invited people from local organisations, including Indonesia’s national family planning organisation; there are over twentyfive community activists.&amp;nbsp; One of the women immediately asks Inna why she does this work focusing on abortion.&amp;nbsp; Sometimes this could be a principled ‘why’ as in 'how dare you', at other times it is a ‘why’ of passing curiosity.&amp;nbsp; It is always a question that deserves a succinct answer because since 2009 women having abortions and those avocating on abortion face a fifteen year jail sentence. &amp;nbsp;Conversation then goes from sex and gender to contraception rights and informed choices.&amp;nbsp; Inna is explaining that women not only have a right to contraception but a right to know the related side effects and an option to refuse.&amp;nbsp; In the past Indonesia’s national family planning organisation has provided contraception without telling people of the side effects, not only breaking some medical principles but endangering women’s bodies and relationships.&amp;nbsp; The representative today reacts to by talking about the culture of Flores and Manggari, how if women were informed many would refuse to use contraception.&amp;nbsp; Inna responds by suggesting that its not simply about chucking information at people but how they are informed and also explaining coping strategies. &amp;nbsp;I had a conversation with one women whose mother suffered from heavy bleeding for over twentyfive years, nobody knew that she had a intrauterine device and not even she believed that it was the cause of the heavy bleeding until last year when it was 'discovered' and removed. &amp;nbsp;At the end, as always, people are asking for more information and copies of presentations.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Over one hundred nuns look after a sparkling building, six nuns look after almost two hundred orphans, the logic isn’t in the distance...&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;Later that day we are taken to an orphanage where some one hundred and fifty children, many with visual, hearing and speaking disabilities, are awaiting us.&amp;nbsp; There isn’t time to work in smaller groups and we must sieze the opportunity.&amp;nbsp; ‘Salamat sore’ [good afternoon] I say, ‘salamat sore’ they roar back.&amp;nbsp; The concert has begun.&amp;nbsp;&amp;nbsp; So that those with physical disabilities are included from the beginning I suggested doing a few brief Shakti exercises and when it comes to describing the the female reproductive system I had the idea for everyone to touch their own eyes (ovaries), follow the eyebrows (fallopian tubes), down the nose (cervix) to the nostrils (vagina).&amp;nbsp; Perhaps I am not the first to have this idea but I am happy to see so many children doing the actions; the idea for the male reproductive system was certainly less original!&amp;nbsp; We do workshops with four or five big groups of children at schools, orphanages and nunneries.&amp;nbsp; The children are invariably split into groups, asked to think of changes during puberty, and then to feedback in front of everyone.&amp;nbsp; At times these moments are like concerts with someone coyly saying ‘menstruation’ followed by houls of laughter and Inna cheekily asking ‘what did they say’ getting more and more to shout ‘menstruation’; it is and excellent to watch as permission is granted to say taboo words and discuss subjects, for some, for the first time.&amp;nbsp; At other times these moments are like politcal rallies with everybody listening with great intensity and taking notes as Inna writes a keyword.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;Ayo Indonesia also take us to do a workshop with one of the villages that they have worked with. &amp;nbsp;Over twenty villagers greet us; the older they are the darker they are, from all those years under the sun in the fields I guess.&amp;nbsp; We are treated to an organic lunch fresh from their labour.&amp;nbsp; There are also eight students from a nearby college doing a two month field study in the village.&amp;nbsp; Its hot under the tin roof and I go out for a break.&amp;nbsp; Quickly the students have followed me and I feel guilty because I assume they want to practice English.&amp;nbsp; They introduce themselves and we chat and then I ask them why they left the workshop, was it not interesting.&amp;nbsp; They embarrasingly reply that ‘too many taboo words are being used’.&amp;nbsp; I ask what words but none want to say.&amp;nbsp; Having met so many children over the past few days that have really embraced the opportunity to discuss these topics it is suprising to hear this from people in thier early twenties.&amp;nbsp; I say lets go back in and they gradually follow as Inna is explaining about cervix exminations and breast examinations.&amp;nbsp; I can tell they are uncomfortable throughout.&amp;nbsp; At the end of the four days in Ruteng Inna tells me we have met over fourhundred people!&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Conservative nuns, good nuns, nice nuns, polite nuns.&amp;nbsp; Don’t think none, don’t talk none, don’t see none...&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;I, like Inna and Ayo Indonesia, appreciate the satellite workshops as an opportunity not just to present information to others but to learn from communities about sexuality and reproduction.&amp;nbsp; We know that we cannot rely on governments to meet our daily needs or to save us in times of crisis.&amp;nbsp; Only by listening to each other and being willing to take on projects together, with or without government assistance, can we find solutions to the problems we face.&amp;nbsp; These people are too busy for protesting; they are living their lives, not demanding to be told how to live.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;peace...&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433852997966109948-1137535079196479801?l=samsaraindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/feeds/1137535079196479801/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2011/08/partnering-ayo-indonesia-in-ruteng.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/1137535079196479801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/1137535079196479801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2011/08/partnering-ayo-indonesia-in-ruteng.html' title='Partnering Ayo Indonesia in Ruteng'/><author><name>samsara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06928317136208780151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433852997966109948.post-1016777106845665576</id><published>2011-08-28T00:44:00.000+07:00</published><updated>2011-08-28T00:44:18.581+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SRHR-SW'/><title type='text'>Workshop Contrasts in Nusa Tenggara Timur</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: white; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;By Martin Ruddock&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;From the air I can see beautiful oceans, so many shades of blue, leading to long white sand beaches.&amp;nbsp; Inland the scenery quickly becomes barren shades of brown earth and hard grey rock with rusty corregated tin roofs to match.&amp;nbsp; It looks more like some BBC stereotype of a nameless African village than the Indonesia I am familiar with.&amp;nbsp; Carrying only hand luggage I exit the airport within thirty seconds and the&amp;nbsp;&lt;em&gt;ojek&lt;/em&gt;&amp;nbsp;driver quickly picks me out amongst the crowd.&amp;nbsp; On the back of his motor I go to the homestay, grab something to eat, meet Inna, and straight to the workshop.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;Through the massive gateway of the Universitas Nusa Cendana, along a road that quickly becomes a broken mess of potholes and stones, and up a long steep hill to an isolated building.&amp;nbsp; It looks new from the outside but inside it is empty and worn, with graffiti on the walls and broken chairs stacked up.&amp;nbsp; We are confronted by fifteen young men; they are not talkative and look overly serious for students.&amp;nbsp; We share some sweets and get everybody to introduce themselves.&amp;nbsp; With ease they come out of their shells and I watch as Inna adjusts the workshop to match the atmosphere and conversation.&amp;nbsp; Like some stereotype of teenage boys they are keen to talk about sex, sexual pleasure and pornography.&amp;nbsp; It is inevitable that when the condoms come out they will be playing games with them.&amp;nbsp; Having dealt with questions such as ‘how does a woman squirt like on porno films’, ‘does size matter’, and ‘how to cope with impotency’ they all clasp hands and pray to Jesus at the end of the workshop; Kupang is largely Protestant.&amp;nbsp; The second day is much smoother and we discuss the reality of sex before marriage and abortion.&amp;nbsp; Although we did encourage them to invite women none appear.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;On the third day in Kupang we are supposed to meet a women’s group but they cancelled, not wanting to discuss abortion.&amp;nbsp; A friend close to one of the organizers has been discovered to have attempted a ‘cassava abortion’ and consequently the women want to meet again.&amp;nbsp; A ‘cassava abortion’ is when a woman uses the cassava plant to make rough yet sharp ended blades, usually at least four, and inserts them as far into her vagina as possible.&amp;nbsp; She will then try to induce the pregnancy by walking around for a number of hours and remove the sticks… but not all of them, at least two will remain inside her for a few days.&amp;nbsp; This is obviously highly dangerous and sometimes fatal.&amp;nbsp; Unfortunately for this group Inna can only meet for an hour today and I must visit immigration to ‘fix’ my passport.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;The next day we are on the first flight out of Kupang and within an hour we land in Bajawa, Flores.&amp;nbsp; Despite being so close to each other Kupang seemed as if it was built on rocks and Bajawa is lush green farm land.&amp;nbsp; The host’s driver meets us at the airport and we immediately begin our ascent into a beautiful mountain range to the sound of country music… well Bajawa is almost perfect!&amp;nbsp; We arrive at the host’s house and find the workshop has been cancelled again; Inna immediately starts on a plan to hold a more impromptu gathering.&amp;nbsp; We drive to another organizer’s house where Jesus hangs on the walls and men are soldering in the front.&amp;nbsp; After a brief discussion the two women are texting friends to come over.&amp;nbsp; Within an hour there are ten older women cramped into the front room with noise, men and sparks flying right outside.&amp;nbsp; While we all introduce ourselves some of the women reveal that they have snuck away from their husbands, pretending to go to the market, so they cannot be too long but they are excited to meet us and to learn new things.&amp;nbsp; They also make it clear that they don’t want to talk about abortion so Inna starts explaining about post-abortion depression to which some respond that they know of such cases.&amp;nbsp; Somehow this leads into a discussion about body exploration and a few Shakti exercises.&amp;nbsp; The Shakti exercises involve talking about emotions and then gentle tapping of their own and each others bodies.&amp;nbsp; The women look scared at the beginning but they really get into it and at the end of the workshop they are laughing their heads off.&amp;nbsp; Inna tells me that usually the Shakti workshop is much longer and at the end the group is usually in tears.&amp;nbsp; During the Shakti bit I remained silent, just taking photos, but it was beautiful to watch Catholic and Muslim women embrace and learn something new together… totally against the mass media stereotype.&amp;nbsp; Upon leaving they admit that perhaps they should discuss hard topics such as abortion and if there is chance in the future they would also like to discuss domestic violence.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;We were originally supposed to stay at the host’s house but something changed and she kindly booked us a room at a homestay; one room two beds.&amp;nbsp; At about ten o’clock that evening I was working on Inna’s laptop and she was trying to sleep when there was a knock at the door.&amp;nbsp; I ignored it and continued to ignore it when it repeated a number of times.&amp;nbsp; Eventually I answered the door where a group of about eight men confronted me, the following ensued;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;‘What do you want?’&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;‘Your passport’&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;‘Why?’&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;‘We are police’&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;‘You are not in uniform, where’s your ID, and why is he filming?’ [They give me some paperwork] ‘Well you can’t have my passport, it’s in Kupang’ [I give them some paperwork]&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;Inna is out of bed and quickly they want to talk to her alone with the door shut on me.&amp;nbsp; Inna comes back into the room and says we have to go to the station. &amp;nbsp;I get the impression that I don’t really have to go but she does but as if I would leave her to go alone despite how tough she may be.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;I am a bit confused because we are in a Catholic area where Sharia law will not apply even if it is Ramadan, so perhaps they want some money to which I am already preparing myself to refuse. &amp;nbsp;However Inna knows the law and there is a law stating that unmarried couples aren’t allowed to share a room, some hotels proudly advertise the statute number, but these fine officers don’t know this law.&amp;nbsp; The law only applies to Indonesians, so I’m not in trouble, when the questions come they all focus on whether we were having sex to which Inna is replying you can’t prove anything even if we were (obviously we were not).&amp;nbsp; The officers ‘argue’ that proof doesn’t matter because what matters is what others will think, Inna tells them why that is ridiculous.&amp;nbsp; I don’t think it was logic that won them over but rather the fact that we had been invited to Bajawa by Dr. Nor and she had booked the room for us; she turned out to be one of the senior officers brother-in-law and it would be a bit embarrassing for them to arrest Inna.&amp;nbsp; It wouldn’t look right to others!&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-size: 11px; line-height: 1.5em; text-align: justify;"&gt;Peace…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433852997966109948-1016777106845665576?l=samsaraindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/feeds/1016777106845665576/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2011/08/workshop-contrasts-in-nusa-tenggara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/1016777106845665576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/1016777106845665576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2011/08/workshop-contrasts-in-nusa-tenggara.html' title='Workshop Contrasts in Nusa Tenggara Timur'/><author><name>samsara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06928317136208780151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433852997966109948.post-8229892736416291797</id><published>2011-07-16T00:24:00.002+07:00</published><updated>2011-07-16T00:24:53.663+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Event'/><title type='text'>Sexuality &amp; Reproductive Health and Rights - Satelite Workshop ( SRHR-SW )</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 15px;"&gt;Dear sahabat samsara,&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 15px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 15px;"&gt;Samsara diwakili oleh Inna Hudaya akan melakukan workshop keliling ke wilayah Bali - Lombok - Flores dan Kupang selama 4 minggu. Seperti biasanya, fasilitator kami akan mendatangi lembaga dan komunitas-komunitas.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 15px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 15px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 15px;"&gt;Jika anda berada di wilayah tersebut dan ingin terlibat atau melibatkan komunitas anda dalam SRHR-SW, silahkan hubungi Inna Hudaya di 081 9889 240 atau melalui email : inna.hudaya@gmail.com&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 15px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 15px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; color: #333333; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 15px;"&gt;&lt;span class="text_exposed_show" style="display: inline;"&gt;Fasilitasi ini gratis.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Informasi lengkap mengenai kegiatan ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Event  : SRHR Satelite Workshop&lt;br /&gt;b. Lokasi  : Denpasar, Lombok, Bima, Flores, Kupang&lt;br /&gt;c. Waktu  : July 17, 2011 - August 20, 2011 (tentative)&lt;br /&gt;d. Organisasi  : SAMSARA&lt;br /&gt;e. Fasilitator  : Inna Hudaya&lt;br /&gt;f. Alamat : Soboman DK X Sonopakis Kidul Ngestiharjo&lt;br /&gt;Bantul Yogyakarta 55182&lt;br /&gt;g. Contact Person : Inna Hudaya +62-856-2969500 or&lt;br /&gt;inna.hudaya @ gmail.com&lt;br /&gt;h. Phone  : +62-274-6686120&lt;br /&gt;i. Email  : samsara.indonesia @ gmail.com&lt;br /&gt;j. Website  :&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.samsaraindonesia.blogspot.com/" rel="nofollow" style="color: #3b5998; cursor: pointer; text-decoration: none;" target="_blank"&gt;www.samsaraindonesia.blogs&lt;wbr&gt;&lt;/wbr&gt;​pot.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. latar belakang&lt;br /&gt;Kehamilan yang tidak direncanakan, aborsi dan kematian ibu di Indonesia terjadi akibt kurangnya akses informasi dan pendidikan tentang seksualitas, kesehatan reproduksi dan hak-haknya Aborsi yang tidak aman merupakan isu yang perlu digarisbawahi, terutama di daerah di mana akses ke layanan kesehatan terbatas atau tidak terjangkau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan muda, belum menikah, kurang atau tidak berpendidikan, miskin dan hidup di daerah pedesaan, adalah kelompok yang paling rentan dan terkena dampak ketika menghadapi kehamilan yang tidak direncanakan. Dalam situasi ini, aborsi tidak aman adalah pilihan, yang tersedia mudah diakses dan terjangkau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samsara telah dibentuk untuk mengatasi masalah ini mendesak karena perempuansaat ini tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang tubuh mereka, seksualitas dan hak-hak reproduksi mereka. Kita perlu mengambil tindakan, menciptakan strategi dan melaksanakan program untuk memberdayakan perempuan memiliki otoritas dan kontrol atas tubuh dan pikiran. Kami menyediakan pendidikan, akses layanan informasi dan konseling yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi dan seksualitas tanpa diskriminasi berdasarkan status perkawinan, agama, ras, keuangan atau orientasi seksual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tujuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Memberikan informasi dan meningkatkan kesadaran tentang seksualitas, kesehatan reproduksi dan hak-haknya.&lt;br /&gt;2. Membuat, meningkatkan dan memperluas kesadaran tentang kesehatan integral dan otoritas tubuh.&lt;br /&gt;3. Menyediakan informasi dan pendidikan tentang seks yang aman.&lt;br /&gt;4. Menyediakan informasi tentang aborsi, pilihan, risiko dan komplikasi.&lt;br /&gt;5. Mengembangkan dan memperluas wacana tentang aborsi medis&lt;br /&gt;6. Memberikan informasi tentang cara menggunakan Misoprostol untuk aborsi yang aman dan mencegah perdarahan pasca melahirkan.&lt;br /&gt;7. Pemetaan masalah aborsi di Indonesia, khususnya di wilayah Indonesia timur.&lt;br /&gt;8. Mengembangkan dan memperkuat jaringan.&lt;br /&gt;9. Pemetaan ketersediaan Misoprostol dan klinik di wilayah timur Indonesia.&lt;br /&gt;10. Menyediakan pelatihan untuk mengembangkan keterampilan perempuan untuk belajar bagaimana untuk memiliki kontrol atas tubuh mereka dan memiliki otoritasdalam memilih metode perawatan dan pengobatan bagi diri mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Materi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Shakti Workshop : Body image, body exploration, body authority, emotions &amp;amp; relationships, healing process ( 3 jam )&lt;br /&gt;2. Seksualitas dan Kesehatan Reproduksi : Pengantar, Dimensi dan Pemetaan Isu&lt;br /&gt;3. Siklus Menstruasi, Pemeriksaan Mandiri (Vagina,Cervix,Payudara)&lt;br /&gt;4. Kontrasepsi&lt;br /&gt;5. Perempuan dan Aborsi&lt;br /&gt;6. Aborsi Aman&lt;br /&gt;7. Aborsi Aman dengan Misoprostol&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433852997966109948-8229892736416291797?l=samsaraindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/feeds/8229892736416291797/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2011/07/sexuality-reproductive-health-and.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/8229892736416291797'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/8229892736416291797'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2011/07/sexuality-reproductive-health-and.html' title='Sexuality &amp; Reproductive Health and Rights - Satelite Workshop ( SRHR-SW )'/><author><name>samsara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06928317136208780151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433852997966109948.post-3590647690934007330</id><published>2011-05-25T01:06:00.005+07:00</published><updated>2011-07-27T08:20:54.670+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aborsi'/><title type='text'>Aborsi Aman</title><content type='html'>&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dimana saya bisa melakukan aborsi yang aman?&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa email dengan nada yang sama saya terima berulang kali di inbox email saya. Mengenai hal itu saya ingin sedikit menjelaskan mengenai prosedur aborsi yang aman.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aborsi yang aman bisa dilakukan dengan dua cara, pertama dilakukan di klinik oleh dokter, kedua dengan menggunakan kombinasi misoprostol dan mifepristone. Untuk aborsi yang dilakukan di klinik, harus dengan metode yang disesuaikan dengan usia kehamilan dan menggunakan alat-alat yang steril. Sama halnya dengan klinik, aborsi dengan menggunakan obat harus dilakukan dengan pengawasan dokter atau konselor ahli.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Aborsi di Klinik&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Lakukan konseling sebelum anda melakukan tindakan aborsi. Melalui konseling anda akan mendapatkan informasi mmengenai berbagai pilihan, resiko dan kemungkinan komplikasi. Konseling dapat membantu anda mengambil keputusan yang bijak. Perlu diingat bahwa keputusan melakukan aborsi bukan keputusan yang mudah, dibutuhkan kesiapan mental, fisik dan finansial.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Jika aborsi dilakukan di klinik, dokter akan melakukan tes USG untuk mengetahui usia pasti kehamilan. Mengetahui usia pasti kehamilan penting untuk menentukan metode aborsi yang akan dilakukan. Dokter juga akan memeriksa kondisi kesehatan anda untuk memastikan tidak ada resiko besar selama dan setelah tindakan aborsi.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Secara umum perhatikan klinik yang anda pilih. Anda harus dengan jeli bisa mengidentifkasi proses yang terjadi di klinik, apakah menurut identifikasi anda klinik tersebut memenuhi standar kelayakan untuk sterilisasi alat atau tidak.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Gunakan hak anda sebagai klien untuk bertanya. Seringkali jika klinik tersebut klinik ilegal, dokter dan perawat tidak memberikan penjelasan mengenai prosedur aborsi maupun kondisi kesehatan anda.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Jika dokter tidak menawarkan check up pasca aborsi, anda berhak untuk memintanya. Atur jadwal untuk melakukan check up dua minggu atau satu bulan setelah tindakan.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Minta kontak yang bisa dihubungi jika sewaktu-waktu anda mengalami gejala yang berhubungan dengan tindakan aborsi dan membutuhkan konsultasi atau tindakan lebih lanjut. Jika dokter atau klinik tidak dapat memberikan kontak yang bisa dihubungi, bisa dipastikan klinik tersebut tidak peduli dengan anda dan hanya ingin mengambil keuntungan dari situasi anda.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Hal paling penting sebelum menentukan klinik aborsi. Lakukan tes USG satu hari sebelumnya di klinik atau rumah sakit yang berbeda. Seringkali klien ditipu dengan menyebutkan bahwa usia kehamilan lebih dari 10 minggu atau leih dari usia kehamilan yang sebenarnya sehingga klien harus membayar lebih mahal. Harap di ingat bahwa biaya aborsi semakin meningkat seiring dengan bertambahnya usia kehamilan. Jangan mau di tipu.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Aborsi dengan Obat&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Obat yang bisa digunakan untuk aborsi adalah kombinasi misopostol dan mifepristone. Di indonesia mifepristone tidak masuk di pasaran sehingga pilihan yang tersedia adalah misoprostol. Misoprostol masih tetap dapat digunakan meskipun tingkat efektifitasnya tidak sebesar jika dikombinasikan dengan mifepristone.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Jika aborsi dilakukan sendiri dengan menggunakan obat. Pastikan anda&amp;nbsp;mengkonsultasikan nya terlebih dahulu dengan dokter atau konselor. Konselor akan memberi anda informasi mengenai dosis, tata cara penggunaan, resiko dan komplikasi yang mungkin terjadi.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Pastikan bahwa anda meemberikan informasi yang benar mengenai usia kehamilan dan kondisi kesehatan anda. Karena pada kondisi kesehatan tertentu, penggunaan obat ini harus disertai dengan antibiotik, vitamin atau obat-obatan lainnya agar tidak memperburuk kondisi kesehatan anda.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Lakukan tes USG untuk mengetahui usia pasti kehamilan. Aborsi dengan obat efektif hingga usia kehamilan 9 minggu. Penggunaan obat hingga 12 minggu harus dibawah pengawasan dan pendampingan dari konselor karena protokol yang berbeda. Penggunaan obat di atas 9 minggu hingga 12 minggu harus mendapatkan konseling yang lebih mendalam untuk memastikan kesiapan mental klien menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Pastikan bahwa obat yang anda beli adalah obat asli. Jangan menerima obat yang tidak dalam kemasan. Berhati-hati dengan penjual obat di internet karena banyak kasus penipuan dengan modus menjual obat aborsi. Membeli obat langsung dari apotik atau bertemu langsung dengan penjual adalah cara paling efisien menghindari penipuan.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Lakukan perencanaan yang matang sebelum melakukan aborsi. Pastikan anda tidak jauh dari rumah sakit atau klinik terdekat yang bisa dijangkau kurang dari satu jam.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Jangan melakukan aborsi sendiri. Pastikan ada yang mendampingi anda jika sewaktu-waktu anda harus dilarikan ke rumah sakit.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Lakukan pencatatan mengenai jam berapa anda mulai mengkonsumsi obat, gejala apa yang dirasakan dan kapan mulai terjadi perdarahan.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Perhatikan perdarahan yang terjadi dan gumpalan atau hasil konsepsi yang keluar.. perdarahan biasanya akan berlangsung hingga 2 atau 3 minggu. Dengan memperhatikan proses ini anda dapat mengetahui apakah abrsi suda terjadi secara komlit atau tidak.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Jika beberapa hari setelah tindakan masih terasa nyeri akibat kontraksi, terjadi perdarahan hebat atau munculnya keputihan yang berbau, itu pertanda anda harus segera memeriksakan diri ke klinik. Jika berdasarkan pemeriksaan klinik masih ada jaringan yang tersisa maka anda harus menjalani prosedur kuret.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berbeda dengan gambaran di atas, ketika anda melakukan tindakan aborsi di klinik aborsi yang illegal, biasanya anda hanya datang pada saat prosedur aborsi dan setelah prosedur selesai di lakukan anda akan langsung pulang atau setidaknya hanya menginap semalam. Bahkan pada beberapa kasus banyak tindakan aborsi yang di lakukan di kamar hotel yang hanya di sewa untuk beberapa jam sehingga sehabis melakukan tindakan aborsi anda terpaksa harus segera check-out. Pada kasus yang lebih parah, bahkan seringkali tindakan aborsi dilakukan tanpa di beri obat penghilang rasa sakit atau pembiusan. Hal ini dapat mengakibatkan kemungkinan terjadinya post abortion syndrome akibat dari trauma yang menyakitkan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa akibatnya bila aborsi dilakukan secara tidak aman? Seringkali, aborsi yang dilakukan oleh bukan orang yang ahli akan memakai cara dan alat-alat yang tidak tepat. Untuk merusak dan memaksa janin keluar, rahim akan dipijat dan dimasuki alat atau benda ke dalamnya. Alat ini sering berupa benda tajam, telah tercemar dan tidak bersih. Misalnya bambu, alat penusuk atau selang yang tidak steril sering membuat infeksi rahim. Sebagai akibatnya, selain bisa kena infeksi, rahim itu bisa rusak atau robek dan selanjutnya bisa terjadi perdarahan hebat. Kemungkinan ke tiga, rahim akan terus menerus mengeluarkan darah dan cairan lain. Ini tentu akan berakibat kematian bagi si ibu bila tidak segera ditolong. Sementara itu, keadaan rahim yang tidak sehat ini bisa berkembang menjadi infeksi yang terus menerus, tumbuhnya sel baru, tumbuhnya sel ganas dan lain-lain.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak adanya tindak lanjut setelah melakukan prosedur aborsi akan sangat membahayakan kesehatan si perempuan di kemudian hari, bahkan pada beberapa kasus terjadi kematian akibat pendarahan yang hebat. Pada beberapa perempuan mungkin tidak terlihat adanya kelainan akibat prosedur aborsi yang tidak aman tapi bukan berarti tidak ada, biasanya infeksi atau trauma nya akan muncul beberapa bulan atau beberapa tahun ke depan, hanya banyak yang kemudian tidak menyadarinya.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;So, be smart and informed choice.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Love your body !&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433852997966109948-3590647690934007330?l=samsaraindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://abortus.blogspot.com/2011/05/aborsi-aman.html' title='Aborsi Aman'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/feeds/3590647690934007330/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2011/05/aborsi-aman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/3590647690934007330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/3590647690934007330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2011/05/aborsi-aman.html' title='Aborsi Aman'/><author><name>samsara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06928317136208780151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433852997966109948.post-7938816516812255526</id><published>2011-05-24T23:33:00.001+07:00</published><updated>2011-05-26T23:09:29.695+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Konseling Pasca Aborsi'/><title type='text'>Quiz</title><content type='html'>&lt;div class="text" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan umum yang dapat membantu anda untuk mempertimbangkan apakah anda mengalami stress pasca aborsi atau tidak. Pada bagian akhir terdapat informasi seputar&amp;nbsp;stress pasca aborsi&amp;nbsp;dan bagimana caranya mendapatkan bantuan jika anda menderita atau mengalami&amp;nbsp;stress pasca aborsi.&lt;/div&gt;&lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah anda merasa berjuang untuk melawan perasaan anda yang berhubungan dengan aborsi, mungkin dengan mengatakan pada diri anda berulang-ulang untuk melupakan kejadian tersebut dan terus melanjutkan hidup?&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah anda menghindari buku, majalah dan program televisi yang membahas bayi, kehamilan atau aborsi?&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah anda menghindari toko atau bagian tertentu di pusat pertokoan yang menjual barang-barang bayi atau ibu hamil?&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah anda terpengaruh oleh ingatan fisik seputar aborsi anda ( bayi, wanita hamil, dll)? Apakah anda merasa tidak nyaman berada di sekitar wanita hamil dan anak kecil?&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah anda merasa tidak nyaman berdiskusi mengenai kehamilan atau bayi?&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah masa menstruasi anda membingungkan anda?&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah tekanan darah anda mengganggu daripada biasanya?&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah anda menjadi gugup atau menghindari dokter atau klinik?&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah anda sekarang mengalami rasa takut menghadapi prosedurmedis seperti disuntik, dicabut gigi atau operasi lainnya?&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah anda pernah atau akan berbohong mengenai aborsi anda, atau jumlah aborsi yang pernah anda lakukan kepada dokter, teman atau keluarga anda? Misalnya dengan mengatakan bahwa anda tidak pernah aborsi atau mengatakan bahwa anda mengalami keguguran.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah anda terganggu oleh suara-suara tertentu, misalkan vakum cleaner atau suara mesin yang berisik?&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah ada waktu-waktu tertentu di mana anda merasa sangat depresi, sakit atau tersiksa, terutama di sekitar peringatan waktu di mana anda pernah melakukan aborsi?&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah anda merasa marah dan belum bisa memaafkan orang-orang yang terlibat dalam kejadian aborsi anda misalkan teman, pacar, keluarga, suami atau dokter yang melakukan prosedur aborsi tersebut?&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah anda sekarang tidak menggunakan pengontrol kehamilan? Apakah anda membuat situasi di mana anda bisa kembali mendapatkan kehamilan yang tidak di inginkan? (biosa jadi anda secara tidak sadar membuat diri anda kembali hamil untuk menggantikan bayi yang telah di aborsi.)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah anda mendapatkan masalah dengan keintiman secara emosional dengan pasangan anda semenjak aborsi?&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah anda menghindari seks, atau anda mengalami permasalahan sex ( rasa sakit, sulir orgasme atau tidak dapat menikmati sex) sejak aborsi&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah anda sekarang melakukan praktik seks yang tidak bertanggungjawab? Atau mungkin menunjukkan perbedaan dengan siapa anda melakukan hubungan seks?&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah anda pernah terfikir untuk mendapatkan “bayi pengganti”, terutama dengan lelaki yang sama. Dan berfikir bahwa perasaan bersalah akan pergi jika nda hamil kembali dan tetap meneruskan kehamilan tersebut?&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah anda masih tetap bersama dalam sebuah hubungan serius dengan lelaki yang sama ketika anda melakukan aborsi, dan tidak mau mengakhiri hubungan tersebut karena jika ya anda merasa aborsi tersebut tidak berarti apa-apa?&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah anda menikah atau terburu-buru menikah dengan lelaki yang tersebut untuk “membenarkan” melakukan aborsi?&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah anda memiliki obsesi tidak sehat dengan&amp;nbsp;&lt;b&gt;&lt;i&gt;excelling&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp;di tempat kerja atau sekolah untuk membantu “membenarkan” aborsi anda?&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah anda pernah mengalami depresi dalam periode yang panjang sejak aborsi anda&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah anda pernah terbersit untuk melakukan bunuh diri?&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah anda mengalami penaikan berat badan yang tidak terencana atau kehilangan berat badan yang drastis sejak melakukan aborsi??&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah anda menjadi mudah menangis dan lebih sering dari biasanya?&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah terjadi penggunaan obat-obatan atau alcohol atau menjadi lebih sering dari biasanya sejak aborsi?&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah anda mulai melakukan sesuatu yang menyakiti diri sendiri ( menyilet, anorexia, bulimia,dll?&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah anda mengalami masalah tidur? ( sulit tidur, tidur tidak nyenyak, mimpi buruk atau tidur terlalu lama )&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah dihantui mimpi buruk mengenai bayi, bermimpi melihat seorang anak dalam bahya atau mimpi buruk lainnya yang berhubungan dengan aborsi?&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah anda mengalami masalah kecemasan atau terserang panik?&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah anda pernah merasa berhalusinasi mendengar tangisan bayi atau mendengar suara anak kecil memanggil anda? Apakah anda dapat berbicara mengenai kejadian aborsi anda? Ketika berbicara mengenai itu apakah merasa memiliki perasaan yang kuat?&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah anda kadang-kadang merasa bersalah atau menyesal mengenai aborsi anda?&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jika anda memiliki anak sekarang, apakah anda akan mencintai mereka sepenuhnya atau menjadi over protektif terhadap mereka? Apakah anda khawatir mereka akan terluka?&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jika anda memiliki anak sekarang, apakah anda akan menjaga jarak perasaan anda dengan mereka dan merasa tidak dapat “terikat” dengan mereka?&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jika anda tidak punya anak, apakah anda takut tidak dapat memiliki anak lagi? (selain karena takut akan terulang aborsi, juga karena anda percaya akan karma)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah anda sering memperhatikan bayi atau anak kecil lain dan berfikir mungkin bayi atau anak anda&amp;nbsp;&lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;&amp;nbsp;terlihat seperti mereka?&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah anda sering memperhatikan bayi atau anak kecil lain dan berfikir mungkin bayi atau anak anda akan seumuran dengan mereka jika saja masih ada?&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah anda memperhatikan perempuan hamil dan mengandai-andaikan situasi anda sama dengan mereka?&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah anda merasakan sesuatu yang tidak nyaman di perut anda ketika berdiskusi atau berdebat mengenai isu pro-life atau pro-choice? Atau anda justru menghindari topic-topik tersebut?&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah anda enderung melihat hidup anda sebagai masa :”sebelum” dan “sesudah” aborsi?&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah konsep diri dan rasa percaya diri anda berubah sejak anda aborsi?&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah anda sulit membuat keputusan sejak melakukan aborsi?&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apakah hubungan anda, konsep ketuhanan anda, atau konsep karma dan takdir yang anda percayai, berubah setelah melakukan aborsi/&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;Jika anda menjawab 3 atau lebih dari pertanyaan tersebut dengan jawaban “Ya” atau menjawab berbagai pertanyaan tersebut dengan rasa marah, atau bingung dengan emosi yang anda rasakan setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, bisa jadi anda memang mederita&amp;nbsp;stress pasca aborsi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;Stress pasca aborsi&amp;nbsp;dapat terjadi ketika seorang wanita tidak dapat menghadapi respon emosional yang dirasakannya setelah mengalami trauma akibat aborsi.&amp;nbsp;Stress pasca aborsi&amp;nbsp;dapat terjadi dalam hitungan hari atau berbulan-bulan kemudiansetelah aborsi, atau bahkan bisa saja tidak muncul ke permukaan hingga bertahun-tahun kemudian. Banyak perempuan merasa takut untuk membicarakan hal tersebut, merasa sangat malu dan tidak menyadari bahwa hal tersebut bisa mempengaruhi mereka. Perempuan bahkan takut untuk membicarakannya dengan dokter atau konselor mereka. Beberapa perempuan merasa baik-baik saja setelah melakukan aborsi, kemudian jika nanti mereka mengalami masalah kesuburan atau mengalami keguguran,&amp;nbsp;Stress pasca aborsi&amp;nbsp;dapat tiba-tiba muncul. Banyak perempuan yang merasa ketidaksuburan dan keguguran kandungan adalah hukuman atas sebuah aborsi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://draft.blogger.com/post-edit.g?blogID=6433852997966109948&amp;amp;postID=7938816516812255526" name="pass"&gt;&lt;/a&gt;Jika anda berfikir bahwa anda mungkin menderita stress akibat&amp;nbsp;Stress pasca aborsi, apakah yang bisa anda lakukan untuk mendapatkan bantuan? Anda bisa menemui psikolog atau psikiater untuk meminta bantuan terapi, atau anda dapat bisa menghubungi konselor Samsara untuk sharing dan mendapatkan masukan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433852997966109948-7938816516812255526?l=samsaraindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/feeds/7938816516812255526/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2011/05/quiz.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/7938816516812255526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/7938816516812255526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2011/05/quiz.html' title='Quiz'/><author><name>samsara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06928317136208780151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433852997966109948.post-4042730523710446409</id><published>2011-05-24T23:26:00.001+07:00</published><updated>2011-05-26T23:09:50.775+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Deal with it'/><title type='text'>Mengatasi Kegelisahan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kegelisahan di definisikan sebagai emosi tidak menyenangkan / menenangkan yang merupakan bentuk psikis dari suatu ketakutan. Perempuan post-abortive yang gelisah biasanya mengalami berbagai keadaan seperti :&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Tertekan ( tidak bisa tenang, sulit terganggu atau menjadi sensitif )&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Gangguan fisik ( sakit kepala, mual, sakit perut, pusing, sakit kepala )&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Gangguan tidur&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Khawatir akan masa depan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kegelisahan ini muncul akibat tidak adanya sense of security, ada konflik dalam kehidupannya yang secara sadar ataupun tidak sadar di pendam dan tidak di selesaikan. Menurut Masslow and Mittelman dalam bukunya ” Principles of Abnormal Psychology ” salah satu kriteria pribadi normal dengan mental yang sehat adalah dengan adanya sense of security ini. Tidak adanya rasa aman ini dapat menimbulkan permasalahan psikologis yang lebih rumit. Salah satu cara untuk mencapai mental yang sehat adalah dengan beradaptasi terhadap keadaan baru, dalam hal ini seorang post-abortus diharapkan mampu memberi respon yang tepat pada permasalahan yang dihadapinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Konflik yang terjadi antara standar moral dan keputusannya untuk melakukan aborsi lah yang menyebabkan kegelisahan ini. Seringkali perempuan post-abortive menyangkal dan tidak mau menghubungkan kegelisahannya tersebut dengan tindakan aborsi yang pernah di lakukannya, hingga kemudian secara tidak sadar ia mulai menghindari apapun yang berhubungan dengan bayi/anak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kegelisahan di definisikan sebagai emosi tidak menyenangkan/menenangkan yang merupakan bentuk psikis dari suatu ketakutan. Berdasarkan definisi tersebut maka kegelisahan berakar dari ketakutan, ketakutan di sini bisa berarti banyak hal seperti ketakutan menghadapi kenyataan atau ketakutan akan terulangnya kembali peristiwa traumatis, dll.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kegelisahan bisaanya berpangkal dari fikiran. Kegelisahan kadang-kadang di perlukan untuk membuat kita lebih berhati-hati, namun kegelisahan yang terlalu berlebihan dapat menjebak kita pada situasi di mana kita tidak dapat mengambil keputusan. Pada kondisi seperti itu maka hidup kita menjadi stagnan dan labil. Satu kegelisahan bisaanya diikuti oleh kegelisahan lainnya dan pada akhirnya menjadi sebuah lingkaran setan yang memenjarakan anda pada kondisi yang itu-itu juga.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagi seorang post-abortus mungkin ketakutan di sini bisa di artikan ketakutan ketika di hadapkan pada kenyataan sekitarnya, misalnya ketakutan tidak diterima oleh orang-orang yang di kasihi, kegelisahan akan judgment dan penerimaan orang lain, bagaimana tanggapan orang lain jika mengetahui dirinya seorang post-abortus, reaksi keluarganya, atau ketakutan kehilangan pasangan yang menjadi ayah dari janin yang di aborsinya, atau bisa juga ketakutan akan dosa dan murka tuhan. Secara garis besar ketakutan di sini adalah ketakutan akan judgement orang lain terhadap dirinya dan kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada dirinya sebagai pertanggung jawaban atas tindakannya. Hal itu pulalah yang pada akhirnya mencegah seorang post abortus mencari bantuan untuk keluar dari permasalahannya dan akhirnya terjebak dalam berbagai kondisi yang menghantuinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketakutan hanya akan bisa di atasi dengan menaklukannya, selama ketakutan itu hanya ada dalam fikiran maka ketakutan akan terus menghantui kita dan menjadi sumber kegelisahan yang tak putus.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kegelisahan akan terus memancing reaksi negatif dari alam bawah sadar anda yang akan mengirimkan berbagai sinyal ke tubuh dan emosi anda. Itu sebabnya orang-orang yang gelisah kemudian mengalami berbagai gangguan tidur, mimpi buruk atau gangguan kesehatan yang ringan tapi terus menerus.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cari tahu apa sumber kegelisahan anda dan bicarakan dengan seorang terapis atau orang yang anda percaya untuk memahami dan melaluinya, hanya dengan menghadapinya anda dapat menaklukan kegelisahan anda, semakin anda menyembunyikannya maka kegelisahan tersebut akan semakin memburuk.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain itu anda juga dapat mencoba tips berikut untuk mengurangi kegelisahan anda :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Kurangi waktu luang anda yang memungkinkan anda memikirkan kegelisahan anda dengan mengisinya dengan berbagai aktifitas positif, atau lakukan aktifitas yang lumayan berat sehingga tubuh anda lelah dan tidak punya cukup waktu untuk memikirkan kegelisahan anda. Ketika tubuh anda lelah maka anda akan semakin cepat tidur untuk mengistirahatkan fisik anda.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Berfikir positif tentang apapun dalam hidup anda, hilangkan fikiran negatif dari kepala anda. Jika anda mengirim sinyal positif maka anda akan menadapat sinyal balik berupa hal positif begitu juga sebaliknya.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Beri pengaruh positif terhadap fikiran anda dengan membaca buku-buku atau menonton film atau mengobrol dengan orang-orang yang dapat menginspirasi dan memberi anda dukungan.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Untuk lebih rileks, anda dapat mencoba berbagai aroma therapi yang dapat membantu anda merasa lebih rileks dan lebih tenang.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Ingat kembali apa yang anda suka dan apa impian hidup anda, mulailah melakukan kegiatan-kegiatan yang tidak pernah berani anda lakukan, ambil resiko untuk melakukan hal-hal yang anda sukai dan nikmatilah hidup anda.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Cari lah teman berbagi yang bisa mengerti dan memahami anda, ekspresikan perasaan anda dan belajarlah untuk mulai membuka diri.&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Singkirkan berbagai perasaan negatif anda dan alihkan terhadap hal-hal positif yang dapat membantu anda merasa lebih baik.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lepaskanlah kegelisahan anda karena pada dasarnya kegelisahan anda adalah mesin perusak yang mencegah anda dari mengambil kesempatan emas yang menjadi hak anda. Sadarilah bahwa kegelisahan datang dari dalam fikiran anda dan belum tentu orang lain akan bereaksi seperti yang anda bayangkan. Seringkali ketika Tuhan turut campur dalam urusan manusia, maka segala prasangka dan ketakutan manusia tak terbukti.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433852997966109948-4042730523710446409?l=samsaraindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/feeds/4042730523710446409/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2011/05/mengatasi-kegelisahan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/4042730523710446409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/4042730523710446409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2011/05/mengatasi-kegelisahan.html' title='Mengatasi Kegelisahan'/><author><name>samsara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06928317136208780151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433852997966109948.post-7385241508254958634</id><published>2011-05-24T23:02:00.000+07:00</published><updated>2011-05-24T23:02:34.172+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Konseling Pasca Aborsi'/><title type='text'>Gangguan Emosional Pasca Aborsi</title><content type='html'>Oleh : Inna Hudaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kemarahan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para perempuan post-abortive biasanya mengekspresikan rasa bersalah dan malunya melalui kemarahan yang di tujukan pada dirinya dan orang-orang yang terlibat dalam membuat keputusan aborsi seperti pasangan, teman, dokter atau keluarganya. Dia juga bisa menunjukkan kemarahan pada anak nya nanti, biasanya dengan melakukan penolakan atau menyakitinya secara fisik. menurut sebuah penelitian di amerika, 10 tahun sejak di legalkan aborsi, angka kekerasan pada anak meningkat lebih dari 500%. ( US Dept. of HHS 1991) sebuah studi menunjukkan bahwa 91% kekerasan pada anak terjadi pada kehamilan yang di rencanakan pada pasangan yang sebelumnya pernah melakukan aborsi ( University of Southern California Profesor Edward lenoski, Heartbeat, Vol 3, no 4, Dec 1980 ). Hal ini terjadi karena para orangtua terutama si Ibu merasa bersalah dan menjadi depresi karena tidak merasa terikat pada sang anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarahan ini biasanya akan semakin parah ketika seorang post-abortus tidak dapat mengendalikan emosinya sehingga akan membias ke berbagai kondisi emosi lainnya yang saling bertumpuk menimbulkan depresi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Insomnia dan Mimpi Buruk&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu gejala sindrom paska aborsi adalah adanya gangguan tidur, salah satu yang akan kita bahas di sini adalah mengenai insomnia dan mimpi buruk. Insomnia adalah keadaan di mana seseorang sulit untuk tidur. Perempuan lebih rentan menserita insomnia daripada lelaki. Pada perempuan post-abortus, insomnia biasanya disebabkan kegelisahan dan stress yang berkepanjangan. Fikiran yang gelisah membuat seseorang sulit untuk merasa tenang. Mimpi buruk adalah suatu mimpi yang sangat mengganggu keadaan emosional, biasanya orang tersebut akan terbangun dari tidurnya dengan perasaan cemas dan takut. Mimpi buruk adalah sub kategori dari mimpi. Yang membedakan mimpi buruk adalah perasaan takut dan/atau perasaan-perasaan lainnya yang dihasilkan oleh mimpi tersebut. Anda cenderung untuk bangun dengan perasaan takut di tengah-tengah mimpi buruk. Karena perasaan takut yang dihasilkan, anda cenderung untuk mengingat mimpi buruk dan detail yang sangat jelas. Hal ini menjadi semakin buruk jika gambaran mimpi tersebut terus menetap dalam fikiran seseorang. Mimpi buruk tipe ini masuk ke dalam kategori spesial yang disebut Post Traumatic Stress Nightmare (PSN). Mimpi-mimpi buruk ini bisa terjadi karena kita mengabaikan dan menolak untuk menerima situasi tertentu di dalam kehidupan. Mimpi buruk juga bisa menjadi alarm bawah sadar yang mencoba menginformasikan terhadap alam sadar bahwa ada permasalahan yang harus di hadapi. Ini adalah waktunya untuk menanggapi dan memperhatikan satu masalah atau situasi. Mimpi buruk mempunyai tugas yang penting untuk menunjukkan anda apa yang menganggu anda dari dalam diri anda yang lebih dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Depresi dan Merasa Kehilangan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya disebut sebagai “post-abortion blues”, terjadi dalam rentang waktu beberapa lama dari aborsi, namun berkepanjangan, depresi yang berat yang tidak biasa. Depresi adalah mood yang bercampur antar rasa sedih, rasa bersalah, penyesalan dan merasa putus asaBanyak yang bertanya bagaimana seorang perempuan post-abortus merasa kehilangan akan bayi yang pernah dikandungnya. Kenyataannya banyak para perempuan yang melakukan aborsi secara sadar akan konsekuensinya tetap saja merasakan rasa kehilangan. Hal ini bisa di pahami, walaubagaimanapun bayi tersebut pernah ada dalam tubuhnya. Ketika janin tersebut mulai tumbuh, ia telah membentuk sebuah ikatan yang kuat dengan si ibu. Ketika janin tersebut diaborsi, keluar dari tubuhnya maka tubuh merasakan ada bagian yang hilang tersebut dan biasanya ini tercermin pada perasaan si ibu.Kedekatan secara fisik ini yang menyebabkan kenapa perempuan lebih banyak merasa kehilangan akan bayi yang pernah di aborsinya daripada si pihak lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa perempuan post-abortive merasa telah di lumpuhkan oleh depresi ini hingga ia tidak lagi merasa tertarik pada seseorang atau apapun sejak terjadinya aborsi. Tangisan yang tidak terkontrol dan dapat terjadi kapan dan di mana saja, dapat terjadi setiap hari bahkan hingga bertahun-tahun lamanya.Para perempuan post-abortive juga merasakan reaksi yang negatif ketika mereka melihat bayi atau perempuan hamil di sekitar mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Gagal Dalam Hubungan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tindakan aborsi biasanya dilakukan untuk tetap dapat menjaga hubungan dengan pasangan. Namun menurut seorang advokat Linda Bird Franck, kebanyakan hubungan akan tetap gagal baik itu sebelum ataupun setelah aborsi ( Rearddon, p.123-124). Justru tindakan aborsi dapat mempengaruhi seseorang dalam membina hubungan baik karena kurangnya rasa percaya diri dan ketidakmampuan untuk bisa mempercayai pasangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang post-abortus yang merasa gelisah dan tidak mampu mengendalikan emosinya, secara tidak langsung akan mempengaruhi lingkungan sekitarnya. Ketika seseorang kehilangan kepercayaan dirinya dan kehilangan kendali atas dirinya maka kemampuan berinteraksi sosialnya akan terganggu, itulah yang kemudian membuat hubungan nya dengan pasangan, keluarga atau relasi lainnya mengalami kegagalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Disfungsi Seksual&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan seksual bisa terjadi pada perempuan post-abortus. Biasanya para perempuan yang mengalami trauma ini akan merasakan gairah seksual nya berkurang, atau justru sebaliknya. Pada beberapa perempuan yang menyimpan amarah begitu dalam, gangguan ini bisa berubah menjadi aktivitas seksual yang tak terbendung hingga berganti-ganti pasangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frigiditas adalah kebekuan atau ketidakmampuan seorang perempuan mengalami hasrat-hasrat seksual atau mengalami orgasme pada saat bersenggama. Biasanya frigiditas ini terjadi karena beberapa factor ( di sini kita akan memahas yang berhubungan dengan aborsi) :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organis, karena adanya kelainan pada organ seksual misalnya pada rahim atau vagina. misalnya, ganguan kelainan bawaan pada vagina, seperti lubang terlalu sempit atau liang vagina pendek. Kelainan pada otot dan ganguan jaringan saraf, dan tumor pada alat kelamin. Ganguan ini akan menimbulkan rasa sakit saat melakukan hubungan intim. Perempuan post-abortus yang mengalami trauma akibat aborsi yang menyakitkan atau terjadi infeksi biasanya mengalami gangguan pada bagian organ seksualnya. Hal ini dapat mengakibatkan rasa sakit pada saat bersenggama, sehingga hasrat seksual cenderung berkurang. Hormon juga berpengaruh, wanita usia menopause biasanya produksi hormon estogen menurun sehingga berdampak pada organ intim, seperti vagina kering, gatal dan iritasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relasi social yang tidak mapan, biasanya terjadi jika ada masalah dengan pasangan seksualnya. Jika perempuan post-abortus masih merasakan amarah pada pasangannya yang turut serta berperan dalam tindakan aborsi, hal ini dapat merembet ke hubungan seksual.&lt;br /&gt;Psikologis. Kondisi psikologis seseorang sangat berpengaruh dalam hubungan seksual. Seseorang yang merasakan kegelisahan dan perasaan tidak nyaman tidak dapat ,menikmati hubungan seksual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan lain yang mungkin terjadi adalah vaginismus,yaitu kejang urat yang sangat menyakitkan pada bagian vagina. Fungsi vagina dapat menjadi abnormal dengan adanya kontraksi-kontraksi yang dapat sangat menyakitkan. vaginismus terbagi menjadi beberapa kategori berdasarkan penyebabnya. Gangguan yang mungkin terjadi pada perempuan post-abortus adalah Vaginismus jenis psikogen sekunder, yaitu akibat adanya rasa penolakan secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan hubungan seksual. Ada rasa antipati atau rasa tidak mapan terhadap partner seksnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Drug Abuse&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada beberapa kasus, penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan alkohol merupakan hal paling klasik yang biasa terjadi pada perempuan post-abortus. Hal ini dilakukan untuk menutupi rasa gelisah dan rendah diri akibat trauma tersebut. Obat-obatan dan alkohol biasanya menjadi jalan paling mudah yang di pilih untuk mengurangi kegelisahan dan emosi-emosi negatif akibat aborsi. Dengan mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang mereka dapat mengalihkan emosi-emosi mereka yang berhubungan dengan kejadian aborsi. Untuk mengaburkan fikiran negatif, kegelisahan dan mengurangi kecemasan, sebagian mengalihkannya pada obat-obatan dan alcohol. Namun obat-obatan dan alkohol tidak dapat membantu menyelesaikan permasalahan selain hanya menunda dan menimbunnya. Karena permasalahan yang tidak selesai dan kebutuhan untuk mencari ketenangan terus meningkat maka pemakaian obat-obatan dan alcohol pun akan terus berkelanjutan selain karena memang efeknya yang adiktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obat-obatan yang biasanya digunakan adalalah obat penenang seperti amphetamine. Dengan mengkonsumsi obat ini biasanya seseorang dapat melupakan konflik-konflik yang terjadi di dalam kehidupannya. Dalam keadaan yang yang sangat darurat biasanya psikiater akan memberikan obat jenis ini untuk mengurangi penderitaan psikis pasiennya. Namun pemakaian yang terus-menerus akan mengakibatkan ketergantungan. Jenis lainnya adalah morphin yang biasanya dipakai untuk mengurangi rasa sakit dan keresahan hati, biasanya pemakai menjadi gembira dan bergairah dan dapat tidur nyenyak. Untuk sesaat permasalahan-permasalah atau konflik bathin dalam dirinya akan terlupakan sehingga seseorang merasa lebih baik, namun sebenarnya permasalahan tersebut tetap ada, hanya saja mengendap. Satu-satunya penyelesaian terbaik adalah dengan menghadapi dan menyelesaikan permasalahan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam jangka waktu yang cukup lama ketergantungan atau candu obat-obatan ini akan mengakibatkan berbagai symptom fisik ataupun psikis. Secara fisik, si pecandu akan merasa kehilangan nafsu makan, haus, gangguan pencernaan, sembelit dll. Secara psikis biasanya mengakibatkan sulit konsentrasi, pelupa, kehilangan ambisi, dipenuhi rasa ketakutan, kepedihan, euphoria, putus asa dll.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433852997966109948-7385241508254958634?l=samsaraindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/feeds/7385241508254958634/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2011/05/gangguan-emosional-pasca-aborsi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/7385241508254958634'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/7385241508254958634'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2011/05/gangguan-emosional-pasca-aborsi.html' title='Gangguan Emosional Pasca Aborsi'/><author><name>samsara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06928317136208780151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433852997966109948.post-5658782011173343092</id><published>2011-05-24T21:49:00.000+07:00</published><updated>2011-05-24T21:49:13.792+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Konsep Dasar Aborsi'/><title type='text'>Metode Aborsi</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="line-height: 24px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;Metode aborsi tergantung pada masa/umur Kehamilan, mengetahui umur pasti kehamilan sangat penting untuk menentukan metode aborsi yang paling tepat dan aman. pada umumnya metode aborsi dikategorikan menjadi dua :&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Surgical abortion&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp;atau aborsi dengan tindakan merupakan metode aborsi yang aman dan efektif yang dilakukan melalui prosedur operasi dengan menggunakan peralatan tertentu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Medical abortion&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp;merupakan metode aborsi yang dilakukan dengan menggunakan obat-obatan tertentu untuk menghentikan kehamilan, biasanya dilakukan dibawah pengawasan dokter dan efektif pada trimester pertama atau kehamilan. Jika menggunakan metode ini di atas trimester pertama, metode ini harus digabung dengan metode tindakan&lt;a href="file:///C:/Users/samsara/Downloads/MODUL%20KONSELING%20ABORSI_lengkap%20dg%20pendahuluan%20n%20kt%20pengantar.docx#_ftn1"&gt;[7]&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;1) TRIMESTER PERTAMA ( 5-12 minggu )&lt;a href="file:///C:/Users/samsara/Downloads/MODUL%20KONSELING%20ABORSI_lengkap%20dg%20pendahuluan%20n%20kt%20pengantar.docx#_ftn2"&gt;[8]&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Pil Aborsi/Pil RU-486&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Teknik ini menggunakan 2 hormon sintetik yaitu mifepristone dan misoprostol. Kerja RU 486 adalah untuk memblokir hormon progesteron yang berfungsi vital untuk menjaga jalur nutrisi ke plasenta tetap lancar. Karena pemblokiran ini, maka janin tidak mendapatkan makanannya lagi dan menjadi kelaparan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Di Amerika Serikat, prosedur ini dijalani dengan pengawasan ketat dari klinik aborsi yang mengharuskan kunjungan sedikitnya 3 kali ke klinik tersebut. Pada kunjungan pertama, wanita hamil tersebut diperiksa dengan seksama. Jika tidak ditemukan kontra-indikasi (seperti perokok berat, penyakit asma, darah tinggi, kegemukan, dll) yang malah dapat mengakibatkan kematian pada wanita hamil itu, maka ia diberikan pil RU 486&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Suntikan Methotrexate (MTX)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;MTX disuntikkan ke dalam tubuh. MTX pada mulanya digunakan untuk menekan pertumbuhan pesat sel-sel, seperti pada kasus kanker, dengan menetralisir asam folat yang berguna untuk pemecahan sel. MTX menekan pertumbuhan trophoblastoid - selaput yang menyelubungi embrio yang juga merupakan cikal bakal plasenta. Trophoblastoid tidak saja berfungsi sebagai sistem penyangga hidup untuk janin yang sedang berkembang, mengambil oksigen dan nutrisi dari darah calon ibu, serta membuang karbondioksida dan produk-produk buangan lainnya, tetapi juga memproduksi hormon HCG (human chorionic gonadotropin). Corpus luteum terus memproduksi hormon progesteron yang berguna untuk mencegah gagal rahim dan keguguran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Karena kekurangan nutrisi, maka janin menjadi mati. 3-7 hari kemudian, tablet misoprostol dimasukkan ke dalam vagina untuk memicu terlepasnya janin dari rahim. Terkadang, hal ini terjadi beberapa jam setelah masuknya misoprostol, tetapi sering juga terjadi perlunya penambahan dosis misoprostol. Hal ini membuat cara aborsi dengan menggunakan suntikan MTX dapat berlangsung berminggu-minggu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Aspiration Vacuum Manual (AMV)&lt;a href="file:///C:/Users/samsara/Downloads/MODUL%20KONSELING%20ABORSI_lengkap%20dg%20pendahuluan%20n%20kt%20pengantar.docx#_ftn3"&gt;[9]&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Biasanya dilakukan pada usia kehamilan 6-12 minggu. AMV dikenal juga sebagai menstrual extraction atau suction curettage, Dilakukan oleh dokter di klinik, proses sekitar 5 menit.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Metode D&amp;amp;C&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Dilakukan pada usia kehamilan 12-15 minggu . Prosedur sama dengan AMV, hanya didahului dengan kuret, baru dengan suction/penghisap. Proses kurang lebih 10 menit&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;2) TRIMESTER KEDUA (Minggu ke-13 – 24)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Urea&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Suntikan yang biasa dipakai adalah hipersomolar urea. Metode ini kurang efektif dan biasanya harus dibarengi dengan asupan hormon oxytocin atau prostaglandin agar dapat mencapai hasil maksimal. Gagal aborsi atau tidak tuntasnya aborsi sering terjadi dalam penggunaan metode ini, sehingga operasi pengangkatan janin harus dilakukan. Seperti teknik suntikan aborsi lainnya, efek samping yang sering ditemui adalah pusing atau muntah-muntah. Masalah umum dalam aborsi pada trimester kedua adalah perlukaan rahim, yang berkisar dari perlukaan kecil hingga perobekan rahim. Antara 1-2% dari pasien pengguna metode ini terkena endometriosis /peradangan dinding rahim.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Prostaglandin&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Prostaglandin merupakan hormon yang diproduksi secara alami oleh tubuh dalam proses melahirkan. Injeksi dari konsentrasi buatan hormon ini ke dalam air ketuban memaksa proses kelahiran berlangsung, mengakibatkan janin keluar sebelum waktunya dan tidak mempunyai kemungkinan untuk hidup sama sekali. Sering juga garam atau racun lainnya diinjeksi terlebih dahulu ke cairan ketuban untuk memastikan bahwa janin akan lahir dalam keadaan mati, karena tak jarang terjadi janin lolos dari trauma melahirkan secara paksa ini dan keluar dalam keadaan hidup. Efek samping penggunaan prostaglandin tiruan ini adalah bagian dari ari-ari yang tertinggal karena tidak luruh dengan sempurna, trauma rahim karena dipaksa melahirkan, infeksi, perdarahan, gagal pernafasan, gagal jantung, dan perobekan rahim.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Dilation and Evacuation (D&amp;amp;E)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Dilakukan pada usia kehamilan 15-21 minggu, metode ini merupakan kombinasi VAM dan D&amp;amp;C. Ultrasound dilakukan sebelum D &amp;amp; E untuk menentukan ukuran rahim dan jumlah minggu kehamilan. Suatu alat yang disebut dilator dimasukkan di leher rahim 24 jam sebelum prosedur untuk membantu mulut rahim membuka perlahan. Misoprostol mungkin juga akan diberikan beberapa jam sebelum operasi. Obat ini dapat membantu melunakkan leher rahim. Membutuhkan waktu 30 menit&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Penyedotan ( Suction &amp;amp; Curretage)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Teknik inilah yang paling banyak dilakukan untuk kehamilan usia dini. Ketelitian dan kehati-hatian dalam menjalani metode ini sangat perlu dijaga guna menghindari robeknya rahim akibat salah sedot yang dapat mengakibatkan perdarahan hebat yang terkadang berakhir pada operasi pengangkatan rahim. Peradangan dapat terjadi dengan mudahnya jika masih ada sisa-sisa plasenta atau bagian dari janin yang tertinggal di dalam rahim.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;hr align="left" size="1" width="33%" /&gt;&lt;div id="ftn1"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn6"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;a href="file:///C:/Users/samsara/Downloads/MODUL%20KONSELING%20ABORSI_lengkap%20dg%20pendahuluan%20n%20kt%20pengantar.docx#_ftnref1"&gt;[7]&lt;/a&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Spitz, I.M; Bardin, CW; Benton, L; Robbins, A (1998). "Early pregnancy termination with mifepristone and misoprostol in the United States". New England Journal of Medicine 338 (18): 1241.&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Digital_object_identifier"&gt;doi&lt;/a&gt;:&lt;a href="http://dx.doi.org/10.1056%2FNEJM199804303381801"&gt;10.1056/NEJM199804303381801&lt;/a&gt;.&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/PubMed_Identifier"&gt;PMID&lt;/a&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/9562577"&gt;9562577&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;a href="file:///C:/Users/samsara/Downloads/MODUL%20KONSELING%20ABORSI_lengkap%20dg%20pendahuluan%20n%20kt%20pengantar.docx#_ftnref2"&gt;[8]&lt;/a&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.earlyabortion.com/early-abortion-methods.htm"&gt;http://www.earlyabortion.com/early-abortion-methods.htm#abortion&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: normal; margin-bottom: 0cm; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;a href="file:///C:/Users/samsara/Downloads/MODUL%20KONSELING%20ABORSI_lengkap%20dg%20pendahuluan%20n%20kt%20pengantar.docx#_ftnref3"&gt;[9]&lt;/a&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.earlyabortion.com/early-abortion-methods.htm"&gt;http://www.earlyabortion.com/early-abortion-methods.htm#aspiration&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433852997966109948-5658782011173343092?l=samsaraindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/feeds/5658782011173343092/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2011/05/metode-aborsi_24.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/5658782011173343092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/5658782011173343092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2011/05/metode-aborsi_24.html' title='Metode Aborsi'/><author><name>samsara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06928317136208780151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433852997966109948.post-3754561352806695734</id><published>2011-05-24T21:43:00.001+07:00</published><updated>2011-05-24T21:44:45.014+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Konsep Dasar Aborsi'/><title type='text'>Definisi dan Jenis Aborsi</title><content type='html'>&lt;div style="line-height: 24px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;Kata aborsi diserap dari bahasa Inggris yaitu abortion yang berasal dari bahasa latin yang berarti pengguguran kandungan atau keguguran. “&amp;nbsp;&lt;i&gt;abortion is&amp;nbsp;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;the termination of a pregnancy after, accompanied by, resulting in, or closely followed by the death of the embryo or fetus: as&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;a&lt;/strong&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;:&lt;/strong&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;spontaneous expulsion of a human fetus during the first 12 weeks of gestation&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;b&lt;/strong&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;:&lt;/strong&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;induced expulsion of a human fetus&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;c&lt;/strong&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;:&lt;/strong&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;expulsion of a fetus by a domestic animal often due to infection at any time before completion of pregnancy.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;”&lt;/span&gt;&lt;a href="file:///C:/Users/samsara/Downloads/MODUL%20KONSELING%20ABORSI_lengkap%20dg%20pendahuluan%20n%20kt%20pengantar.docx#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 18px;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 24px; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;Definisi aborsi adalah penghentian kehamilan dengan alasan apapun sebelum buah kehamilan dapat bertahan hidup di luar kandungan ibunya. “&lt;i&gt;The term "abortion" refers to the termination of pregnancy from whatever cause before the fetus is capable of extrauterine life. "Spontaneous abortion" refers to those terminated pregnancies that occur without deliberate measures, whereas "induced abortion" refers to termination of pregnancy through a deliberate intervention intended to end the pregnancy.” (WHO, 1994&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 24px; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;Dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana, disebutkan bahwa aborsi adalah pengeluaran hasil konsepsi pada setiap stadium perkembangannya sebelum masa kehamilan yang lengkap tercapai (38-40 minggu) atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan (berat kurang dari 500 gram atau kurang dari 20 minggu).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 24px; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="line-height: 24px;"&gt;Sedangkan dunia kedokteran berpendapat bahwa janin yang lahir dengan berat badan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 24px;"&gt;kurang atau sama dengan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="line-height: 24px;"&gt;500 gram tidak mungkin hidup di luar kandungan, Karena janin dengan berat badan 500 gram sama dengan usia kehamilan 22 minggu, maka kelahiran janin di bawah 22 minggu dianggap sebagai aborsi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 24px; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="line-height: 24px;"&gt;Berdasarkan alasannya, aborsi dibagi menjadi 2 jenis,yaitu :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 24px; margin-bottom: 0.0001pt; margin-left: 42.55pt; margin-right: 0cm; margin-top: 10pt; text-align: justify; text-indent: -1cm;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="line-height: 24px;"&gt;1.&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="line-height: 24px;"&gt;Spontaneous Abortion&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 24px; margin-bottom: 0.0001pt; margin-left: 42.55pt; margin-right: 0cm; margin-top: 10pt; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;Aborsi spontaneous atau dikenal sebagai keguguran merupakan proses keluarnya embrio atau fetus akibat kecelakaan, ketidaksengajaan&amp;nbsp; atau penyebab alami lainnya yang mengakibatkan terhentinya kehamilan sebelum minggu ke-22.&lt;a href="file:///C:/Users/samsara/Downloads/MODUL%20KONSELING%20ABORSI_lengkap%20dg%20pendahuluan%20n%20kt%20pengantar.docx#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 18px;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp; Aborsi spontan merupakan proses yang terjadi sendiri tanpa campur tangan manusia.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="line-height: 24px; margin-bottom: 0.0001pt; margin-left: 42.55pt; margin-right: 0cm; margin-top: 10pt; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="line-height: 24px;"&gt;Secara global, 10%-50% kehamilan berakhir dengan keguguran, tergantung usia dan kesehatan perempuan hamil&lt;a href="file:///C:/Users/samsara/Downloads/MODUL%20KONSELING%20ABORSI_lengkap%20dg%20pendahuluan%20n%20kt%20pengantar.docx#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="line-height: 18px;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Kebanyakan keguguran terjadi di masa awal kehamilan, pada kebanyakan kasus biasanya perempuan bahkan tidak menyadari dirinya sedang hamil. Sebuah riset menunjukan bahwa 61.9% keguguran terjadi sebelum kehamilan berusia 12 minggu, dan 91,7% diantaranya terjadi tanpa sepengetahuan si perempuan&lt;a href="file:///C:/Users/samsara/Downloads/MODUL%20KONSELING%20ABORSI_lengkap%20dg%20pendahuluan%20n%20kt%20pengantar.docx#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="line-height: 18px;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 24px; margin-bottom: 0.0001pt; margin-left: 42.55pt; margin-right: 0cm; margin-top: 10pt; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;Berdasarkan pengeluaran hasil konsepsi, Aborsi spontan terbagi menjadi &amp;nbsp;&lt;a href="file:///C:/Users/samsara/Downloads/MODUL%20KONSELING%20ABORSI_lengkap%20dg%20pendahuluan%20n%20kt%20pengantar.docx#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 18px;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;:&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 24px;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="line-height: 24px; margin-bottom: 0.0001pt; margin-left: 63.8pt; margin-right: 0cm; margin-top: 10pt; text-align: justify; text-indent: -21.25pt;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="line-height: 24px;"&gt;a)&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 24px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;span lang="EN-US"&gt;Abortus Incompletus&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 24px; margin-bottom: 0.0001pt; margin-left: 63.8pt; margin-right: 0cm; margin-top: 10pt; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;yaitu pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. Apabila sebagian dari buah kehamilan sudah keluar dan sisanya masih berada dalam rahim, perdarahan yang terjadi biasanya cukup banyak namun tidak fatal. Untuk pengobatan, perlu dilakukan kuret secepatnya. (Inna Hudaya, 2009 :11)&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 24px; margin-bottom: 0.0001pt; margin-left: 63.8pt; margin-right: 0cm; margin-top: 10pt; text-align: justify; text-indent: -21.25pt;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="line-height: 24px;"&gt;b)&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;Abortus Completus&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 24px; margin-bottom: 0.0001pt; margin-left: 63.8pt; margin-right: 0cm; margin-top: 10pt; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;yaitu pengeluaran keseluruhan buah kehamilan dari rahim. Keadaan demikian biasanya tidak memerlukan pengobatan karena semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan. (Inna Hudaya, 2009 :11)&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="line-height: 24px; margin-bottom: 0.0001pt; margin-left: 63.8pt; margin-right: 0cm; margin-top: 10pt; text-align: justify; text-indent: -21.25pt;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="line-height: 24px;"&gt;c)&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;Missed Abortion&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 24px; margin-bottom: 0.0001pt; margin-left: 63.8pt; margin-right: 0cm; margin-top: 10pt; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;Istilah ini dipakai untuk keadaan di mana hasil pembuahan yang telah mati tertahan dalam rahim selama 8 minggu atau lebih. Penderitanya biasanya tidak menderita gejala, kecuali tidak mendapat haid. Kebanyakan akan berakhir dengan pengeluaran buah kehamilan secara spontan dengan gejala yang sama dengan abortus yang lain. (Inna Hudaya, 2009 :11)&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="line-height: 24px; margin-bottom: 0.0001pt; margin-left: 42.55pt; margin-right: 0cm; margin-top: 10pt; text-align: justify; text-indent: -1cm;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="line-height: 24px;"&gt;2.&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="line-height: 24px;"&gt;Abortus Provocatus&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="line-height: 24px;"&gt;adalah proses penghentian kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar kandungan, yang dilakukan dengan sengaja dengan tujuan tertentu. Berdasarkan alasannya,&amp;nbsp;&lt;i&gt;Abortus Provocatus&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;dapat dikategorikan menjadi :&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 24px; margin-bottom: 0.0001pt; margin-left: 63.8pt; margin-right: 0cm; margin-top: 10pt; text-align: justify; text-indent: -21.25pt;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="line-height: 24px;"&gt;a)&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;Abortus Therapeuticus&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 24px; margin-bottom: 0.0001pt; margin-left: 63.8pt; margin-right: 0cm; margin-top: 10pt; text-align: justify;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;yaitu pengakhiran kehamilan pada saat di mana janin belum dapat hidup demi kepentingan kesehatan si ibu, yang disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut&lt;a href="file:///C:/Users/samsara/Downloads/MODUL%20KONSELING%20ABORSI_lengkap%20dg%20pendahuluan%20n%20kt%20pengantar.docx#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 18px;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;Abortus yang mengancam (threatened abortion), disertai dengan perdarahan yang terus menerus, atau jika janin telah meninggal (missed abortion). Tindakan ini dilakukan karena keberadaan janin mengancam keselamatan si ibu.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;Mola Hidatidosa atau hidramnion akut. Hidramnion adalah keadaan kehamilan di mana air ketuban diproduksi secara berlebihan (lebih dari 2000cc), sehingga berpotensi menimbulkan infeksi bagi janin dan membahayakan keselamatannya.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;Infeksi rahim akibat tindakan aborsi yang tidak aman (unsafe abortion), yang dilakukan pada kehamilan sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;Penyakit keganasan pada saluran jalan lahir, misalnya kanker serviks, atau kondisi di mana kehamilan akan menghalangi pengobatan untuk penyakit keganasan lainnya pada tubuh, seperti kanker payudara.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;Prolaps uterus gravid (kehamilan di mana posisi rahim turun akibat adanya tekanan intra-abdomen) yang tidak bisa diatasi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;/span&gt;Telah berulang kali mengalami operasi caesar.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;Penyakit-penyakit dari ibu yang sedang mengandung, misalnya penyakit jantung organik dengan kegagalan jantung, hipertensi, nephritis (radang pada ginjal), tuberkulosis paru aktif, toksemia gravidarum (kondisi di mana kehamilan mengalami keracunan) yang berat.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;Penyakit-penyakit metabolik, misalnya diabetes yang tidak terkontrol, yang disertai komplikasi vaskuler, hipertiroid, dll.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;Epilepsi, sklerosis yang luas dan berat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;/span&gt;Hiperemesis gravidarum (mual-muntah yang parah sehingga perempuan mengalami penurunan berat badan drastis dan dehidrasi) dan chorea gravidarum (Kondisi kehamilan di mana terjadi kontraksi otot di bagian tubuh tertentu akibat eclampsia atau kaki gajah.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;Gangguan jiwa, disertai dengan kecenderungan untuk bunuh diri. Pada kasus seperti ini, sebelum melakukan tindakan abortus, calon pelaku harus berkonsultasi dengan psikiater.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 24px; margin-bottom: 0.0001pt; margin-left: 63.8pt; margin-right: 0cm; margin-top: 10pt; text-indent: -21.25pt;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="line-height: 24px;"&gt;b)&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;Eugenic Abortion&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;br /&gt;Aborsi jenis ini adalah prosedur pengguguran yang dilakukan terhadap janin yang cacat. Sebelumnya, dokter harus benar-benar telah melakukan pemeriksaan mengenai keadaan janin. (Inna Hudaya, 2009 :14)&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; margin-left: 63.8pt; margin-right: 0cm; margin-top: 10pt; text-indent: -21.25pt;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="line-height: 24px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="line-height: 24px;"&gt;c)&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;Abortus non-therapeticus&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;br /&gt;Aborsi yang sengaja dilakukan tanpa adanya indikasi medik (ilegal). Biasanya alasan perempuan melakukan aborsi ini adalah karena ketidaksiapan menjadi orang tua, baik itu secara psikis ataupun ekonomi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 24px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;hr size="1" style="line-height: normal; text-align: left;" width="33%" /&gt;&lt;div id="ftn1" style="line-height: normal;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;a href="file:///C:/Users/samsara/Downloads/MODUL%20KONSELING%20ABORSI_lengkap%20dg%20pendahuluan%20n%20kt%20pengantar.docx#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 18px;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://east.merriam-webster.com/dictionary/abortion"&gt;http://east.merriam-webster.com/dictionary/abortion&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn2" style="line-height: normal;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;a href="file:///C:/Users/samsara/Downloads/MODUL%20KONSELING%20ABORSI_lengkap%20dg%20pendahuluan%20n%20kt%20pengantar.docx#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 18px;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="citation"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Department of Reproductive Health and Research (2003).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;a href="http://www.who.int/reproductive-health/impac/Symptoms/Vaginal_bleeding_early_S7_S16.html"&gt;"Managing Complications in Pregnancy and Childbirth – A guide for midwives and doctors"&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="citation"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;. World Health Organization&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="reference-accessdate"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;. Retrieved 2009-04-07&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="citation"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn3" style="line-height: normal;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;a href="file:///C:/Users/samsara/Downloads/MODUL%20KONSELING%20ABORSI_lengkap%20dg%20pendahuluan%20n%20kt%20pengantar.docx#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 18px;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&amp;nbsp;&lt;a href="http://news.bbc.co.uk/2/hi/health/2176898.stm"&gt;"Q&amp;amp;A: Miscarriage"&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;. BBC. 2002-08-06&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="reference-accessdate"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;. Retrieved 2009-04-07&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn4" style="line-height: normal;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;a href="file:///C:/Users/samsara/Downloads/MODUL%20KONSELING%20ABORSI_lengkap%20dg%20pendahuluan%20n%20kt%20pengantar.docx#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 18px;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Edmonds DK, Lindsay KS, Miller JF, Williamson E, Wood PJ (1982). "Early embryonic mortality in women".&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Fertil. Steril.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;38&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;(4): 447–453.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/PubMed_Identifier" title="PubMed Identifier"&gt;PMID&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;a href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/7117572"&gt;7117572&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn5" style="line-height: normal;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;a href="file:///C:/Users/samsara/Downloads/MODUL%20KONSELING%20ABORSI_lengkap%20dg%20pendahuluan%20n%20kt%20pengantar.docx#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 18px;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Inna Hudaya (2009: 9).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ftn6" style="line-height: normal;"&gt;&lt;div class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;a href="file:///C:/Users/samsara/Downloads/MODUL%20KONSELING%20ABORSI_lengkap%20dg%20pendahuluan%20n%20kt%20pengantar.docx#_ftnref6" name="_ftn6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 18px;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;(Inna Hudaya, 2009 :12-13)a&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px;"&gt;&lt;span lang="EN-US" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-ID" style="font-family: inherit; line-height: 24px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-bottom: 0.0001pt; margin-left: 63.8pt; margin-right: 0cm; margin-top: 10pt; text-indent: -21.25pt;"&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify; text-indent: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433852997966109948-3754561352806695734?l=samsaraindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/feeds/3754561352806695734/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2011/05/definisi-dan-jenis-aborsi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/3754561352806695734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/3754561352806695734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2011/05/definisi-dan-jenis-aborsi.html' title='Definisi dan Jenis Aborsi'/><author><name>samsara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06928317136208780151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433852997966109948.post-471610681624927351</id><published>2010-07-20T12:42:00.001+07:00</published><updated>2011-05-24T22:16:38.811+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SSKR'/><title type='text'>Tak Kenal Maka Tak Sayang</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Oleh : A. Iwan Kapit dan Sartika Nasmar&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;1 Mei 2010, di Sabtu pagi itu adalah hari pertama Sekolah Seksualitas dan Kesehatan Reproduksi. Di Kedai Hijo Wahana Lingkungan Hidup (WALHI), sebuah wadah yang disusun dengan konsep sekolah informal ini dimulai. Sekolah merupakan salah satu proyek edukasi yang dibentuk oleh Samsara. Kami menyingkatnya SSKR. Setiap kali orang bertanya, kami hanya memberikan singkatan tersebut. Tujuannya, agar siapa pun yang bertanya tersebut kemudian mencari tahu lebih banyak lagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;SSKR pertama dilaksanakan di Jogjakarta. Jika ada yang pertama, maka kami berharap akan ada yang kedua, ketiga dan seterusnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Kami duduk lesehan. Saya dan Inna berada di depan. Sedangkan peserta duduk mengelilingi empat meja yang telah tertata rapi. Angin lebih leluasa menyapa kami karena tak ada dinding di rumah panggung tempat kami akan belajar. Karpet hijau tempat kami duduk sudah sedikit lusuh tapi bukan masalah. Sepertinya peserta cukup menikmati kesederhanaan yang kami sajikan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Pembukaan yang sederhana dilakukan oleh Kepala Sekolah SSKR, Sartika Nasmar. Dilanjutkan dengan beberapa kalimat menyenangkan berisi tujuan dan sejarah SSKR terbentuk oleh Direktur Samsara, Inna Hudaya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Sejarah terbentuknya SSKR merupakan lanjutan dari sebuah grup diskusi bernama&amp;nbsp;&lt;i&gt;Sexuality and Reproductive Health School&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(SRHS) yang dibentuk oleh Inna Hudaya dan Talcon, seorang gadis asal Amerika. SRHS dilaksanakan setiap hari Sabtu dengan skala peserta umum. Dalam grup ini, Talcon dan Inna memberikan pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi dengan menggabungkan dua referensi dari dua negara yakni Indonesia dan Amerika. Mereka mencoba merumuskan kemasan yang berbeda dari pelatihan yang biasanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="" name="more"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;SSKR berbeda, karena menyajikan tema yang dasar. Penguatan otoritas tubuh. Menurut Inna, tema ini dipilih agar setiap orang diharapkan dapat memilih metode perawatan untuk tubuhnya sendiri, khususnya pada isu kesehatan reproduksi. Penguatan otoritas tubuh juga memberikan pemahaman kepada banyak orang untuk lebih memahami tubuhnya dan memberikan banyak pilihan-pilihan yang selama ini tidak terpublikasi dengan bagus. Khususnya informasi-informasi mengenai isu seksualitas dan kesehatan reproduksi yang masih terbatas, bahkan masih banyak yang menutup mata bahwa dua hal tersebut bisa jadi sebuah kebutuhan dasar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;“Jika kita bisa memilih makanan masuk ke dalam tubuh kita, kenapa kita tidak bisa memilih penis yang masuk ke dalam vagina kita,” canda Tika –sapaan akrab untuk Sartika Nasmar- saat menyinggung pentingnya memahami pilihan dalam kaitan dengan hak-hak atas pilihan dan kesehatan khususnya pada organ reproduksi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Pada pukul 08.30 WIB, masing-masing peserta dan panitia saling berkenalan. Tika, yang menjadi fasilitator saat itu memberikan sebuah permainan. Sebut saja, Tak Kenal Maka Tak Sayang. Dalam permainan tersebut, Tika meminta kepada setiap peserta dan panitia untuk menyelipkan istilah seksualitas dan kesehatan reproduksi di belakang nama sapaan mereka. Selain itu, Tika juga meminta agar setiap peserta yang sudah berkenalan mengulang nama setiap rekannya beserta istilah di belakang nama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Dimulai dari Kepala Sekolah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;“Saya Sartika Nasmar. Teman-teman bisa panggil saya Tika Tetek,” kata Tika. Selanjutnya Inna Hudaya atau Inna Inses. Kapit Kontol. Wita Waria. Syaiful Huda atau Itong Itil. Endang Endok. Angga Yudhiansyah Anal. Ahmad Suhendra Homoseksualitas. Hera Hetero. Yusak E. Kathi Yoni. Astutik Titit. Juju Julianti Jumbut. Agung Prabowo Asi. Hellatsani Widya Ramadhani Memek. Yemmestri Enita Nenen.&amp;nbsp;&amp;nbsp;Fira Khasanah atau Pila Puting. Hunafa Una’ Ureologi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Sayang, dua peserta tidak hadir pada hari pertama SSKR.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Setelah bermain dan mengenal satu sama lain dengan sederhana, Tika meminta peserta untuk mengungkapkan alasan mereka mengikuti SSKR.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Yusak mengatakan bahwa saat ini kegiatannya sedang fokus pada psikologi klinis yang mempelajari semua hal yang berhubungan dengan hal-hal klinis, seperti kesehatan reproduksi. Dengan mengikuti SSKR, bisa membantunya&amp;nbsp;mendapat pemahaman yang lebih tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Sedangkan Astutik, mengemukakan bahwa isu seksualitas selama ini hanya dipahami sebagai sesuatu yang berhubungan dengan seks atau medis saja. Tapi Astutik melihat ada persoalan lebih luas dari itu. Yakni, ada peran negara dan tanggung jawab sosial seperti agama untuk meluruskan soal kesehatan reproduksi. Melalui pelatihan SSKR, dia berharap mampu menjawab permasalahan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Juju Julianti, salah satu peserta dari SAPDA mengatakan bahwa selama ini kita hanya mengenal alat-alat reproduksi diri kita sendiri. Tapi bagaimana penanganannya dan pencegahannya kita belum tahu persis, hanya sekadar umum saja. “Saya berharap tahu sejauh mana alat reproduksi itu digunakan dan bagaimana penanganan terhadap gangguan kesehatan terkait organ reproduksi,” katanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Lain&amp;nbsp;&amp;nbsp;halnya pula dengan salah satu peserta pria yang juga masih menjadi mahasiswa ini, Ahmad Suhendra mengungkapkan pendapatnya bahwa menurutnya anggapan masyarakat yang religius mengenai seksualitas masih dianggap tabu. “Saya ingin mendobrak pengetahuan yang bersifat tabu itu.” katanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Selain peserta, Inna juga mengungkapkan harapannya selama proses SSKR berlangsung. “Saya berharap semua perserta yang mengikuti SSKR telanjang. Dalam arti melepaskan semua hal-hal yang mengkonstruksi paradigma tentang seksualitas. Kadang kala diri kita sendiri masih bersikap diskriminasi terhadap tubuh kita. Orang masih malu untuk menyebut organ tubuhnya sendiri. Seksualitas dan kesehatan reproduksi adalah sesuatu yang kompleks. Proses pembelajarannya akan berlangsung terus menerus seumur hidup,” jelas Inna.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Memasuki sesi berikutnya, setelah mengungkapkan berbagai alasan dan harapan, Tika kembali mengambil alih kelas. Menurutnya, dengan mengenal nama dan mengetahui harapan serta alasan untuk mengikuti SSKR ini saja tak cukup. Dia meminta kepada seluruh panitia dan peserta untuk mendeskripsikan dirinya dan aktivitasnya sehari-hari namun dalam durasi 30 detik. Bukankah Tak Kenal Maka Tak Sayang?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Tika memulai.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Nama lengkapnya Sartika Nasmar. Berasal dari Makassar. Menurutnya, dia orang yang simpel dan sederhana walau beberapa temannya mengatakan bahwa ia adalah seorang pemarah. Aktivitas Tika membantu Samsara dibidang advokasi dan edukasi. Selain itu, ia juga senang menulis. Di SSKR, Tika adalah Kepala Sekolah.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Inna Ariyani Hudaya. Dia benci nama tengahnya karena mengingatkannya pada kaum Arya pada rezim pembantaian Hitler dan pembantaian Yahudi. Inna suka memasak, juga menulis. Seringkali gila karena suka menyanyi sambil naik motor atau bicara sendiri di tengah jalan. Namun, Inna menikmati hidupnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Syaiful Huda. Biasa dipanggil Itonk. Menurut teman-temannya, dia&amp;nbsp;&lt;i&gt;ngondek&lt;/i&gt;. Masih kuliah di UIN jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah. Sehari-hari, Itonk aktif di PLU Satu Hati sebagai staf kebijakan publik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Endang Fatmawati. Sejak tahun 2005, dia sudah bergabung dengan LSM SOS Children Jogja untuk memberikan bimbingan belajar, kewirausahaan, keterampilan dan lainnya. Endang diberi amanat untuk masuk dalam divisi kesehatan dan lingkungan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Fira Khasanah Adiana. Asli Yogyakarta dan sekarang tinggal di Kulon Progo. Dia adalah tentor sebuah lembaga pendidikan Bahasa Inggris. Kini, ditugaskan di salah satu sekolah di Moyudan. Menurutnya, dirinya adalah orang yang simpel.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Angga Yudiansyah. Berasal dari Kediri, Jawa Timur. Saat ini bekerja sebagai asisten dosen. Angga orang yang senang berdiskusi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Ahmad Suhendra. Berasal dari Kota Bogor. Saat ini tinggal di Krapyak. Dan aktivitas sehari-harinya adalah mahasiswa UIN jurusan Tafsir Hadist Usuluddin. Sekarang, Ahmad sedang sibuk mengerjakan tugas-tugas kuliah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Astutik. Bekerja di LBH Jogja bidang media. Dia adalah lulusan ekonomi namun memiliki hobi di dunia&amp;nbsp;&lt;i&gt;fashion&lt;/i&gt;. Sehari-hari, dia bertemu dengan teman-teman dari LSM lain karena LBH menjadi salah satu&amp;nbsp;&lt;i&gt;basecamp&lt;/i&gt;&amp;nbsp;kegiatan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Juju Juliati. Asli Banten. Masih kuliah di STIE dan saat ini aktiv di LSM SAPDA bidang administrasi. Selain itu, Juju juga aktiv di beberapa organisasi yang lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Yusak E. Kathi. Asli dari Kepulauan Alor. Tinggal di Denpasar. Saat ini kuliah di Universitas Mercubuana jurusan Psikologi. Yusak mempunyai hobi olah raga terutama tinju. Dia adalah orang yang menyenangi tantangan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Agung Prabowo W. Senang dengan aktivitas yang berhubungan dengan riset. Saat ini, Agung bergabung dengan PKBI. Dia mengikuti SSKR agar bisa mendapatkan lebih banyak lagi informasi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Hellatsani Widya R. Asli Yogyakarta. Saat ini kuliah di jurusan Administrasi Negara Universitas Gadjah Mada (UGM). Madha aktiv di pers mahasiswa UGM. Selain itu, bersama dengan kawan-kawan kampusnya, dia ikut merintis diskusi Selasa Setara. Madha adalah orang yang histeris.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Indria Susanti. Saat ini ia masih kuliah di Farmasi UGM. Selain kuliah, Indri aktiv dalam kegiatan-kegiatan di organisasi kemahasiswaan. Hobinya adalah membuat karya kerajinan tangan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Yemestri Enita. Suka ketawa. Hobi jalan-jalan. Aktiv di Perhimpunan IDEA bidang kebijakan publik. Nita perempuan biasa yang terbiasa bisa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Nurul Hunafa. Paling muda dan punya pengalaman minim karena baru saja dinyatakan lulus UAN pada hari Senin 26 April 2010.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Perkenalan berlangsung dengan keceriaan dan harapan. Semua peserta tampak menikmati mengenal satu dengan yang lainnya. Tika kemudian membagikan dua kertas berwarna kepada peserta. Biru dan Kuning.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;“Teman-teman, saya meminta anda mengisi harapan dan kecemasan anda rasakan untuk proses&amp;nbsp;&amp;nbsp;SSKR ke depan. Biru untuk harapan. Kuning untuk kecemasan. Tuliskan apa pun yang ingin kalian tulis,” jelas Tika.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Memasuki pukul 10.00 WIB, Hera mengambil alih kelas untuk memulai sesi berikutnya yakni penentuan aturan kelas, agenda, bacaan, dan tugas akhir. Hera menjelaskan tentang agenda-agenda yang akan peserta ikuti selama proses SSKR dari tanggal 1 Mei hingga 20 Juni 2010 yakni 16 kali pertemuan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Selama SSKR, peserta akan mendapatkan materi-materi yang telah dipilih dan sesuai dengan isu seksualitas dan kesehatan reproduksi dengan metode pembelajaran yang telah diatur oleh panitia. Mulai dari presentasi, diskusi, praktek dan permainan yang dinilai membantu peserta untuk belajar mengenal isu ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Setiap SSKR berlangsung, peserta juga akan dibagikan berbagai macam materi bacaan yang sesuai dengan tema materi pada keesokan atau minggu selanjutnya. Bacaan tersebut diharapkan menjadi salah satu referensi yang bisa membantu peserta untuk masuk dalam materi yang akan dipresentasikan oleh pemateri yang kemudian didiskusikan. Hal tersebut berlaku disemua sesi dalam SSKR.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Selanjutnya, Hera mengajak peserta untuk membuat dan menyepakati peraturan yang wajib diikuti oleh setiap peserta SSKR.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol start="1" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-top: 0cm;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 15px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Datang tepat waktu yakni pukul 08.00 WIB.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 15px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Toleransi keterlambatan masuk kelas 15 menit.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 15px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Jika terlambat lebih dari 15 menit, maka peserta akan dikenakan sanksi yakni me-review salah satu materi pada hari sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 15px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Panitia yang terlambat akan dihukum berjoged.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 15px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Peserta yang terlambat 3 hari berturut-turut harus membawa&amp;nbsp;&lt;i&gt;snack&lt;/i&gt;untuk semua peserta di kelas.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 15px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Boleh membawa makanan dari rumah.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 15px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Boleh merokok selama di kelas tapi harus berada di tempat yang telah disepakati, yakni di bagian belakang.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 15px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Boleh makan selama kelas berlangsung.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 15px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Tidak boleh mengganggu peserta yang lain.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 15px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Saling menghormati, santai, sopan, dan disiplin.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 15px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Handphone dalam status&amp;nbsp;&lt;i&gt;silent&lt;/i&gt;. Bila menerima telepon harus keluar dari kelas.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 15px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Kalau ijin ke belakang harus denga kode yang disepakati.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0px; margin-left: 15px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Peserta tidak boleh tiduran pada waktu diskusi.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 18pt; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Peraturan dituliskan kembali oleh Wita di sebuah kertas plano sebagai pengingat. Kemudian, Hera memberikan permainan menarik kepada para peserta.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;13 peserta diminta untuk membuat lingkaran. Karena jumlah pemain harus genap, maka salah satu panitia wajib ikut bermain, Kapit terpilih. Semua pemain kemudian berhitung dan mulai bermain. Tangan kanan menggenggam tangan kanan pemain lain yang saling berhadapan sedang tangan kiri memegang tangan kiri pemain yang berada di samping. Kemudian, Hera meminta semua pemain untuk mencari cara agar posisi pemain tetap berada dalam kondisi melingkar tanpa harus melepaskan tangan dan posisi tangan yang tepat dalam waktu lima menit.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Waktu habis. Peserta tak bisa menyelesaikan. Hera meminta peserta mengulang. Namun, kali ini dengan cara mengurangi dua pemain. Peserta kemudian diberikan kesempatan untuk menunjuk instrukstur yang bertugas sebagai pemberi petunjuk. Peserta memilih Juju.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Permainan yang sama di mulai. Hanya dengan 12 peserta. Berbagai posisi dilakukan peserta. Saling tunjuk, saling mengarahkan dan tertawa bersama hingga kebingungan. Ada yang harus melangkahi genggaman tangan pemain lain. Ada yang harus jongkok. Waktu yang diberikan Hera telah habis. Mereka belum juga berhasil. Permainan dihentikan. Semua pemain kembali duduk. Lalu dipersilahkan menikmati kopi dan aneka kue tradisional yang disiapkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Di sesi selanjutnya, Hera masih menjadi fasilitator. Kali ini adalah sesi dimana peserta wajib mengisi&amp;nbsp;&lt;i&gt;pre-test&lt;/i&gt;&amp;nbsp;yang berisi sejumlah pertanyaan mengenai seksualitas dan kesehatan reproduksi.&amp;nbsp;&lt;i&gt;Pre-test&lt;/i&gt;&amp;nbsp;diberikan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan peserta dalam memahami isu yang diusung dalam SSKR.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Peserta mengumpulkan kembali&amp;nbsp;&lt;i&gt;pre-test&lt;/i&gt;&amp;nbsp;yang telah diisi. Sebelum makan siang berlangsung, Hera dan Tika mengajak peserta berdiskusi mengenai perijinan dan dispensasi yang sebaiknya diberikan kepada dua peserta yang tidak hadir pada hari pertama SSKR.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Tika mengatakan bahwa seluruh peserta berhak mendapatkan dua kali ijin untuk tidak hadir di SSKR dengan alasan yang mampu dipertanggung jawabkan. Selain itu, Tika juga mengingatkan bahwa jika ketidakhadiran peserta melewati batas maka akan dinyatakan mengundurkan diri dan mengganti biaya sekolah sebesar Rp. 3 juta.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif;"&gt;Meski tegang mendengarkan peraturan tersebut. Peserta kemudian menyanggupi. Sesi makan siang mengakhiri pertemuan hari pertama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433852997966109948-471610681624927351?l=samsaraindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/feeds/471610681624927351/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2010/07/tak-kenal-maka-tak-sayang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/471610681624927351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/471610681624927351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2010/07/tak-kenal-maka-tak-sayang.html' title='Tak Kenal Maka Tak Sayang'/><author><name>samsara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06928317136208780151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433852997966109948.post-1670490811224746393</id><published>2010-07-20T12:41:00.001+07:00</published><updated>2011-05-24T22:17:03.838+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SSKR'/><title type='text'>Banyak Cerita di Pertaruhan</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0px; text-align: center;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aDlLOO-c06M/TEU4TLD3LWI/AAAAAAAAAQY/Oxc97rBPyD8/s1600/at+stake.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_aDlLOO-c06M/TEU4TLD3LWI/AAAAAAAAAQY/Oxc97rBPyD8/s320/at+stake.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif;"&gt;Oleh : Sartika Nasmar&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif;"&gt;Cuaca siang itu cerah. Adalah hari ketiga Sekolah Seksualitas dan Kesehatan Reproduksi (SSKR). Tepatnya, pada 8 Mei 2010. 15 peserta terlihat serius menyaksikan pemutaran film antologi dokumenter Pertaruhan di sebuah rumah panggung di Kedai Hijo WALHI daerah Kotagede, Yogyakarta. Sambil duduk lesehan, semua tampak menikmati. Bahkan, salah satu peserta bernama Madha dengan girang menuliskan pesan ke saya yang mengatakan dia akhirnya bisa menonton film ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif;"&gt;Kami memutar film ini setelah memberikan sesi presentasi dan diskusi mengenai Hak Asasi Manusia (HAM). Pemutaran film dilakukan tepat pukul 10.00 WIB. Sesi ini berada di tengah antara sesi HAM dasar dan Hak-hak Seksual dan Hak-hak Reproduksi. Ini menyenangkan, pikirku. Karena dalam film ini banyak isu yang berkaitan dengan dua sesi yang mendampingi pemutaran film Pertaruhan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; font-family: arial, sans-serif;"&gt;&lt;a href="" name="more"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0px; text-align: justify;"&gt;Usai menonton, diskusi dimulai. Syaiful Huda, salah satu peserta dari PLU Satu Hati mengatakan bahwa perempuan berperan ganda. Menurutnya, dalam cerita pertama seorang perempuan bertanggung jawab sebagai pekerja domestik dan pencari nafkah utama. Perempuan punya posis yang penting dalam keluarga. Dia menmbahkan bahwa film ini tentu saja erat kaitannya dengan seksualitas dimana isu tersebut masih menjadi sesuatu yang tabu untuk dibicarakan dengan keluarga. Hingga dapat terlihat bahwa disemua cerita ada masalah besar ketika dalam sebuah keluarga, seorang anak kemudian mengalami kesulitan untuk mencari informasi mengenai seksualitas dan akhirnya kebingungan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya intinya adalah berhubungan dengan hak asasi manusia,” lanjut Agung. Salah satu peserta yang berprofesi sebagai peneliti di PKBI Yogyakarta. Melanjutkan diskusi, Agung mengungkapkan pengalamannya saat bercerita dengan seorang teman perempuannya mengenai sunat perempuan empat hari yang lalu. Setelah membaca sebuah artikel mengenai sunat perempuan, teman perempuan Agung langsung bertanya ke ayahnya. Apakah dia pernah disunat? Jawaban ayahnya, iya dengan alasan untuk mengatur syahwatnya sebagai anak perempuan. Banyak hal yang sama terjadi dimana-mana.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, jujur saja saya lebih suka perempuan yang liar. Jadi, tidak seperti es batu,” canda Agung kemudian.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Pada cerita ketiga, Nona? Nyonya?. Agung heran. “Sepertinya banyak orang Indonesia lebih suka jika seseorang mengalami Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) daripada memberikan layanan kesehatan reproduksi.” katanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Tanpa membicarakan ideologi mengenai agama dan keyakinan serta moral. Namun, selalu ada pandangan yang terkesan aneh ketika seseorang ingin memeriksakan kesehatan reproduksinya bagi seorang perempuan yang statusnya belum menikah. Pengalamannya menuturkan yang sama dengan cerita mengenai Pap Smear tersebut dimana status Nona atau Nyonya seolah-olah adalah sebuah pertanyaan pembuka yang akan menentukan apakah anda akan mendapatkan akses atau tidak.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;“Saya bukan orang yang pro atau kontra dengan&amp;nbsp;&lt;i&gt;free sex&lt;/i&gt;,&amp;nbsp;&amp;nbsp;tapi yang paling penting sekarang adalah kesehatan reproduksi seseorang,” lanjutnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Agung juga menambahkan, pada cerita terakhir sangat menarik ketika ada negosiasi penggunaan kondom. Di awal cerita Ragat’e Anak, Agung sempat bertanya kenapa di lokalisasi seperti di Tulung Agung tidak ada pemberian informasi mengenai seks aman karena sangat berpotensi untuk terjangkit penyakit menular seks (PMS). Apalagi, khususnya para perempuan pekerja seks dalam cerita tersebut adalah perempuan-perempuan yang memiliki akses terbatas dari segi ekonomi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;“Tapi yang paling penting adalah kita kemudian hadir untuk tidak lagi bertanya kenapa. Tapi, mari melihat kemampuan mereka untuk mempertahankan hidup. Dan mereka butuh&amp;nbsp;&lt;i&gt;support&lt;/i&gt;&amp;nbsp;kita.” katanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Direktur Samsara, Inna Hudaya yang berdiri di depan kelas&amp;nbsp;&amp;nbsp;kemudian meminta agar peserta perempuan juga memberikan suaranya dalam diskusi ini. Apalagi, ini adalah cerita-cerita tentang wacana mengenai tubuh perempuan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;“Apakah ada di antara teman-teman yang pernah disunat?” tanya Inna.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Fira, salah satu peserta mengaku tidak walau masih belum yakin dengan pengakuannya. Fasilitator diskusi, Nur Hidayah Perwitasari meminta peserta perempuan agar dapat dengan terbuka berbagi cerita.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;“Sunat ini persoalan tradisi banget. Saya pernah disunat. Saya yakin setelah diberitahu bahwa memang saya pernah disunat saat kecil,” kata Maya. Peserta yang bekerja di Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Lain halnya dengan Juju Julianti, salah satu peserta SSKR yang juga aktif di Lembaga SAPDA Yogyakarta. Juju menceritakan pengalamannya dengan berbagai kondisi yang mendukung terjadinya sunat perempuan di daerahnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;“Kalau saya, karena memang tempat saya agamis banget. Dan kita disunat dari kecil karena memang budaya. Kami tidak bisa mengatakan tidak karena sudah tradisinya seperti itu. Saya juga bersyukur mendapatkan pemahamannya di sini jadi saya mungkin bisa membagikannya di daerah tempat tinggal saya,” harap Juju.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Juju menambahkan bahwa sunat perempuan juga tidak lepas dari permasalahan HAM. Film ini akan sangat membantunya untuk memberikan pemahaman kepada siapa saja agar sunat perempuan ditiadakan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Hampir sama di beberapa daerah di Sumatera Barat dimana daerah tersebut masih mentradisikan sunat perempuan. Menurut Yemmestri Enita, peserta dari Perhimpunan IDEA mengatakan bahwa Nangroe Aceh Darussalam pun demikian. Nita, berpendapat bahwa tradisi ini dipertahankan karena adanya ketidakcerdasan menginterpretasikan ajaran dengan berbagai alasan-alasan seperti agama yang sebenarnya tidak penting.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Mengenai cerita Ragat’e Anak, Nita dengan tegas mengatakan bahwa telah terjadi kekerasan terhadap perempuan miskin yang memaksa mereka harus menjadi pekerja seks. Secara bersama, mereka berbagi kemiskinan antar sesama pekerja seks dimana mereka harus bertanggung jawab memenuhi kebutuhan keluarga. Pekerja seks miskin seharusnya menjadi tanggung jawab negara. “Tapi, begara tidak bertanggung jawab hingga akhirnya mereka berbagi kemiskinan dengan kiwir atau preman,” kata Nita.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Masih membahas sunat perempuan. Sangat berharganya klitoris perempuan hingga harus menerima sebuah aturan yang sebenarnya tidak perlu. Kenapa harus klitoris? Ini menjadi pertanyaan Inna.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Fira mencoba memberikan jawaban. “Saya belum tahu jelas. Tapi, saya pernah dengar wacana mengenai G-Spot dimana posisinya berada pada wilayah klitoris. Jadi, ketika bagian kecil klitoris ini dihilangkan maka kenikmatan seksual perempuan akan sedikit berkurang,”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Yusak kemudian memberikan perspektif yang berbeda. Menurut ajaran agama yang dia yakini, Yusak percaya bahwa sunat perempuan memang tidak perlu dilakukan. Yusak berpikir bahwa jika kenikmatan seksual perempuan dibatasi maka akan mempengaruhi sistem reproduksi perempuan.&amp;nbsp;&amp;nbsp;“Dalam filmnya mengatakan bahwa alasan perempuan harus disunat untuk menahan nafsunya. Logikanya, jika perempuan dihilangkan nafsunya, lalu siapa yang akan melanjutkan peradaban di dunia.&amp;nbsp;&amp;nbsp;Jika dalam ajaran agama mengatakan bahwa hasrat seksual perempuan lebih besar daripada laki-laki kan sebenarnya tidak masalah. Sunat perempuan tidak penting sekali, ini alasan yang dibuat-buat,” tegasnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Yusak menambahkan jika hasrat seksual perempuan ditiadakan, maka tidak ada proses melahirkan. “Memangnya laki-laki bisa hamil? Kan tidak bisa. Intinya, saya sangat setuju jika sunat perempuan ditiadakan saja. Ini lebih bagus.” katanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Inna kemudian menjelaskan bahwa klitoris adalah salah satu titik rangsang terbesar di tubuh perempuan yang dipenuhi oleh syaraf-syaraf. Ini sebabnya mengapa klitoris menjadi pusat perhatian untuk menghilangkan kenikmatan seksual perempuan. “Yah, biar gak binal-binal banget. Tapi, anehnya kalau istri gak binal, yang pusing suaminya dan akhirnya mencari yang lain yang lebih binal,” canda Inna diiringi tawa peserta.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;“Itu tadi mengenai sunat perempuan. Bagaimana dengan pap smear?” tanya Wita.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Semua peserta perempuan mengaku belum pernah melakukan pap smear.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Juju Julianti membagi pengetahuannya mengenai Pap Smear kepada teman-teman sekelasnya. “Pap smear itu pengambilan cairan di vagina untuk mengetahui apakah seseorang mempunyai penyakit&amp;nbsp;&amp;nbsp;kanker.” katanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Hellatsani Widya Ramadhani juga kemudian menceritakan pengalamannya terkait Pap Smear. Peserta yang akrab disapa Madha ini juga pernah berniat memeriksakan kesehatan organ reproduksinya bersama beberapa temannya. Madha mengalami keputihan yang berlebih. Madha mencari informasi ke salah satu temannya yang notabene pendidikannya dari kedokteran hingga mendapat saran untuk melakukan pap smear. Akhirnya, Madha mendatangi seorang bidan yang kemudian mengatakan bahwa pap smear hanya diperuntukkan bagi perempuan yang aktif secara seksual atau orang yang sudah pernah melakukan hubungan seks. Alasannya, karena vagina akan dibuka dengan menggunakan spekulum dan takut jika selaput darah perempuan yang masih perawan rusak. Anehnya, Madha kemudian mendapatkan rekomendasi dari bidan tersebut untuk melakukan USG.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Mendengar cerita Madha, Inna tergelitik untuk bertanya dengan menghubungkan cerita dalam film Pertaruhan dengan hak asasi manusia jika setiap manusia seharusnya setara. Apakah kehadiran HAM sebagai kebutuhan dasar setiap manusia belum cukup dengan hadirnya Hak Asasi Perempuan dan Hak-hak Seksual dan Hak Reproduksi? “Kenapa kita harus membicarakan ini?” tanya Inna.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Astutik, salah satu peserta yang aktiv di Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta memberikan pendapatnya mengenai cerita dalam film tersebut. Dia mencoba menyambungkan pendapatnya dengan berbagai pertanyaan yang menggelitik Inna.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Tuti, dari 4 cerita yang disajikan, perempuan selalu mengalami diskriminasi di mana pun posisinya. Misalnya pada sesi mengenai TKW atau pada cerita pertama, ketika dia ingin melakukan operasi vagina, ternyata dia mendapatkan reaksi penolakan dari calon suami.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya, alasannya apa?” tanya Tuti. Akan sangat tidak logis sekali, dia mendapatkan&amp;nbsp;&lt;i&gt;judgement&lt;/i&gt;&amp;nbsp;bahwa dia sudah “ngapa-ngapain”.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Dan cerita yang kedua, perempuan tidak punya hak untuk menolak. Apalagi proses sunat dilakukan saat masih kecil dengan dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan keluarga. Ketiga soal pap-smear, perempuan mau melakukan tes kesehatan saja, dia sudah dapat stigma. Apakah perempuannya sudah menikah atau belum, pertanyaan itu, menurut Tuti sangat menggangu, padahal setiap orang punya hak untuk mendapat kesehatan. Banyak sekali pertanyaan dalam prosedur yang memojokkan secara psikologi. Dan cerita yang terakhir, mengenai pekerja seks.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0px; text-align: justify;"&gt;“Sangat memprihatinkan melihat pemerasan dan harus bekerja sebagai pekerja seks. Pokoknya sudah tidak sejahtera lahir dan batin.” kata Tuti mengakhiri sesi diskusi film Pertaruhan siang itu.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433852997966109948-1670490811224746393?l=samsaraindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/feeds/1670490811224746393/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2010/07/banyak-cerita-di-pertaruhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/1670490811224746393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/1670490811224746393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2010/07/banyak-cerita-di-pertaruhan.html' title='Banyak Cerita di Pertaruhan'/><author><name>samsara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06928317136208780151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aDlLOO-c06M/TEU4TLD3LWI/AAAAAAAAAQY/Oxc97rBPyD8/s72-c/at+stake.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433852997966109948.post-7477954117435101327</id><published>2010-06-25T12:48:00.001+07:00</published><updated>2011-05-24T22:17:11.060+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SSKR'/><title type='text'>Precious yang Kuat</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Oleh&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;:&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Sartika Nasmar dan Nur Hidayah Perwitasari&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aDlLOO-c06M/TCRC8rLf8rI/AAAAAAAAAQQ/hPlwyB6AGkA/s1600/Precious+poster.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_aDlLOO-c06M/TCRC8rLf8rI/AAAAAAAAAQQ/hPlwyB6AGkA/s320/Precious+poster.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Kami mengawali sesi pada hari ke delapan Sekolah Seksualitas dan Kesehatan Reproduksi (SSKR) dengan pemutaran film berjudul Precious. Film genre drama yang bercerita tentang kehidupan seorang perempuan muda bertubuh besar bernama Precious. Film ini memenangkan dua piala Oscar untuk kategori &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Best Performance&lt;/i&gt; oleh Mo’Nique (ibu Precious) dan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Best Writing&lt;/i&gt; skenario berdasarkan material yang sudah diproduksi dan dipublikasikan sebelumnya. Film ini berdasarkan cerita dari sebuah novel berjudul &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Push&lt;/i&gt; yang ditulis oleh Sapphire pada tahun 2009.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Peserta dan panitia tampak antusias menikmati film ini. S&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;esekali &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;ada suara histeris, memaki karena jengkel&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;bahkan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; memeluk teman yang &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;ber&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;ada disampingnya saat melihat agedan yang memancing emosi mereka&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; dalam film tersebut&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Life is hard. Life is short. Life is painful. Life is rich. Life is....Precious.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Lima kalimat tersebut adalah tagline film ini. Hidup Precious digambarkan dengan berbagai macam masalah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Claireece Precious Jones, perempuan berumur 16 tahun. Obesitas dan buta huruf. Cerita ini digambarkan pada tahun 1987 di lingkungan Harlem Kota New York. Precious hidup di sebuah keluarga yang mengalami disfungsi. Dia korban pemerkosaan oleh ayahnya, Carl. Sedangkan ibunya, Mary melakukan kekerasan fisik dan mental kepadanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial; font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 13px;"&gt;&lt;a href="" name="more"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Beberapa peserta terlihat meneteskan air mata atau &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;ada yang sekedar &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;menghela nafas panjang saat &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;menyaksikan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;agedan yang sangat mengharukan.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; Bagaimana Precious mendapat penyiksaan mental dan fisik oleh ibunya sendiri. Atau jika dia menjadi bahan ejekan oleh beberapa pemuda saat dia berjalan membawa badan gemuknya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Precious punya mendapatkan semangatnya untuk berjuang menjadi tegar ketika mengikuti sebuah sekolah alternatif bersama beberapa perempuan muda lainnya yang dianggap bermasalah. Sebelumnya, Precious dipindahkan dari sekolahnya karena mengalami kehamilan dua kali. Precious belajar bertahan dan terbukti dia mampu dengan mendapat dukungan dari guru dan teman-temannya. Film ini berakhir dengan adegan yang menampilkan sosok Precious yang berbeda dari cerita pada bagian awal. Dia menggandeng seorang anak perempuannya yang mengalami &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Down Syndrome&lt;/i&gt; dan menggendong anak laki-lakinya sambil berjalan penuh kekuatan. Dan dia menang meski pada akhirnya dia tahu bahwa dia terjangkit HIV-AIDS. Kami semua tepuk tangan melihat adegan tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Film &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;ini adalah salah satu bahan diskusi bersama semua peserta. Diskusi diharapkan berhubungan dengan materi selanjutnya yakni &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Body Image&lt;/i&gt;. Sambil menikmati coffee break, diskusi dimulai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Iwan Kapit, fasilitator&amp;nbsp; diskusi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;dibantu oleh Sartika Nasmar&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;“ Apa tanggapan kalian terhadap film tersebut? “&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; pertanyaan pertama dari Sartika Nasmar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;“M&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;elihat film ini, mungkin saya, dan lain – lain &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;bert&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;anya apa tipe perempuan Indonesia?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Ya tipe perempuan Indonesia itu putih, rambut panjang, manut, kalo dipecah ya kulit putih dan rambut panjang itu Eropa, kalo manut itu Jawa, jadi perempuan Indonesia itu Eropa dan Jawa&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;,” kata Agung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Endang &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Fatmawati juga memberikan tanggapannya, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;“ &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Ada adegan dimana d&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;ia (&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Precious&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;) &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;terlihat &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;me&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;m&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;bayangkan &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;kalau&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; dia &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;berkulit &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;putih dengan tubuh langsing&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;. Kemudian &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;dia mengalami tekanan, kekerasan seksual, trauma, tapi dia adalah perempuan hebat&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;”&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Indri &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;&amp;nbsp;Susanti terlihat menangis saat menyaksikan film ini. Tak mau ketinggalan, kali ini &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;microfon&lt;/i&gt; ada di tangannya dan mengeluarkan suara dengan mengatakan bahwa &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;film&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; Precious &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;&amp;nbsp;sangat menyentuh&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;. Jauh dari bayangan Indri. Dalam kehidupan sehari-harinya, Indri sadar bahwa setelah menyaksikan Precious, hal ini bisa saja terjadi dalam kehidupan seseorang. Ini seperti realitas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;“Ini bukanlah hal yang mudah. Dengan melihat kondisi Precious yang masih sangat muda dan mengalami kekerasan dan pelecehan seks yang dilakukan oleh justru orang-orang terdekatnya,” kata Hendra.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Una &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;menanggapi berbeda. Menurut peserta termuda di SSKR ini, kita seharusnya tidak sepenuhnya menyalahkan ibu Precious dengan tekanan mental yang dia lakukan kepada Precious. “M&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;ungkin lebih baik menyalahkan ayahnya, bunuh aja kalo perlu&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;,” tegas Una. Mengenai Body Image, lanjut Una, terjadi karena adanya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;pengaruh media&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; selama ini dimana mereka menciptakan&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;sosok &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;perempuan cantik &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;dengan memberi gambaran bahwa harus dengan tubuh yang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;langsing, &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;kulit &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;putih&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; dan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; rambut panjang&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;. “P&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;adahal perempuan cantik itu kan gak seperti itu&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;”&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; kata Una.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Yemmestri Enita kemudian menambahkan. Nita mengatakan bahwa cerita Precious sangat kompleks. Ada &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;pelecehan seksual, penyakit menular seksual, kekerasan, tapi &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;ada hal yang menarik dimana ini kemudian tidak ditemukan di Indonesia. Di Indonesia, siswi&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;seumuran Precious atau pada tingkat &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;ekolah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;M&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;enengah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;P&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;ertama (SMP) yang mengalami kehamilan pasti akan dikeluarkan dari sekolah.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Kalau di luar negeri, tidak seperti itu. Siswi akan dipindahkan dan disekolahkan di sekolah alternatif, seperti yang dialami Precious. Menurut Nita, ini menarik karena selain belajar, Precious diberikan konseling dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;pendampingan&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;. “Y&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;ang awalnya &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;wajah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;nya &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;(Precious) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;tegang&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; diakhir &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;wajah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;nya &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;bisa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; senyum&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;N&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;ah itu cermin perempuan yang kuat!”&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; kata Nita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Menyambung pernyataan Nita, Syaiful Huda menambahkan. Pria yang akrab disapa Itong ini mengatakan bahwa kasus-kasus seperti yang dikatakan Nita banyak terjadi di negara ini. “Ini adalah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;ketidakadilan gender&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;P&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;erempuan hamil, harus keluar dari sekolah sementara cowoknya &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;bisa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; tetep sekolah&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; &lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Tubuh adalah milik setiap pemiliknya. Namun, pencitraan tubuh kadang ditentukan oleh siapa yang melihatnya dan melupakan siapa pemiliknya. Setiap orang punya hak atas tubuhnya.&amp;nbsp; Postur tubuh gemuk, kurus, langsing, tinggi, pendek, dalam keadaan hamil dengan perut buncit adalah &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;image&lt;/i&gt; dan akan mempengaruhi kehidupan sosial seorang perempuan. &amp;nbsp;Siapa yang seharusnya mengatakan bahwa tubuh anda adalah tubuh yang ideal? Anda. Pemilik tubuh anda. Bukan media, bukan pasangan atau orang lain. &amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Sesi diskusi film Precious berakhir. Sesi pertama di hari Minggu, 23 Mei ini diakhiri dengan menghukum Angga Yudhi bergoyang. Dia datang terlambat dan wajib memberikan hiburan untuk peserta dan panitia. Sebuah lagu dangdut diputar, Angga bergoyang meski masih tampak malu sambil melempar senyum dan sesekali berhenti dan tertawa. Peserta yang lain menyemangati dengan memberi tepuk tangan. Kami tertawa bersama. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433852997966109948-7477954117435101327?l=samsaraindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/feeds/7477954117435101327/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2010/06/precious-yang-kuat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/7477954117435101327'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/7477954117435101327'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2010/06/precious-yang-kuat.html' title='Precious yang Kuat'/><author><name>samsara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06928317136208780151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aDlLOO-c06M/TCRC8rLf8rI/AAAAAAAAAQQ/hPlwyB6AGkA/s72-c/Precious+poster.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433852997966109948.post-9056812268255276155</id><published>2010-06-25T01:18:00.001+07:00</published><updated>2011-05-24T22:17:21.650+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SSKR'/><title type='text'>Jujur Dengan Tubuhmu</title><content type='html'>&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Oleh : Sartika Nasmar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aDlLOO-c06M/TCOjizcyrGI/AAAAAAAAAQI/ZiLbuO6tiU4/s1600/body+image.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_aDlLOO-c06M/TCOjizcyrGI/AAAAAAAAAQI/ZiLbuO6tiU4/s320/body+image.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Kami masih menikmati hari ke delapan Sekolah Seksualitas dan Kesehatan Reproduksi (SSKR). Di sesi kedua hari itu, kami membahas materi &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Body Image&lt;/i&gt; atau Pencitraan Tubuh. Inna Hudaya adalah pemateri dan didampingi Sartika Nasmar sebagai fasilitator para peserta di hari Minggu yang ceria.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Pukul 10.00 Wib, usai menyeruput kopi dan mencicipi aneka kue tradisional, sesi dimulai. Pada sesi &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Body Image&lt;/i&gt;, Inna lebih banyak memberikan permainan kepada para peserta. Sebelum dia memulai permainan, Inna mengingatkan peserta agar betul-betul “telanjang” untuk mempermudah mereka dalam mengeksplorasi tubuh mereka. Menurut Inna, sesi ini adalah salah satu materi yang penting untuk lebih mengenal tubuh masing-masing. Jika “ketelanjangan” tersebut sulit dilakukan, maka sesi ini bisa saja gagal. Wacana tubuh dalam &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Body Image&lt;/i&gt; tidak hanya membongkar tubuh sebagai sebuah organ fisik, tapi pengaruhnya terhadap psikis dan sosial budaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;“Jika kalian tidak benar-benar telanjang dan jujur pada diri sendiri, percuma kalian mengikuti sesi ini karena tidak akan mendapat apa-apa. Mudah-mudahan kita semua sudah saling&amp;nbsp; merasa nyaman hingga memudahkan kita untuk jujur mengungkapkan perasaan mengenai tubuh kita,” jelas Inna.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="" name="more"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Inna juga dengan lembut memperingatkan para peserta agar tetap saling manghargai jika salah satu peserta merasa tidak nyaman dengan salah satu bagian tubuhnya dengan alasan-alasan tertentu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Inna membagi 14 peserta menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama ada Astutik Salam, Hellatsani, Ahmad Suhendra, Nafiratul Karima dan Angga Yudhi. Di kelompok kedua ada Yusak E. Kathi, Endang Fatmawati, Indria Susanti, Darmayanti dan Agung Prabowo. Sedangkan di kelompok tiga terdiri dari Juju Julianti, Nurul Hunafa, Syaiful Huda dan Yemmestri Enita. Satu peserta yakni Fira Khasanah tidak bisa hadir hari ini.&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Kali ini, meja yang biasanya berada di tengah dipindahkan ke belakang. Peserta dan panitia bergotong royong mengangkat meja satu per satu. Perempuan dan laki-laki mendapat peran yang sama. Setiap kelompok mengambil posisi senyaman mungkin. Ada yang berdiri di tepi sambil tetap mengatur jarak per kelompok. Atau ada pula yang duduk berdempet di atas tumpukan meja di bagian belakang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Inna memulai permainan. Kapit membagikan selembar kertas berwarna kuning ukuran 10 x 10 centimeter kepada masing-masing peserta. Inna kemudian meminta agar setiap orang menuliskan satu organ tubuh apa saja ke kertas tersebut. Setelah selesai, Kapit dan Wita mengumpul kertas tersebut berdasarkan kelompok. Lalu diacak dan ditukarkan ke kelompok lainnya. Masing-masing menerima kertas yang bukan miliknya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Peserta akan mempresentasikan organ tubuh yang tertulis di kertas berwarna yang ada di tangan mereka. Inna meminta agar peserta menceritakan pengalaman dan perasaan mereka memiliki organ tubuh yang tertulis tersebut. Ada yang senang, ada yang malu dan ada yang merasa apes. Suasana kelas menjadi ribut dengan candaan-candaan peserta. Inna memberikan kesempatan kepada peserta yang ingin menjadi relawan untuk melakukan presentasi di urutan pertama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Ada Angga ternyata. Merasa beruntung, Angga mendapatkan kertas bertuliskan perut. Di depan kamera, ia mulai bercerita.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;“Saya dapat perut&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;ebagai lelaki, kadang saya sering berimajinasi punya &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;bentuk &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;perut &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;sixpack&lt;/i&gt;, dengan otot&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;-otot yang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; bidang&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;K&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;arena &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;mungkin sebagai konsekuensi karena &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;kita hidup di&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;dunia &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;citra,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; jadi &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;seolah-olah tubuh &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;sixpack&lt;/i&gt; adalah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;tubuh ideal&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;. Walaupun saya sendiri sebenarnya ingin &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;twopack&lt;/i&gt; saja.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;T&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;api &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;menurut saya, mau &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;apapun bentuk &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;perut&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;saya, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;yang penting sehat.”&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Nurul Hunafa, peserta berikutnya maju di depan. Dengan senyum, Una &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;bercerita mengenai &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;organ &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;yang sama dengan Angga. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;“Aku juga dapat perut, sebenarnya aku gak pede sama perutku karena kal&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;au&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; duduk keli&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;h&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;atan gemuk&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;B&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;ahkan kata saudaraku kal&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;au&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; aku &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;tidur,&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;aku &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;selalu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;pegang perut&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;A&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;ku gak ta&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;h&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;u kenapa, tapi kadang aku nyaman dengan perutku.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; Karena, kalau ada organ lain yang sakit, yang pertama selalu kupegang adalah perutku,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;”&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;katanya sambil tertawa. Semua peserta juga ikut tertawa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Setelah Una, ada &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Itho&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;nk&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;yang bercerita tentang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;hidung&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;. “Sebenarnya aku sih gak pernah merasa ada yang berbeda dengan hidungku. A&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;ku gak pernah perhatiin hidungku, tapi kadang &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;bete&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; juga&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; saat bulu – bulu hidung kelihatan dan &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;waktu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;pilek&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;. T&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;api sebenarnya aku nyaman&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;-nyaman&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; aja sama &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;hidung&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;ku.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; Biasa aja, bukan bagian tubuh yang spesial.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;”&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; katanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Selanjutnya Yemmestri Enita, bercerita dengan singkat. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;“Saya dapat bibir&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;. Sebenarnya sejak kecil, saya suka bibir saya,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;”&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; kata Nita. Serentak peserta berteriak, “Cieeeeee...,” Inna meminta peserta lain untuk bertepuk tangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Hendra&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; menjadi peserta berikutnya. Bercerita tentang hidung juga.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; “Saya dapat hidung&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;. S&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;aya tidak terlalu mengistimewakan hidung saya, tapi kadang saya suka perhatikan hidung saya&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;, tidak pesek tapi tidak mancung juga. Yah, sedang-sedang saja. Tapi, di bagian kiri dan kanan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; ada bintik – bintik, tapi saya bangga &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;punya hidung kaya’ ini&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;.”&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Kali ini giliran Hellatsani atau biasa dipanggil Madha. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Kebetulan a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;ku dapat betis&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;. B&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;etisku gede, jujur &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;saja &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;aku &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;senang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; liat betis &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;cewek-cewek yang ramping, kecil gitu loh. Kaya’ artis-artis, banyak yang seperti itu. T&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;api &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;setelah saya lihat-lihat, ternyata betisku bagus. Gemuk-gemuk gitu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;, lucu kayak pantat bayi.”&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; kata Madha bangga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Setelah Madha, ada Navi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;. Dengan sikap malu-malu, &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Navi awalnya enggan bercerita di depan kamera. Semua peserta ikut tertawa melihat sikap Navi. Tapi, setelah mendapat dukungan dari peserta lain, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;dia &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;akhirnya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;bercerita tentang bibir. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;“S&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;aya sebenarnya gak tertalu pede dengan bibir saya karena kata orang bibir saya gak terlalu &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;tebal&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; dan &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;gak terlalu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;kecil.”&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; katanya singkat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Kemudian &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Agung&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;, bercerita tentang tengkuknya. Agung juga sedikit bingung, siapa kira-kira peserta yang memilih tengkuk untuk dituliskan dalam kertas berwarna. Agung menebak, mungkin karena peserta tersebut tahu kalau tengkuknya berwarna gelap. Agung senyum dan melanjutkan ceritanya. Dengan yakin, Agung juga mengatakan bahwa meski berwarna gelap, tidak ada masalah dengan tengkuknya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;“Siapa yang ingin maju lagi?” tanya Inna.&amp;nbsp; Masih ada peserta yang belum melakukan presentasi sederhana. Madha berteriak menyebut nama Maya alias Darmayanti, salah satu peserta dari LBH Yogyakarta. Maya maju ke depan dan melakukan hal yang sama seperti peserta lain, yakni bercerita. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Saya dapat mata&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;. S&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;aya &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;sebenarnya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;suka &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;dengan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;mata saya, &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;karena &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;kata orang bulu di&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;bawah mata saya &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;itu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;rapi&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;. Cuma yang bikin saya tidak cukup pede kalau mata kelihatan gak bersih. Dan, kadang saya ingin pakai kacamata, cuma karena saya gak punya hidung,” Maya berhenti sejenak. Peserta tertawa mendengar kalimat terakhir Maya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;“Masa gak punya hidung?” seru Yusak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;“Maksudnya bukan gak punya hidung, ada tapi seperti Sule’ gitu. Jadi, kata mama hidungku seperti abis diinjak bebek gitu,” tegah Maya. Peserta serentak tertawa. “Tapi, saya suka mata saya. Banyak memancarkan interpretasi. Walau kata banyak orang, kelihatan judes tapi gak apa-apa.” lanjutnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Belum juga Maya kembali ke tempat awalnya, Inna langsung memanggil Yusak maju ke depan dan bercerita. Yusak nampak kaget.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Yusak &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;bercerita tentang alisnya. Yusak sangat senang memotong untuk merapikan alisnya. Ada teriakan kecil dari peserta lain. Di alis sebelah kanan Yusak, seperti berpisah dan muncul belahan kecil tanpa rambut. Yusak menegah bahwa belahan tersebut terjadi bukan karena dia yang memotongnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Berhenti membicarakan alis Yusak, kini giliran Endang disambut seruan-seruan lucu dari peserta lain karena akan bercerita tentang puting. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;“ Saya dapat puting&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;K&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;emarin &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;sudah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;li&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;h&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;at – li&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;h&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;atan&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; di rumah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;, saya li&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;h&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;at puting saya&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;,” katanya.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Melihat putingnya kecil, Endang pikir itu bukan masalah dan normal. Apalagi setelah dia mendapat referensi usai melakukan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Breast Exam&lt;/i&gt; saat SSKR hari ke enam. Tapi, saat Endang masih di Sekolah Menengah Atas (SMA), dia sempat heran. “S&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;aya &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;pernah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;mandi sama mama saya&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;, tapi kok&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; putingnya lebih besar.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; Tapi kata mama saya, ini gak papa, kan udah dipake’ menyusui kamu.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;”&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; Endang tersenyum cengingisan lalu melangkah ke tempat duduk sebelumnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Lalu dilanjutkan dengan presentasi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Juju&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Siapa sih yang nulis ini. Pas banget yah, soalnya bokongku gak ada. Eh, maaf bukannya gak ada tapi kecil. J&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;adi gak &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;bisa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; ngebor&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;,” kata Juju yang diikuti tawa terbahak-bahak dari peserta lain. “Tenang dulu, biar bokong kecil&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; yang penting punya pantat&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;. Kan bisa boker daripada gak ada, tar gak bisa boker&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;.”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; &lt;span lang="IN"&gt;Juju akhirnya mendapatkan tepuk tangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Kemudian &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Indri&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;, si pendiam yang manis. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;“Aku dapat badan, kal&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;au&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; aku kata orang – orang gendut, tapi &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;aku&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;sendiri merasa nyaman,” katanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Inna mengajak Indri memilih satu organ tubuh yang lebih spesifik. Indri memilih mata. “K&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;ata orang mata saya berkantong, jadi kalo kurang tidur, mata saya kaya&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;’&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;P&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;anda tapi saya &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;tidak terlalu peduli apa kata orang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;.”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; &lt;span lang="IN"&gt;lanjutnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Dan, yang terakhir &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Astut&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;ik.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; “Aku dapat mata&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; Alhamdulillah mataku normal&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; ada dua. A&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;ku bersyukur dengan mataku jadi aku gunakan untuk melihat hal – hal &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;yang baik dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;positif.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Ahmad Suhendra memberikan komentarnya dan memberi candaan ke Tuti menyinggung produk-produk untuk mata merek &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Oriflame&lt;/i&gt; yang biasa dijual Tuti dalam bentuk katalog produk. Tuti hanya tersenyum dan terus melanjutkan ceritanya mencoba meyakinkan bahwa saat dia kecil, matanya agak bulat tapi karena faktor usia jadi sedikit sipit. “Aku lihat foto kecilku suka melolo gitu.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;”&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; katanya sambil tersipu-sipu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Kertas kuning dikumpulkan oleh Wita dan Kapit membagikan kertas Ungu. Inna meminta agar peserta menuliskan organ-organ tubuh mereka yang membuat mereka merasa tidak nyaman. “Sebanyak-banyaknya. Dan ingat telanjang!” kata Inna.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Peserta tampak berpikir keras. Masing-masing dengan posisi yang berbeda. Mungkin juga dengan kebingungan yang berbeda. Dengan cara mengeksplor tubuh yang berbeda pula. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Kertas dikumpulkan dan saya membagikan kembali kertas berwarna orange. Inna kembali mempersilahkan peserta menuliskan tipe tubuh yang ideal menurut mereka. Peserta perempuan menuliskan persepsi ideal tubuh perempuan dan laki-laki menulis ideal tubuh laki-laki. Inna meminta sedetail mungkin. Lagi-lagi, kertas dikumpulkan dan peserta mendapatkan kertas terakhir berwarna hijau&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; untuk menulis&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;kan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; tipe tubuh ideal &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;mereka untuk gender yang berbeda. Laki-laki menulis tipe ideal tubuh perempuan dan sebaliknya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Masih dalam posisi berkelompok. S&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;etiap kelompok &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;mendapat dua&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; majalah &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;yakni satu majalah khusus laki-laki &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;&amp;nbsp;dan satu majalah &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;khusus perempuan. Masing-masing peserta kemudian diminta mencari&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; gambar &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;laki-laki maupun perempuan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; yang &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;paling dekat untuk&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; merepresentasikan tubuh mereka.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; Cukup lama mereka melakukan pencarian. Lembaran demi lembaran terus dibuka. Satu per satu peserta membuka majalah dengan bergantian. Sambil memuji diri sendiri, beberapa peserta nampak menunjuk beberapa gambar tubuh seorang model dan merepresentasikan tubuh mereka atau salah satu organ tubuh mereka yang dianggap memiliki kemiripan. Beberapa orang terlihat meminta pendapat peserta lain untuk menilai kemiripannya dengan gambar yang ada di majalah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Waktunya habis. Sudah pukul 11.30 WIB. Seharusnya para peserta makan siang, tapi kami sepakat untuk melanjutkan sesi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Inna &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;mulai membahas mengenai hasil pencarian peserta. Kelompok dubibarkan. Inna memberikan pertanyaan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; “ &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Susah gak mencari representasi tubuh kalian dalam majalah ini?” Angga ditunjuk oleh Inna dan meminta agar&amp;nbsp; gambar yang ditemukan Angga ditunjukkan ke peserta yang lain. Angga mencoba merepresentasikan tubuhnya dengan gambar tersebut. Dia merasa bahwa beberapa bagian tampak mirip yakni bulu ketiak, jenggot dan kumis. “Mungkin juga warna kulitnya yang agak gelap,” kata Angga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Apakah teman-teman mudah menemukan representasi tubuh kalian di dalam majalah ini? Inna bertanya kepada peserta dan tiba-tiba saja peserta dengan serentak menjawab tidak. Padahal, majalah tersebut merupakan barometer kecantikan dan kegagahan untuk sebuah wacana ideal yang ditampilkan oleh media. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Yusak memberikan komentarnya. Tapi, sebelumnya harus dilatih untuk mengatakan “merepresentasi”. Dia memamerkan sebuah gambar laki-laki bertubuh &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;sixpack&lt;/i&gt;. Yusak bercerita pengalamannya pernah memiliki tubuh &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;sixpack&lt;/i&gt;. Saat itu, dia berpikir bahwa itu ideal dan dia memperolehnya dengan latihan selama dua bulan. Tapi ternyata tak mudah mempertahankannya agar tetap &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;sixpack&lt;/i&gt;. Hingga akhirnya, Yusak merasa bahwa tubuh ideal itu seharusnya bentuk apapun tapi membuat kita nyaman. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Mendengar pengalaman Yusak, Inna memberikan pertanyaan khusus untuknya.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Dengan postur tubuh yang dulu kamu muliki, a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;da hubungannya &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;gak &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;dengan kebahagiaan?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Yusak &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;terdengar menjawab dengan hati-hati.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;“Ada&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;. Pertama &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;sesuai &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;dengan yang pernah saya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;harap&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;an&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;. Masa orang bisa saya gak bisa sih. Latihan, latihan. A&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;pa lagi kal&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;au&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; renang jadi &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;bisa &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;&amp;nbsp;tepe – tepe&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;,” Inna tidak puas. Karena jawaban Yusak lebih berhubungan dengan kepuasan yang dia dapat setelah memperoleh bentuk tubuh &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;sixpack&lt;/i&gt;. Inna menjelaskan kembali pertanyaannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;“Maksud saya, ada gak hubungannya dengan kebahagiaan dengan memiliki tubuh yang ideal itu hingga bisa lebih diterima oleh orang lain?” Yusak merasa tidak ada hubungannya karena sebelumnya sudah merasa diterima oleh masyarakat. Tapi memang ada perasaan bahwa Yusak lebih keren daripada orang lain yang postur tubuhnya tidak &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;sixpack&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Inna &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;mengajak peserta perempuan. Mengobati penasarannya, Inna memberikan pertanyaaan yang lain. Adakah yang merasa gemuk? Banyak yang mengangkat tangan. “Bagaimana dengan teman-teman, ada yang mau &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;share&lt;/i&gt;?” Inna meminta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Ternyata masih peserta laki-laki. Agung bercerita. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Enam tahun lalu&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;, Agung tidak segemuk hari itu. Dulu berat badannya hanya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;48 kilogram&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;. Dia menggambarkan tubuhnya hampir sama dengan postur tubuh Itonk. Sekarang berat badannya 71 kilogram.&amp;nbsp; Agung memang tidak pernah merawat tubuhnya dengan olahraga hingga ber&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;tambah gemuk&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;. Dia merasa tidak nyaman&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; karena &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;tak ada lagi baju yang muat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Pengalaman Inna juga hampir sama. Sembilan tahun yang lalu, saat pertama kali tiba di Jogja, Inna juga memiliki berat badan 48 kilogram. Tapi, tiba-tiba naik 10 kilo menjadi 58 kilogram dan sulit untuk turun lagi ke ukuran semula. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Rasa tidak nyaman dengan tubuh adalah sikap yang wajar, karena pada saat bersamaan kita juga bisa mencintai tubuh kita. Justru Inna merasa ragu dengan pernyataan orang-orang yang sangat merasa nyaman dengan tubuhnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Terkait &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;body image&lt;/i&gt;, Inna mengatakan bahwa setiap orang memiliki persepsi sendiri-sendiri tentang dirinya. Ada lima pertanyaan yang Inna tuliskan dalam presentasinya. Bagaimana rasanya melihat diri sendiri di depan cermin? Bagaimana melihat gambaran diri dalam fikiran? Apa yang kamu percayai mengenai penampilanmu? Apa yang kamu rasakan tentang tubuh, termasuk berat badan, tinggi dan warna kulit? Dan, apa gambaran tubuh ideal buatmu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Rasa nyaman atau tidak nyaman selalu akan muncul ketika kita mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Rasa ingin memiliki tubuh yang dinilai ideal di masyarakat kadang menjadi acuan dan melupakan bahwa kita punya tubuh yang sebenarnya mungkin saja sudah ideal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Sekitar tahun 1500 yang lalu, persepsi tentang konsep tubuh ideal berbeda dengan sekarang, dimana tubuh yang dinilai ideal adalah tubuh yang agak gemuk. Inna memperlihatkan dua lukisan perempuan Eropa. Satu lukisan perempuan telanjang dengan lekuk-lekuk pada bagian perut yang kelihatan besar yang sedang duduk di atas tumpukan kain putih karya Claude Monet. Sedang lukisan yang lain seorang perempuan yang juga bertubuh gemuk memegang gambus. Dua perempuan yang digambarkan ini, dulunya dianggap sebagai simbol kecantikan. Kemudian, Inna memperlihatkan gambar yang lain, seorang perempuan Indonesia dengan postur tubuh yang dikatakan langsing dengan pose seperti menungging, tangan kirinya berada di bagian pantat dengan payudara yang hampir dikatakan sempurna. Sekarang, konsep tubuh ideal menjadi seperti gambar terakhir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Menurut Inna, teori tentang mitos kecantikan berubah. Semakin kurus semakin bagus, dulu tidak. Body Image adalah bagaimana seseorang menilai tentang penampilan fisiknya. Tapi, ini kemudian berhubungan juga dengan bagaimana penilaian dan penerimaan orang lain tentang diri kita.&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Dalam sebuah buku Mitos Kecantikan karya Naomi Wolf, dia menggambarkan bagaimana banyak perempuan meraih pencitraan tubuhnya dengan menilai bahwa kecantikan hadir dari kesempurnaan fisik dengan mencari pencitraan ideal dengan berbagai macam cara. Pada bagian awal buku ini, Naomi menceritakan keberhasilan gerakan kaum feminis meraih hak-hak hukum dan reproduksi dengan diikuti keberhasilan agar perempuan memiliki kenyamanan atas tubuhnya. Khususnya, jujur dengan tubuhnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Ini menarik. Perempuan harus bebas dari belenggu atas mitos kecantikan yang telah dengan gamblang dipercaya oleh mereka dengan adanya konstruksi sosial, kebudayaan, religiusitas dan media dengan adanya iklan televisi dan majalah-majalah kecantikan.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Inna memperlihatkan satu gambar perempuan lagi. Hanya menggunakan bra dan celana dalam yang sedang memperhatikan tubuhnya di depan cermin dengan ekspresi yang sedang tidak merasa nyaman. Banyak sekali perempuan yang sebetulnya memiliki tubuh yang sehat dan normal tapi merasakan bahwa ini tidak ideal. Atau Inna mencoba mengingatkan salah satu adegan dalam film Precious ketika dia bercermin dan membayangkan dirinya menjadi Drew Barrymore, perempuan kulit putih dan tidak obesitas. Inna menambahkan bahwa hal-hal seperti ini bisa sangat mempengaruhi self-esteem (harga diri) yang akan menimbulkan penghargaan kita terhadap diri sendiri berkurang dan menjadi rendah diri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Merasa tidak nyaman dengan tubuh yang anda miliki, direpresentasikan Inna karena adanya beberapa pengaruh yakni represi (tekanan) yang bisa berasal dari keluarga, pasangan dan teman. Namun, yang sangat berpotensi untuk mempengaruhi mitos kecantikan perempuan dan laki-laki adalah representasi media seperti yang digambarkan juga oleh Naomi Wolf. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Perempuan cenderung lebih banyak mengalami tekanan atas hadirnya mitos kecantikan&amp;nbsp; tersebut. Kenapa? Tubuh perempuan adalah objek yang diproyeksikan sebagai keindahan bahkan kadang dinilai dan dihakimi. Patriarki menjadikan perempuan sebagai seks kedua setelah laki-laki dan dianggap sebagai pemuas dan pemenuh kebutuhan laki-laki. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Selain itu, dari wacana mengenai tubuh untuk memenuhi sebuah pencitraan ideal baik perempuan dan laki-laki selalu diikuti dengan stereotip. Fisik misalnya sebagai dasar perempuan digambarkan harus bersikap halus, lembut dan anggun sedangkan laki-laki harus tinggi, kuat dan kokoh. Untuk karakter, perempuan dikonstruksi untuk menjadi afektif atau peduli dengan perasaan orang lain sedangkan laki-laki harus lebih aktif dan setidaknya menjadi “pelaku”. Sedangkan pada peran, perempuan diidentikkan sebagai pekerja domestik dan laki-laki sebagai pekerja publik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;“Stereotip ada dimana-mana, tapi bukan berarti kita harus percaya pada itu,” kata Inna. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Tidak hanya itu, stereotip yang dilekatkan kepada laki-laki dan perempuan pun kadang dihubungkan dengan isu seksualitas. Misalnya, untuk perempuan yang cenderung berpenampilan tomboy biasanya dianggap berorientasi seksual lesbian. Sedangkan laki-laki metroseksual dimana mereka senang rapi, berdandan dan lebih merawat tubuhnya cenderung dianggap berorientasi seksual gay. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Perempuan lebih banyak mengalami kecemasan dengan tubuhnya dibandingkan dengan laki-laki. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Perasaan negati&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;f&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; yang berhubungan dengan &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;pencitraan tubuh&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; dapat mengarah pada stres, gangguan makan&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; dan depresi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt; Serta mengalami &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;poor body image&lt;/i&gt; atau penghargaan diri yang minim dan menganggap bahwa tubuh mereka tidak ideal dan buruk. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: 'Book Antiqua', serif; font-size: 11pt;"&gt;Lalu, apakah ideal itu? Bagaimana dengan perempuan atau laki-laki miskin, difabel, gemuk, tua, atau yang bertubuh atletis? Dimana posisi ideal anda? Saya gemuk dan pendek. Gigi saya bersusun. Pipi tembem dan memiliki bekas luka tersiram air panas di seluruh kaki kanan saya. Tapi, saya merasa tubuh saya sudah ideal. Tak ada yang mesti dikhawatirkan. Yang penting sehat, bukan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-indent: 18.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433852997966109948-9056812268255276155?l=samsaraindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/feeds/9056812268255276155/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2010/06/jujur-dengan-tubuhmu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/9056812268255276155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/9056812268255276155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2010/06/jujur-dengan-tubuhmu.html' title='Jujur Dengan Tubuhmu'/><author><name>samsara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06928317136208780151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aDlLOO-c06M/TCOjizcyrGI/AAAAAAAAAQI/ZiLbuO6tiU4/s72-c/body+image.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433852997966109948.post-7352576794128588584</id><published>2010-04-04T13:45:00.001+07:00</published><updated>2011-05-24T22:17:22.205+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SSKR'/><title type='text'>Sekolah Seksualitas dan Kesehatan Reproduksi (SSKR)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Apa yang melatar belakangi SSKR?&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tingginya angka kematian ibu, kehamilan tidak diinginkan,aborsi, HIV-AIDS, dan IMS di indonesia berkaitan dengan minimnya akses terhadap informasi dan pendidikan mengenai kesehatan reproduksi, seksualitas, gender dan hak-hak perempuan. SAMSARA melihat urgensi terhadap isu ini karena perempuan tidak memiliki pengetahuan yang cukup atas tubuh, seksualitas, kesehatan reproduksi dan hak-hak mereka. Dibutuhkan suatu program dan strategi yang dapat membantu para perempuan memiliki rasa percaya diri dan kemampuan untuk memiliki otoritas dan kontrol atas tubuh mereka, sehingga perempuan dapat memperjuangkan hak-hak mereka dan menjadi berdaya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu upaya tersebut adalah dengan membuka akses informasi, pendidikan dan layanan konseling yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi dan seksualitas yang ramah dan terbuka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Apa itu  SSKR?&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekolah Seksualitas dan Reproduksi adalah sebuah sekolah yang dirancang untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan dalam bidang seksualitas dan kesehatan reproduksi, tujuannya adalah agar setiap orang memiliki kontrol dan otoritas tubuh mereka terutama dalam memilih metode perawatan untuk dirinya sendiri. SSKR terdiri dari 16 sesi dan dilaksanakan 2 kali seminggu (Sabtu dan Minggu) dalam 2 bulan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Dimana?&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yogyakarta, 1 Mei - 20 Juni 2010&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Materi apa saja yang termasuk dalam SSKR?&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Seksualitas dan Kesehatan Reproduksi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Hak-Hak Seksual dan Reproduksi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Otoritas Tubuh&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Seksualitas, Agama dan Budaya&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5. Seks dan Media&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;6. Pendidikan Seks&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;7. Anatomi dan Fisiologi Organ Seksual dan Reproduksi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;8. Menstruasi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;9. Kesehatan Payudara&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;10. Kontrasepsi&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;11. Kehamilan dan Menyusui&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;12. Aborsi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;13. Penyakit  dan Infeksi Menular Seksual&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;14. Penyakit dan Kelainan Organ Reproduksi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;15. Keberagaman Seksual&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;16. Sexual Pleasure&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;17. Tabu dan Mitos&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;18. Emotions &amp;amp; Relationship&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;19. Pemeriksaan Fisik&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Berapa biaya yang dibutuhkan untuk mengikuti program ini?&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;HIVOS akan menanggung seluruh biaya pelatihan bagi peserta yang lolos seleksi. Biaya tersebut meliputi kebutuhan peserta selama pelatihan yang berlangsung pada tanggal 1 Mei – 20 Juni 2010.  Setiap  peserta diwajibkan untuk mengikuti seluruh kegiatan selama pelatihan dan bersedia menanggung keseluruhan biaya pelatihan jika mengundurkan diri saat rangkaian  kegiatan sedang berlangsung.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Siapa saja yang dapat berpartisipasi dalam  SSKR?&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perempuan dan Laki-laki usia 18-28 tahun yang berdomisili di Yogyakarta, memiliki ketertarikan dan minat untuk mempelajari seksualitas dan  kesehatan reproduksi dapat mendaftar menjadi peserta workshop SSKR. Lima belas orang pendaftar (8 perempuan dan 7 laki-laki) akan dipilih oleh panitia penyeleksi berdasarkan formulir yang telah dikirimkan. Silahkan menghubungi panitia melalui e-mail: samsara.sskr@gmail.com untuk permintaan formulir pendaftaran atau dapat diunduh dari http://samsara-sskr.blogspot.com/. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Bagaimana proses pengiriman formulir pendaftaran program? &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Formulir pendaftaran peserta SSKR yang telah diisi lengkap dapat langsung dikirimkan melalui e-mail, dengan alamat samsara.sskr@gmail.com. Batas waktu pengembalian formulir pendaftaran adalah 17 April 2010.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengumuman hasil seleksi peserta SSKR akan diumumkan pada tanggal 19 April 2010. Jika anda memiliki pertanyaan dan membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai workshop SSKR, silahkan menghubungi kami melalui e-mail, ke samsara.sskr@gmail.com. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Informasi lebih lanjut :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;SAMSARA +62274-6686120&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Email : samsara.indonesia@gmail.com&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cp : Zul 085228317769&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433852997966109948-7352576794128588584?l=samsaraindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/feeds/7352576794128588584/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2010/04/sekolah-seksualitas-dan-kesehatan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/7352576794128588584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/7352576794128588584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2010/04/sekolah-seksualitas-dan-kesehatan.html' title='Sekolah Seksualitas dan Kesehatan Reproduksi (SSKR)'/><author><name>samsara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06928317136208780151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433852997966109948.post-1011874363989925893</id><published>2010-03-31T11:21:00.001+07:00</published><updated>2011-05-25T00:03:52.368+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Layanan Aborsi Aman Sebagai Pemenuhan Hak Perempuan</title><content type='html'>Oleh : Inna Hudaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DIARY OF LOSS : Penuturan Aborsi Tidak Aman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih muda dan penuh keingintahuan ketika pertama kali menginjakkan kaki di Jogja. Apa yang saya tahu tentang seks hanya terbatas dari cerita teman, film porno, majalah atau internet. Apa yang saya tahu tentang seks adalah bahwa seks itu indah, asyik, enak dan menyenangkan. Dan sebagai perempuan, lingkungan saya seakan memberi tahu bahwa itulah cara untuk memuaskan pasangan agar ia tidak lari ke pangkuan perempuan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak terfikir bahwa seks itu beresiko, saya tidak pernah memikirkan konsekuensi sosial dari seks pra-nikah. Saya hanya tahu bahwa kondom bisa membantu saya menghindari kehamilan. Namun keyakinan saya pada kondom selalu kalah oleh keluhan pasangan bahwa kondom itu tidak enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, pada tahun 2004 saya mengalami kehamilan tidak diinginkan. Tanpa informasi yang cukup tentang efek dan resiko aborsi, konsekuensi sosial dan hukum, saya akhirnya melakukan aborsi tidak aman. Saya mengalami perdarahan berat selama 2 minggu, belum lagi rasa sakit berkepanjangan pasca aborsi. Dan yang terberat adalah mengalami post abortion syndrome. Gejala dari PAS yang saya alami adalah : sulit konsentrasi, insomnia, kenaikan berat badan, emosional, mudah menangis/tertawa tanpa alasan, mimpi buruk, psikosomatis, numbness dan menarik diri dari lingkungan. Efek terburuk dari PAS adalah karena saya menjadi orang yang sangat ’negatif’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehamilan Tidak Diinginkan dan Aborsi Tidak Aman merupakan masalah global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehamilan tidak aman merupakan kejadian umum yang dialami oleh perempuan baik mereka yang sudah menikah ataupun ibu rumah tangga. Estimasi global menyebutkan bahwa 4 dari 10 kehamilan adalah kehamilan tidak diinginkan . Dari 45 juta aborsi yang terjadi setiap tahunnya di dunia, 19 juta merupakan aborsi tidak aman dengan 5 juta diantaranya dirawat di rumah sakit akibat komplikasi . Bahkan di beberapa negara afrika, 50% kematian perempuan berhubungan dengan kehamilan yang berakhir dengan aborsi tidak aman. 20% dari perempuan yang melakukan aborsi tidak aman mengalami infeksi saluran reproduksi . Aborsi yang tidak aman juga menyumbangkan 11% dari Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Read More..&lt;br /&gt;&lt;a href="http://abortus.blogspot.com/2010/03/layanan-aborsi-aman-sebagai-pemenuhan.html"&gt;Layanan Aborsi Aman Sebagai Pemenuhan Hak Perempuan&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433852997966109948-1011874363989925893?l=samsaraindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://abortus.blogspot.com/2010/03/layanan-aborsi-aman-sebagai-pemenuhan.html' title='Layanan Aborsi Aman Sebagai Pemenuhan Hak Perempuan'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/feeds/1011874363989925893/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2010/03/layanan-aborsi-aman-sebagai-pemenuhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/1011874363989925893'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/1011874363989925893'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2010/03/layanan-aborsi-aman-sebagai-pemenuhan.html' title='Layanan Aborsi Aman Sebagai Pemenuhan Hak Perempuan'/><author><name>samsara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06928317136208780151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433852997966109948.post-3169292995788122115</id><published>2010-01-26T21:55:00.001+07:00</published><updated>2011-05-25T00:04:32.126+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Aborsi Sebagai Suara Hati Perempuan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh: Yendi Amalia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membicarakan aborsi sebenarnya membicarakan perempuan. Karena itu persoalan aborsi adalah juga persoalan perempuan, yang sampai sekarang, dianggap Gadis Arivia, perlu dielaborasi dan dicerahkan kepada pihak-pihak yang mengambil satu sisi perdebatan, yakni cara pandang tradisional yang justru mengesampingkan kepentingan perempuan sendiri.Selama ini masih banyak yang memandang aborsi sebagai hitam dan putih yang sama sekali tidak dapat bersinggungan, hingga hanya tersedia dua pilihan untuk menyikapinya: pro atau kontra. Setuju atau menolak. Perempuan dalam hal ini juga selalu dipandang sebagai pelaku tunggal aborsi, di mana masyarakat dan pemerintah seperti menutup mata dengan adanya permasalahan dalam aborsi yang mau tidak mau berkaitan langsung dengan kehidupan perempuan dan orang-orang di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Faktanya, tidak kurang dari 2 juta perempuan Indonesia setiap tahun melakukan aborsi karena Kehamilan yang Tidak Diinginkan (KTD). Hasil penelitian oleh Pusat Kesehatan UI dan Yayasan Kesehatan Perempuan tahun 2003, ditemukan bahwa 87% mereka yang melakukan aborsi adalah ibu rumah tangga yang memiliki suami. Ditemukan pula bahwa dari 2 juta kasus pertahun itu, kebanyakan melakukan aborsi yang tidak aman. Selain itu, di ASEAN, Indonesia merupakan yang tertinggi dalam angka kematian ibu. Salah satu faktor yang menyebabkan kematian tersebut adalah pendarahan, dan kasus pendarahan terjadi pada kasus aborsi yang tidak aman. Kasus aborsi yang menyebabkan kematian berkisar antara 13-50 %  dari kasus kematian akibat pendarahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan laporan WHO tahun 2006, angka ini meningkat menjadi 2,3 juta kasus per tahun. Diasumsikan terjadi 6.301 kasus setiap hari atau 4 kejadian setiap detiknya. Fakta yang mengejutkan bahwa 70% dari pelaku aborsi tersebut adalah ibu rumah tangga. Penelitian Yayasan Kesehatan Perempuan pada tahun 2003 menyebutkan 87% yang melakukan aborsi adalah istri dan ibu, hanya 12% oleh remaja putri. Hasil riset ini jauh berbeda dengan anggapan bahwa aborsi identik dengan seks bebas yang mengakibatkan KTD. Riset-riset tersebut merupakan riset klinis, dalam artian data tersebut didapatkan dari rumah sakit, klinik atau puskesmas. Itu sebabnya hasil riset menunjukkan bahwa mayoritas pelaku aborsi adalah ibu rumah tangga. Namun, riset tersebut tidak menjangkau aborsi ilegal yang banyak dilakukan oleh perempuan pra-nikah. Padahal, menurut Inna Hudaya dari Samsara, badan layanan penyuluhan aborsi berbasis dalam jaringan, dari jumlah itu pasti lebih besar lagi, karena ibarat fenomena gunung es, perempuan pra-nikah yang mau melakukan aborsi pasti sungkan dan tidak mudah mendapatkan akses pelayanan ke rumah sakit, puskesmas atau klinik karena terbentur dengan persyaratan umur, status atau ekonomi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, ketika dihadapkan pada persoalan kehamilan yang tidak dikehendaki, perempuan adalah pihak yang paling terbebani dan paling bertanggung jawab. Ketika menginginkan pelayanan aborsi yang aman, nyaris tidak ada dokter yang mau membantu. Begitu juga saat perempuan berkata bahwa ia tidak menghendaki kehamilannya, dokter akan menolak. Hal yang menghambat pelayanan aborsi oleh dokter, menurut  Prof. Dr. Sudraji Sumapraja SpOG dari POGI karena adanya sumpah dokter Indonesia yang antara lain menyatakan “menghormati semua hidup insani mulai dari saat pembuahan”. Yang artinya, kebanyakan para dokter menganggap bahwa kehidupan telah dimulai saat sel telur dan sperma bertemu. Karena itu aborsi dipandang sebagai kejahatan terhadap nyawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya kebanyakan dari mereka kemudian lari ke praktek dukun pijat atau melalukan aborsi sendiri. Kasus seperti inilah yang paling sering menimbulkan resiko pendarahan dan berujung kematian. Dalam www.womenonweb.org, situs mengenai aborsi, ditulis bahwa setiap tahunnya 42 juta perempuan di dunia melakukan aborsi dan setiap 7 menit seorang perempuan meninggal dunia secara sia-sia karena melakukan aborsi yang tidak aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kasus aborsi muncul dan terungkap, masyarakat hanya melihat permasalahan aborsi hanya sebatas masalah moral dan kriminal. Jika dilihat lebih jauh dan dalam, apakah memang benar bahwa aborsi adalah persoalan yang hitam putih? Bagaimana koridor agama dan Undang-Undang mengatur aborsi? Lalu apa yang bisa dilakukan pemerintah dan masyarakat untuk menyikapi masalah aborsi dan perempuan sebagai pelakunya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aborsi menjadi pilihan saat terjadi kehamilan yang tidak diinginkan (KTD). Di masa Yunani kuno, kehamilan yang mendadak juga sesuatu yang tidak begitu diinginkan, bukan hanya bagi wanita yang telah menikah tetapi juga mereka yang belum. Untuk menghadapi hal demikian, orang-orang Yunani mempraktekkan perlindungan selama hubungan badan atau melakukan aborsi. Dalam kasus kehamilan mendadak, perempuan-perempuan Yunani biasanya harus memilih antara menggugurkan dengan sengaja (dengan mantera-mantera, melakukan pekerjaan berat atau pekerjaan badan) dan aborsi. Segalanya bergantung kepada wanita tersebut dalam menentukan cara apa yang akan ia gunakan. Hanya dalam kasus aborsi, kehadiran sang suami atau tuan (jika ia budak) sangat dibutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika terjadi kehamilan yang tidak diinginkan (KTD), hanya ada 3 pilihan: menjadi orangtua (ibu), adopsi atau aborsi. Tidak sedikit perempuan di luar nikah memilih pilihan yang terakhir. Banyak yang kemudian berpikir bahwa setelah aborsi perempuan merasa lega. Benarkah demikian? Apakah aborsi merupakan jalan terbaik dan tidak memiliki konsekuensi yang fatal? Atau aborsi dengan alasan apa pun tidak boleh dilakukan karena pelakunya akan melanggar etika, moral dan dianggap sebagai pelaku kejahatan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama mari kita pahami lebih dulu apa itu aborsi. Mengacu pada Kees Berten, kata aborsi sendiri berasal dari bahasa Inggris Abortion yang mengacu pada dua arti. Pertama, aborsi yang mengandung arti keguguran yaitu secara tidak sengaja mengeluarkan janin yang belum waktunya lahir. Ini disebut juga abortus spontan. Kedua, tindakan sengaja untuk mengeluarkan janin dikarenakan suatu alasan dan hal itu bertentangan dengan undang-undang. Ini dibedakan menjadi tiga, yaitu abortus buatan yaitu abortus terjadi sebagai akibat suatu tindakan; kedua abortus terapeutik yaitu abortus buatan yang dilakukan atas dasar alasan medis untuk kepentingan ibu, baik fisik, mental maupun sosial; yang ketiga adalah abortus nonterapeutik yaitu abortus buatan yang dilakukan tidak atas dasar alasan medis. Terjadi perdebatan yang menyangkut dilakukannya abortus yaitu antara kelompok pro-choice dengan kelompok pro-life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang dapat menyetujui tindakan abortus, menekankan hak perempuan bersangkutan untuk mengambil keputusan tentang tubuhnya sendiri. Ini yang dinamakan dengan pro-choice. Sedang mereka yang menolak abortus sebagai tindakan yang tidak etis, menggarisbawahi hak fetus dalam kandungan (pro-life). Masalahnya adalah apakah fetus di dalam kandungan ibunya sungguh-sungguh memiliki hak itu? Saat pembuahan atau pada saat lebih lanjut dalam perkembangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut World Health Organization (WHO) pengertian aborsi adalah penghentian kehamilan sebelum janin berusia 20 minggu karena secara medis janin tidak bisa bertahan di luar kandungan. Sebaliknya bila penghentian kehamilan dilakukan saat janin sudah berusia berusia di atas 20 minggu maka hal tersebut adalah infanticide atau pembunuhan janin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti disebutkan di atas, dua kubu yang  menyikapi aborsi, kelompok pro choice dan kelompok pro life saling berseberangan. Pro choice menyetujui legalisasi aborsi atas permintaan, mereka menamakan dirinya sebagai pro-pilihan. Kelompok ini setuju pada pilihan dan cenderung percaya bahwa fetus bukan makhluk manusiawi, atau dia (jika makhluk manusia) tidak mempunyai hak dan kepentingan dan tidak logis dilukiskan sebagai tak bersalah atau pun bersalah. Bahkan mereka mengatakan bahwa reproduksi manusia merupakan masalah yang sangat serius, pada umumnya berpandangan bahwa hak wanita akan kebebasan prokreatif bersifat mutlak dan harus tidak dihalangi. Sementara kelompok pro life anti dan menentang aborsi. Kelompok ini memandang bahwa fetus manusia merupakan makhluk yang tidak bersalah dan tidak boleh dibunuh dalam situasi apa pun. Bagi mereka, fetus memiliki hak atas kehidupan yang tidak boleh dilanggar oleh siapa pun, sama seperti membunuh orang yang tidak bersalah tidak bisa dibenarkan, karena ia berhak atas kehidupan. Kelompok pro life berpandangan bahwa hak wanita akan kebebasan prokreatif tidak mutlak.Maka aborsi dalam lingkup tertentu boleh jadi kurang jahat dibanding kejahatan lainnya. Akan tetapi tidak ada kejahatan, betapa pun kurang, yang secara moral netral. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam koridor agama, banyak pandangan yang tetap menganggap bahwa aborsi adalah dosa besar dan hukumnya haram. Di dalam Islam, terdapat beragam pandangan. Pandangan pertama dan yang paling populer di Indonesia adalah pelarangan pengguguran kandungan dalam umur berapa pun. Beberapa aliran di Indonesia bahkan mengharamkan pemakaian alat kontrasepsi. Namun, Avicenna atau Ibn Sina yang hidup pada zaman keemasan Islam (980-1037 M), memperkenalkan kontrasepsi pada dunia Barat yang saat itu masih dalam Abad Kegelapan. Dengan keahliannya pada dunia sains, Ibn Sina mampu menemukan sekitar 20 cara untuk mengontrol kelahiran. Sebuah aliran Islam lain menyetujui aborsi sebelum umur 40 hari. Muhammad Ibn Abi Said, misalnya, memperbolehkan pengguguran kandungan sebelum umur 80 hari. Bahkan sebuah aliran lainnya menyatakan pengguguran kandungan sebelum 120 hari tidak merupakan pembunuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa Gereja Katolik juga telah menyetujui aborsi, baik secara diam-diam maupun terbuka. Gereja Katolik yang menyetujui aborsi dengan terbuka adalah FutureChurch di Cleveland Ohio, berdiri pada tahun 1990. Beberapa insan Katolik yang mencoba menghentikan penghujatan terhadap aborsi bergabung dalam Catholic for Free Choice (CFC). Salah satu pengurus CFC adalah Rosemary Ruether, profesor teologi di Garrett-Evangelical Theological Seminary di Illinois. Berbasis di Washington DC, CFC turut menandatangani pernyataan yang dipublikasikan di New York Times pada 7 Oktober 1984. Dalam pernyataan ini disebutkan, tradisi Gereja Katolik mempunyai lebih dari satu pandangan mengenai aborsi sehingga pelaku aborsi tidak seharusnya dijuluki sebagai orang berdosa. Gereja Katolik lain yang tidak melontarkan hujatan akan aborsi adalah Gereja Katolik Bebas. Salah satu pastor Gereja ini, Harry Aveling menyatakan bahwa Gereja Katolik bebas tidak memberi pandangan tertentu mengenai aborsi karena bagi mereka aborsi adalah masalah pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sains dan praktik kedokteran pun mempunyai pandangan berbeda-beda. Walaupun beberapa dokter dengan tegas menyatakan peniadaan janin adalah pembunuhan, beberapa dokter lain berpendapat embrio yang berumur kurang dari tiga bulan tidak lebih keprimitifannya dari seekor katak ataupun ikan. Oleh karena itulah, hak hidup si janin masih tergantung pada badan yang mengandungnya, yaitu sang ibu. Dalam pandangan ini, para pembela aborsi pun dapat disebut pro-life karena hak untuk aborsi adalah hak yang membela kehidupan perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang melakukan aborsi dengan alasan yang beragam, antara lain: malu pada keluarga dan masyarakat karena hamil, masalah keuangan, faktor genetika, kesehatan mental, terlalu muda atau terlalu tua untuk hamil, masih menempuh pendidikan, memiliki alasan pribadi untuk tidak memiliki anak, alasan kesehatan, memiliki masalah hubungan dengan pasangan atau karena diperkosa dan inses. Aborsi juga dilakukan dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang melakukannya sendiri, datang ke klinik atau rumah sakit, dengan obat-obatan, ramuan bahkan pijat. Hasil penelitian kepada para pelaku aborsi juga menunjukkan reaksi mereka berbeda. Hasilnya menyatakan bahwa setelah aborsi mereka merasa takut, marah, malu, nyaman, percaya diri, bingung, kecewa, sedih, bersalah, terjebak, bodoh hingga tidak bisa merasakan apa-apa (numb). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sedikit yang paham bahwa sebenarnya aborsi memiliki resiko berbahaya dari segi medis, terutama jika aborsi yang dilakukan adalah aborsi tidak aman yang banyak dilakukan oleh dukun beranak, tukang pijat, jamu-jamuan atau obat-obatan tanpa didampingi tenaga medis profesional. Aborsi dapat mengakibatkan pendarahan hebat, lemah kandungan bahkan dapat memicu kanker rahim. Selain memiliki resiko medis, aborsi juga dapat mengakibatkan gangguan psikologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia ketika aborsi ilegal dan tidak aman masih menjadi pilihan bagi banyak perempuan pra-nikah, resiko terjadinya reaksi psikologis paska aborsi semakin meningkat. Menurut Alan Guttmacher Institute pada 2003, di Eropa di mana aborsi legal justru angka aborsi rendah. Namun di negara-negara berkembang seperti Indonesia di mana aborsi ilegal, angka aborsi justru tinggi. Rendahnya angka aborsi di Eropa karena adanya kesadaran masyarakat akan pendidikan seks dan angka pemakaian kontrasepsi yang tinggi. Pelegalan aborsi kemudian hanya mengurangi resiko terjadinya aborsi tidak aman. Selain itu budaya di Eropa memberikan ruang bagi seorang perempuan untuk menjadi orang tua tunggal (single mother). Hal ini berbeda dengan Indonesia di mana pendidikan seks masih dianggap tabu dan kesadaran pemakaian kontrasepsi yang rendah. Kedua faktor inilah yang kemudian memicu terjadinya Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD). Pendidikan seks dan kampanye pemakaian kondom dianggap sebagai pelegalan seks. Remaja diberi pendidikan moral tanpa diberi pemahaman yang benar akan tubuh mereka, tanpa dibekali mentalitas memperjuangkan hak-hak mereka, termasuk hak reproduksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inna Hudaya menambahkan, terlepas dari perdebatan pro-life dan pro-choice, dalam pengamatannya sebagai konselor, ada beberapa hal yang menjadi penyebab seorang post-abortus mengalami Post-Abortion Syndrome. Di antaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aborsi tidak aman yang dilakukan oleh dukun beranak, tukang pijat atau obat-obatan tertentu dapat mengakibatkan rasa sakit luar biasa. Rasa sakit inilah yang kemudian mengakibatkan trauma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Infeksi paska aborsi.&lt;br /&gt;Infeksi paska aborsi dapat bertahan lama, apalagi tidak semua perempuan post-abortus memiliki cukup keberanian untuk memeriksakan diri ke dokter. Rasa sakit yang terus menerus inilah yang kemudian mengakibatkan trauma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aborsi karena paksaan.&lt;br /&gt;Kami lebih memilih istilah unplanned pregnancy daripada unwanted pregnancy. Kenapa? Karena beberapa kehamilan yang tidak direncanakan bias berubah menjadi kehamilan yang diinginkan. Banyak perempuan yang kemudian ingin meneruskan kehamilannya namun dipaksa harus melakukan aborsi oleh pasangan atau keluarganya. Hal ini pulalah yang mengakibatkan trauma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menentang sistem keyakinan.&lt;br /&gt;Penyebab utama terjadinya Post-Abortion Syndrome adalah rasa bersalah. Rasa bersalah ini muncul karena si perempuan pada dasarnya meyakini bahwa aborsi adalah sesuatu yang salah dalam sistem keyakinannya. Namun karena kondisi tertentu ia harus tetap memilih melakukan aborsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak siap dan tidak mau menjadi ibu&lt;br /&gt;”Kestabilan” merupakan tujuan perempuan untuk memilih menjadi seorang ibu, namun peran sosial dan peran individual sebagai ibu kerap kali membuat seorang perempuan kelekahan fisik dan mentalnya, apalagi jika ia tidak didukung oleh keluarga, masyarakat apalagi oleh pasangannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maria Ulfah menambahkan, untuk kasus kehamilan yang tidak dikehendaki karena bencana perkosaan, dilihat dari sisi apa pun tentu sangat membebani perempuan. Untuk kasus seperti ini, mesti dicarikan solusi yang bijak. Kalau si perempuan tidak mampu menanggung itu, baik secara medis maupun psikis, maka kalau ia tidak menginginkan kehamilan terjadi pada rahimnya, yaitu tubuhnya, maka cukup menjadi alasan untuk digugurkan. Namun hal inilah yang terus menjadi sumber perdebatan antara kelompok yang setuju dengan aborsi dan yang menentang aborsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, aborsi adalah perbuatan kriminal dan perempuan-perempuan yang ketahuan telah melakukannya diganjar hukuman yang keras. Orang-orang dengan  prinsip pro-kehidupan (pro-menganggap aborsi sebagai pembunuhan, perbuatan yang keji dan pantas dihukum. Sebaliknya, para pendukung pro-pilihan (pro-choice), aborsi tidak mengindahkan kehidupan embrio dalam kandungan sang ibu. Oleh karena kepercayaan ini telah ditanamkan pada masyarakat, banyak perempuan yang melakukan aborsi merasa bersalah seumur hidup karena cap “pembunuh” tertanam dalam diri mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu juga hukum di Indonesia belum memberikan ruang bagi tindakan aborsi yang aman. Menurut Maria Ulfah, UU menutup sama sekali praktik aborsi dengan alasan apapun. Dalam UU Kesehatan juga terlihat sekali bahwa klausul tentang aborsi sangat bias jender. Di situ diterangkan, dokter bisa mengambil tindakan tertentu untuk menyelamatkan ibu dan janinnya. Padahal klausul ini menyangkut dua hal yang tidak mungkin dilakukan dalam konteks aborsi, dengan alasan menyelamatkan nyawa kedua-duanya karena dalam aborsi ada yang dikorbankan. Untuk itu perlu ada solusi berupa payung hukum untuk melindungi praktik ini dengan menyediakan dokter yang memiliki keahlian, terjamin keamanannya, sesuai prosedur standar kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika yang menjadi obyek pembahasan adalah prilaku, maka selanjutnya yang menjadi penilaian adalah etika dan moral seseorang yang menjadi refleksi atas tindakannya tersebut. Perempuan sebagai pelaku aborsi dapat disebut sebagai agen moral, namun seperti yang dikatakan oleh Simone de Beauvoir bahwa perempuan selalu ditolak untuk menjadi agen moral yang otonom, perempuan tidak pernah dibiarkan untuk memilih kehidupan yang baik untuk dirinya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal sebagai pelaku moral, setiap perempuan mempunyai kemampuan yang dapat digunakannya untuk bertindak secara moral sehingga mempunyai kewajiban dan tanggung jawab, dan bisa dituntut untuk bertanggung jawab atas tindakannya. Kemampuan itu berupa akal budi, kebebasan dan kemauan. Dengan kemampuan ini, pelaku moral dapat membuat pertimbangan moral dapat membuat pertimbangan moral sebelum bertindak, agar terhindar dari tindakan yang salah secara moral. Pelaku moral juga dapat memahami mana yang baik dan buruk secara moral. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sudut pandang moral, aborsi memiliki penilaian tersendiri. Menurut Plato dalam Republic (461), ia menganggap bahwa janin itu belum cukup untuk dianggap manusia, tapi baru dapat dianggap manusia jika sudah terlahir. Dalam kondisi seperti ini keberadaannya dapat diterima dan sah secara hukum. Sedangkan Aristoteles menyarankan bahwa semestinya aborsi dilakukan sebelum sang janin dianggap hidup dan mampu merasa. Artinya pada gerakan pertama sang janin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata “moral” memiliki arti etimologis yang sama dengan etika, dan dapat diartikan sama dengan pengertian etika, yakni nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau sekelompok orang dalam mengatur tingkah lakunya. Ketika membicarakan etika, maka kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut cara bertindak yang benar dan salah, hakekat kewajiban moral dan apa yang disebut kebaikan hidup. Pertanyaan mendasar dari Aristoteles dalam etika adalah „kehidupan baik yang begaimanakah yang harus saya jalani?“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aborsi merupakan bagian dari etika terapan. Aborsi sebagai masalah dibicarakan dan dipelajari dalam etika terapan. Etika terapan membahas masalah-masalah etis yang praktis dan aktual serta mempelajari masalah yang berimplikasi moral dan memiliki pengaruh timbal balik dengan etika teoritis. Perdebatan tentang masalah-masalah konkrit akhirnya akan menjelaskan dan mempertajam prinsip-prinsip moral yang umum. Etika terapan sangat membutuhkan bantuan dari teori etika. Etika terapan menggunakan prinsip-prinsip dan teori moral yang diharapkan sudah mempunyai dasar yang kokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah suatu kenyataan bahwa kita hidup dalam zaman yang semakin pluralistik, tidak terkecuali dalam hal moralitas. Setiap hari kita bertemu dengan orang-orang dari suku, daerah lapisan sosial dan agama yang berbeda. Dalam pertemuan langsung dan tidak langsung dengan berbagai lapisan dan kelompok masyarakat kita menyaksikan atau berhadapan dengan berbagai pandangan dan sikap yang, selain memiliki banyak kesamaan, memiliki juga banyak perbedaan bahkan pertentangan. Masing-masing pandangan mengklaim diri sebagai pandangan yang paling benar dan sahih. Kita mengalaminya sepertinya kesatuan tatanan normatif sudah tidak ada lagi. Berhadapan dengan situasi semacam ini, kita akhirnya bertanya, tapi yang kita tanyakan bukan hanya apa yang merupakan kewajiban kita dan apa yang tidak, melainkan manakah norma-norma untuk menentukan apa yang harus dianggap sebagai kewajiban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makin lama cara berpikir makin berubah. Manusia bukan batu yang mati dan “fanatik”. Sejak dulu kala telah banyak cara berpikir, seperti rasionalisme, individualisme, nasionalisme, sekularisme, materialisme, konsumerisme, pluralisme religius, serta cara berpikir dan pendidikan modern yang telah banyak mengubah lingkungan budaya, sosial dan rohani masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak masyarakat yang terjebak dalam kebudayaan rasa malu, yang menurut Kees Berten adalah di mana pengertian-pengertian seperti “hormat”, “reputasi”, “nama baik”, “gengsi” sangat ditekankan. Bila orang melakukan kejahatan, hal ini tidak dianggap sebagai sesuatu yang buruk saja, tapi harus disembunyikan dari orang lain. Malapetaka terjadi bila suatu kesalahan diketahui orang lain, sehingga pelakunya kehilangan muka. Bukan perbuatan jahat itu sendiri yang dianggap penting, melainkan yang tidak kalah penting adalah perbuatan jahat itu tidak akan diketahui untuk menghindari rasa malu. Sangsi dalam shame culture berasal dari luar, yaitu apa yang dikatakan dan dipikirkan orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sebuah isu tidak dibicarakan, ketika kebanyakan orang tutup mulut atau tidak mau mendengar, bukan berarti isu tersebut tidak penting. Kenyataannya, ketika sesuatu dianggap tabu untuk dibicarakan justru hal tersebut menjadi sebuah permasalahan besar. Tidak adanya ruang untuk membicarakan seks yang dianggap tabu justru menjadi penyebab kenapa angka aborsi semakin meningkat setiap tahunnya. Masyarakat tidak mendapatkan akses informasi mengenai seksualitas dan kesehatan reproduksi yang seharusnya menjadi hak mereka. Informasi menjadi kebutuhan dasar setiap orang, hak untuk mendapatkan informasi yang benar merupakan hal yang penting, tidak adanya ruang publik untuk membicarakan hal ini secara terbuka menyebabkan banyak orang akhirnya mendapatkan informasi yang salah. Hal ini pula yang menyebabkan banyak perempuan pada akhirnya melakukan aborsi tidak aman yang beresiko terhadap kesehatan fisik dan mental. Salah satu yang menjadi dorongan para perempuan untuk melakukan aborsi adalah karena budaya masyarakat di Indonesia tidak memberi ruang kepada perempuan untuk menjadi single mother dan pemberian label “anak haram” menjadi aib bagi keluarga dan momok yang menakutkan bagi para perempuan yang ingin mempertahankan janinnya. Hukum juga tidak berpihak pada calon anak yang masih dalam kandungan. Perempuan sebagai pelaku aborsi masih tersubordinasi dalam hukum Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan selalu menjadi korban, tersubordinasi dalam hukum, budaya bahkan dalam hak-hak reproduksinya sendiri. Rahim, di mana janin tumbuh berada di bawah kendali perempuan sebagai pemilik alat reproduksi. Itu sebabnya aborsi selalu dikaitkan sebagai masalah perempuan, kesalahan perempuan. Lelaki seakan menjadi bagian yang terpisahkan dalam permasalahan ini. Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) terjadi karena adanya hubungan seksual antara lelaki dan perempuan. Dalam hal ini lelaki turut berperan serta mengakibatkan terjadinya KTD yang berbuntut pada aborsi. Lelaki dan perempuan memiliki peran dan tanggung jawab yang sama dalam hal aborsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zumrotin K. Susilo dari Forum Kesehatan Perempuan menyatakan bahwa KTD bisa disebabkan kurangnya akses pada alat kontrasepsi atau kegagalan kontrasepsi, kemampuan ekonomi, inses, atau perkosaan. Selain itu juga karena diabaikannya hak reproduksi perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membicarakan hak reproduksi, Deklarasi Beijing di Cina menjadi dokumen penting hasil Konferensi Dunia ke-4 Tentang Perempuan. Dokumen ini secara jelas mendefinisikan kesehatan reproduksi sebagai keadaan kesejahteraan fisik, mental dan sosial secara lengkap, bukan hanya pencegahan penyakit atau kelemahan, yang berkaitan dengan sistem reproduksi, fungsi dan proses-prosesnya. Definisi semacam ini, sesungguhnya juga tidak berbeda jauh dengan pemahaman kesehatan yang diintroduksikan oleh Pasal 1 (1) dalam UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, walaupun dalam UU Kesehatan, lebih bersifat umum, dan tidak akan ditemukan definisi secara spesifik tentang kesehatan reproduksi. Faktor utama yang menyebabkan tidak terpenuhinya hak reproduksi remaja adalah karena tingkat pengetahuan yang kurang tentang seksualitas, terbatasnya informasi tentang kesehatan reproduksi dan ketidakterjangkauan remaja terhadap akses pelayanan kesehatan reproduksi, di samping pelayanan yang tidak memadai, serta sikap negatif terhadap anak perempuan dan tentu saja tindakan diskriminatif terhadap mereka. Satu kenyataan yang tak terbantahkan, kalangan remaja sering mendapatkan informasi tentang seksualitas dan reproduksi justru berasal dari teman-teman mereka, informasi parsial dalam media massa, maupun dalam buku-buku, yang kadang-kadang informasi itu tidak bisa dipastikan kebenarannya. Padahal, bagi remaja, hak mendapatkan informasi dan akses terhadap pelayanan merupakan hak kesehatan reproduksi yang utama. Sebab kebutuhan-kebutuhan akan informasi mengenai fungsi, sistem dan proses-proses reproduksi, sangat berkait erat dengan diri mereka sendiri, dan akan memiliki dampak sosial yang cukup berarti dalam bersosialisasi di kalangan sebaya mereka ataupun masyarakat pada umumnya. Pengabaian terhadap informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi bagi remaja, sesungguhnya merupakan bentuk pelangaran hak-hak reproduksi remaja yang nyata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah saatnya pemerintah melakukan perubahan melalui UU kesehatan mengenai aborsi. Pengakuan bangsa sebagai negara yang memegang adat dan budaya timur, dengan moral yang dijunjung tinggi, ternyata tak dapat menyelesaikan permasalahan aborsi. Moral dan agama tak dapat berjalan sendiri. Usaha mengurangi angka aborsi dengan mendengung-dengungkan moral tanpa bekal pengetahuan dan mentalitas sama saja mengajarkan remaja kita untuk bersikap hipokrit dan menyangkal hasrat seksual yang ada dalam diri setiap orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah saatnya kita lebih terbuka terhadap berbagai macam pandangan. Bila kita menghargai bermacam pandangan, bukankah perempuan juga seharusnya diberi hak untuk memilih? Hak untuk melaksanakan atau tidak pengguguran kandungannya? Dan hak untuk mendapat hidup layak, apa pun pilihan sang perempuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengamini pendapat Inna Hudaya saat ia berkata bahwa sudah saatnya juga kita tidak melihat lagi konsep pro-choice dan pro-life sebagai sebuah pembatas. Ada ruang gerak yang bebas di antara keduanya. Sebab, soal aborsi adalah persoalan yang sangat kompleks, tidak bisa hanya dilihat dari satu sudut pandang agama, hukum, atau medis saja. Aborsi harus dilihat secara komprehensif, karena pokok persoalan ini bukan berdiri sendiri. Ada berbagai faktor yang dapat kita lihat, termasuk agama, sosial, ekonomi, dan lain-lain. Selama ini, ketika masyarakat dan pemerintah bicara tentang aborsi, yang menjadi sasaran dan korban selalu kaum perempuan. Padahal penyebab orang melakukan aborsi beragam, termasuk partisipasi laki-laki yang selama ini tidak dilihat sebagai bagian dari pihak yang ikut berproses dalam kehamilan yang tidak dikehendaki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan aborsi lebih sering dilihat oleh masyarakat sebatas masalah etika-moral dan kriminalitas, sehingga pelakunya, perempuan, selalu disudutkan dalam koridor moral dan kejahatan kemanusiaan. Dalam keputusan aborsi, perempuan harus diberi hak untuk menentukan suara hati dan mengajukan argumentasi dengan klaim yang logis dan universal tanpa paksaan dari siapa pun. Seperti dijelaskan oleh Peter Adam Angeles, bahwa suara hati adalah tentang apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang seharusnya tidak dilakukan seseorang, dan atau tentang apa yang secara moral tidak baik, salah, jelek dan dilarang. Suara hati adalah bagian dari kodrat manusia yang membimbing dirinya menuju integrasi moral dari diri. Juga mencakup kemampuan interpretasi dimana pikiran memiliki berbagai kemampuan yang merupakan sebab bagi tindakan rasional. Kemampuan berkehendak untuk memilih, melakukan, memutuskan. Hati nurani merupakan sumber tingkah laku etis, memutuskan apa yang secara moral adalah terbaik untuk dilakukan dan mendorong kewajiban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Aristoteles, setiap tindakan mempunyai tujuan. Ada dua tujuan, tujuan yang dicari demi tujuan selanjutnya dan tujuan yang dicari demi tujuan itu sendiri. Apa yang dicari demi dirinya sendiri hanyalah satu: kebahagiaan. Kaidah dasarnya adalah bertindaklah sedemikian rupa sehingga manusia mencapai kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pembunuhan manusia lain yang jelas-jelas sudah bernyawa atas nama “jihad” menjadi halal, mengapa aborsi dengan segala pertimbangan dan pendidikan resikonya menjadi hal yang hitam putih? Maka soal aborsi, mengutip Gadis Arivia, tidakkah sebaiknya dikembalikan kepada keputusan perempuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;1. Ali Mudhofir, “Kamus Etika”, Pustaka Pelajar, 2009.&lt;br /&gt;2. Dr. Gadis Arivia,“Etika Feminis dan Aborsi” dalam Buku Feminisme: Sebuah Kata Hati, Penerbit Buku Kompas, 2006.&lt;br /&gt;3. Dalam wawancara dengan Inna Hudaya, 14 Desember 2009.&lt;br /&gt;4. Franz Magnis-Suseno, “Etika Dasar: Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral”, Pustaka Filsafat, Penerbit Kanisius, 1987.&lt;br /&gt;5.  “Hukum Fikih Aborsi Tidak Hitam-Putih”, Wawancara dengan Dra. Maria Ulfah Anshor, www.islamlib.com, 12 Desember 2004.&lt;br /&gt;6. Inna Hudaya, “Aborsi: Moral &amp;amp; Agama, Efektifkah?”, www.samsaraindonesiablogspot.com, 25 Mei 2009&lt;br /&gt;7. Jenny Teichman, “Etika Sosial”, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1998.&lt;br /&gt;8. Nikolaus A. Vrissimtzis, “Erotisme Yunani”, Penerbit Menara, 2006.&lt;br /&gt;9. Soe Tjen Marching, “Landasan Prinsip Aborsi”, www.samsaraindonesiablogspot.com, 20 Juni 2009&lt;br /&gt;10. www.womenonweborg&lt;br /&gt;11. “Aborsi dan Hak Reproduksi Perempuan”, Kompas Cyber Media, 17 Desember 2000.&lt;br /&gt;12. “Hak Reproduksi Remaja yang Terabaikan”, http://sulbar.bkkbn.go.id, 15 April 2009.&lt;br /&gt;13.  “Hukum Fikih Aborsi Tidak Hitam-Putih”, Wawancara dengan Dra. Maria Ulfah Anshor, www.islamlib.com, 12 Desember 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433852997966109948-3169292995788122115?l=samsaraindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/feeds/3169292995788122115/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2010/01/aborsi-sebagai-suara-hati-perempuan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/3169292995788122115'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/3169292995788122115'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2010/01/aborsi-sebagai-suara-hati-perempuan.html' title='Aborsi Sebagai Suara Hati Perempuan'/><author><name>samsara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06928317136208780151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433852997966109948.post-3791350410356805320</id><published>2009-10-03T00:27:00.001+07:00</published><updated>2011-05-24T22:21:57.199+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Post Abortion Syndrome : Mitos atau Realita?</title><content type='html'>&lt;div class="ecxMsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;&lt;b&gt;( Menengahi perdebatan Pro-Life dan Pro-choice )&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ecxMsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ecxMsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;Oleh : Inna Hudaya&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="ecxMsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="ecxMsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;Dalam sebuah artikel yang dikeluarkan oleh Jurnal Guttmacher Institute pada tahun 2006, Susan A.Cohen membahas mengenai mitos Post-Abortion Syndrome pada perempuan paska aborsi. Dalam artikel nya ini Cohen menyebutkan bahwa mitos tersebut sengaja digulirkan oleh kelompok pro-life untuk menakut-nakuti para perempuan agar tidak melakukan aborsi. benarkah demikian? &lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="ecxMsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="ecxMsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="ecxMsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;5 tahun yang lalu aborsi telah membawa saya kepada depresi berat selama kurang lebih 3 tahun lamanya. Setelah gagal melakukan konsultasi dengan para psikolog, paman google telah menghantarkan saya ke berbagai situs pemulihan paska aborsi yang notabene merupakan jaringan ministry gereja di Amerika Serikat. Dari situlah perkenalan pertama saya dengan Post-Abortion Syndrome. Saya lalu mengikuti program pemulihan mandiri.&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="ecxMsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="ecxMsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;Selesai mengikuti program pemulihan saya lalu berinisiatif untuk membuat blog yang menyediakan informasi lengkap mengenai aborsi dan pemulihan paska aborsi.. Saya percaya, bahwa di luar sana banyak orang yang mengalami situasi yang sama seperti saya dan membutuhkan informasi yang tepat untuk pemulihan mereka. Diluar dugaan, blog ini mendapat respon yang luar biasa yang akhirnya membuat saya, kiki dan grace sepakat untuk membuat sebuah organisasi yang khusus menangani trauma paska aborsi. Inilah awal berdirinya Samsara.&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="ecxMsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="ecxMsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;Karena awalnya samsara bersentuhan langsung dengan para activist pro-life, maka tidak heran jika pada awalnya samsara juga menunjukkan semangat pro-life. &lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="ecxMsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="ecxMsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;Namun setelah hampir 2 tahun di samsara, berinteraksi dengan banyak klien baik itu wanita maupun pria. Mau tidak mau, keyakinan dan pola pikir saya digoyah sedemikian rupa. Setiap kasus aborsi selalu unik dan berbeda. Tidak pernah saya menemukan kasus yang benar-benar sama. Ketika saya pikir saya sudah cukup paham mengenai isu ini, pemahaman saya kembali digoyah setiap kali datang klien baru.&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="ecxMsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="ecxMsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;Dalam usia yang masih begitu muda bagi sebuah organisasi, dibutuhkan keberanian dan kerendahan hati untuk terus kritis terhadap pekerjaan kita dan mengoreksi diri, bahkan mungkin merubah haluan.&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="ecxMsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="ecxMsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;Tidak semua perempuan /laki-laki post-abortus mengalami Post-Abortion Syndrome. Hal ini tentu saja meruntuhkan konsep yang telah di gulirkan kelompok pro-life. Namun kelompok pro-choice juga tidak sepenuhnya benar. Post-Abortion Syndrome bukan sekedar mitos. Karena ada banyak perempuan yang mengalaminya.&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="ecxMsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="ecxMsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;Terlepas dari perdebatan pro-life dan pro-choice, dalam pengamatan saya selama 2 tahun terakhir bekerja sebagai konselor, ada beberapa hal yang menjadi penyebab seorang post-abortus mengalami Post-Abortion Syndrome. Diantaranya adalah :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ecxMsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="ecxMsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;&lt;b&gt;Aborsi tidak aman.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="ecxMsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;Aborsi tidak aman yang dilakukan oleh dukun beranak, tukang pijat atau obat-obatan tertentu dapat mengakibatkan rasa sakit luar biasa. Rasa sakit inilah yang kemudian mengakibatkan trauma.&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="ecxMsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; font-size: 10pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;&lt;b&gt;Infeksi paska aborsi.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="ecxMsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;Infeksi paska aborsi dapat bertahan lama, apalagi tidak semua perempuan post-abortus memiliki cukup keberanian untuk memeriksakan diri ke dokter. Rasa sakit yang terus menerus inilah yang kemudian mengakibatkan trauma.&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="ecxMsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;&lt;b&gt;Aborsi karena paksaan.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="ecxMsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;Kami lebih memilih istilah unplanned pregnancy daripada unwanted pregnancy. Kenapa? Karena beberapa kehamilan yang tidak direncanakan bias berubah menjadi kehamilan yang diinginkan. Banyak perempuan yang kemudian ingin meneruskan kehamilannya namun dipaksa harus melakukan aborsi oleh pasangan atau keluarganya. Hal ini pulalah yang mengakibatkan trauma.&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="ecxMsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; font-size: 10pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;&lt;b&gt;Menentang sistem keyakinan.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="ecxMsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;Penyebab utama terjadinya Post-Abortion Syndrome adalah rasa bersalah. Rasa bersalah ini muncul karena si perempuan pada dasarnya meyakini bahwa aborsi adalah sesuatu yang salah dalam sistem keyakinannya. Namun karena kondisi tertentu ia harus tetap memilih melakukan aborsi.&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="ecxMsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="ecxMsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;Itu sebabnya, para perempuan yang mendapatkan prosedur aborsi yang aman, dan memilih melakukan aborsi atas kesadaran penuh tidak mengalami Post-Abortion Syndrome. Lebih-lebih lagi para perempuan yang memang sudah paham mengenai gender dan hak-hak perempuan, kemungkinan mereka mengalami Post-Abortion Syndrome sangat kecil.&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="ecxMsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="ecxMsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;Ketika berbicara tentang aborsi kita selalu terjebak oleh konsep pro-choice dan pro-life. Itu juga yang terjadi pada beberapa mahasiswa yang melakukan riset di samsara, biasanya mereka akan butuh waktu lama untuk memahami konsep dasar aborsi sebelum bergerak ke isu utama yang akan mereka bahas. Kebanyakan mereka yang terjebak dalam konsep ini adalah karena masih melihat isu aborsi dari sudut pandang agama, moral dan hukum. Padahal memahami isu aborsi tentu saja tidak dapat lepas dari konteks budaya, social, agama dan politik. &lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="ecxMsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="ecxMsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;Masih banyak orang yang berfikir bahwa menjadi seorang pro-choice berarti kita setuju dengan melegalkan aborsi. Padahal dengan menjadi seorang pro-choice berarti kita support terhadap pendidikan seks, kontrasepsi, keluarga berencana, dan tentu saja kesehatan reproduksi dan seksualitas. Aborsi adalah pilihan ketika kesemua sarana tadi telah diupayakan secara maksimal.&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="ecxMsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ecxMsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ecxMsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial; font-size: 10pt;"&gt;Sudah saatnya kita tidak melihat lagi konsep pro-choice dan pro-life sebagai sebuah pembatas. Ada ruang gerak yang bebas di antara keduanya. Dalam soal kerja, sebuah lembaga tentunya harus lebih fokus pada kebutuhan klien, bukan sekedar pada sebuah konsep dan ideologi. Setiap klien memiliki kebutuhan dan pendekatan yang berbeda. Pendekatan pro-life ataupun pro-choice bisa tetap dipakai dengan mengamati latar belakang dan kebutuhan klien.&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433852997966109948-3791350410356805320?l=samsaraindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/feeds/3791350410356805320/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2009/10/post-abortion-syndrome-mitos-atau.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/3791350410356805320'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/3791350410356805320'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2009/10/post-abortion-syndrome-mitos-atau.html' title='Post Abortion Syndrome : Mitos atau Realita?'/><author><name>samsara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06928317136208780151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433852997966109948.post-4326416439633844812</id><published>2009-09-10T20:31:00.001+07:00</published><updated>2011-05-24T22:22:49.773+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Konseling Pasca Aborsi'/><title type='text'>Crying is Healing ( Terapi Menangis )</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masih banyak yang berfikir bahwa menangis adalah sesuatu yang buruk. Seringkali orang memaksa dirinya untuk tidak menangis meskipun ia mengalami kesedihan dan kegelisahan. Banyak pula yang merasa bersalah dan merasa buruk setelah menangis. Artikel ini saya tulis untuk para klien yang akhir-akhir ini mungkin merasa tidak nyaman karena melalui berbagai peristiwa yang emosional. Salah seorang klien bahkan mengaku seringkali tidak dapat menahan tangisnya meskipun ada di tempat umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang sebenarnya terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita dibesarkan dengan budaya yang mengharuskan kita menjadi orang yang kuat, tegar dan sukses. Menangis dianggap sebagai sesuatu yang kontras dengan hal tersebut, sehingga banyak orang yang merasa dirinya lemah jika ia menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita percaya bahwa dengan tidak menangis kita telah berusaha tegar dan menjadi orang yang kuat. Benarkah demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berulang kali saya menulis di dalam buku saya dan beberapa artikel mengenai hal ini. Seringkali orang menganggap bahwa saya adalah orang yang kuat, terutama setelah melalui trauma paska aborsi yang melelahkan. Mereka yang masih dalam proses tersebut seringkali melihat saya terlalu tinggi. Seringkali mereka lupa bahwa apa yang saya dapatkan sekarang melalui proses yang panjang dan berliku. Proses yang membutuhkan banyak energi dan air mata. Ada banyak hal yang tidak terungkap hanya melalui tulisan atau obrolan pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda mungkin tidak tahu bahwa hingga hari ini saya masih sering menangis, masih sering merasa bersedih, marah atau mengurung diri sendiri karena merasa begitu kosong. Apakah sekarang saya masih pantas disebut sebagai orang yang kuat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, saya mendefinisikan orang yang kuat sebagai orang yang memahami dirinya, emosi-emosi di dalam dirinya, menerima, berdamai dan mencintai dirinya apa adanya. Tidak ada orang yang benar-benar kuat, yang ada adalah mereka yang memfokuskan dirinya pada kelebihannya dan menerima apa yang menjadi kekurangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa hubungannya dengan terapi menangis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menangis adalah sebuah proses dimana kita sedang bersentuhan dengan emosi yang ada di dalam diri kita. Melalui proses itu kita dapat memahami situasi yang terjadi. Seringkali kita menahan emosi-emosi tersebut sehingga memunculkan kegelisahan yang dalam. Menangis ibaratnya meng-unlock emosi-emosi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bukan berarti anda akan terus menangis terus menerus, berkali-kali dalam sehari dan terus terjadi setiap hari. Salah satu indicator bahwa terapi menangis berjalan dengan baik adalah ketika anda merasa lebih baik setelah menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan sebuah penelitian, terapi menangis dapat memberi pengaruh healing dan mengurangi rasa sakit. Perempuan menangis paling tidak 47 kali dalam setahun, sedangkan laki-laki hanya sekitar 7 kali dalam setahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menangis, sebagaimana tertawa,stress dan marah adalah bentuk ekspresi emosi yang memiliki tujuan praktis dan memberi banyak keuntungan bagi manusia untuk bertahan hidup. Misalnya, stress membuat tubuh kita bersiaga terhadap bahaya-bahaya tertentu, dan membantu kita untuk menghindari bahaya-bahaya tersebut tanpa perlu berfikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menangis dapat membantu anda merasa lebih baik dan mengurangi stress, juga dapat membuat tubuh anda tetap sehat. Kebanyakan orang merasa lega setelah menangis. Hal ini menunjukan bahwa ada peningkatan yang signifikan dalam angka, tipe dan jumlah hormone yang dilepaskan tubuh kita dibanding sebelum menangis. Dalam sebuah penelitian juga disebutkan bahwa menangis memiliki efek yang besar dan penting dalam proses healing, dan hal itu meningkatkan mood sekitar 88.8% bagi setiap orang yang sudah menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mata yang keluar pada saat kita menangis pada saat emosional ternyata berbeda dengan air mata biasa. Keduanya berasal dari glandula air mata yang sama yang memproduksi cairan yang dapat melindungi lapisan bola mata untuk membuat nya bebas iritasi, juga membantu melepaskan cairan ekstra ketika mata teriritasi. Namun air mata yang keluar pada saat emosional ternyata memiliki kandungan air mata yang berbeda yang dapat mengembalikan keseimbangan tubuh setelah peristiwa yang penuh stress.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;William Frey, seorang professor dari universitas Minnesota menyatakan bahwa ternyata kandungan kimia yang terbentuk pada saat stress dan emosional dapat dilepaskan melalui air mata pada saat menangis. Teori lain menyebutkan bahwa air mata diasosiasikan dengan emosi yang mengandung level tinggi protein, potassium, zat besi dan hormone, termasuk prolactin. Masih menurut Frey, stress dapat meningkatkan resiko penyakit jantung dan kerusakan pada bagian-bagian otak, kemampuan manusia untuk menangis menjadi bagian dari proses yang penting untuk keseimbangan dan bertahan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Paul Hannig adalah seorang terapis yang melakukan terapi menangis pada kliennya. Dalam hal ini Dr. Hannig memilih menyebutnya sebagai Deep feeling Therapy. Sama seperti terapi yang dilakukan pada pada proses konseling dan healing paska aborsi, sebelum memulai terapi ini ada beberapa hal yang harus diketahui untuk memastikan bahwa terapi ini akan berjalan dengan baik. Setiap gangguan emosional memiliki akar. Namun mekanisme pertahanan diri seseorang yang terlalu kuat seringkali menyangkal hal ini. Kebanyakan dari kita menyangkal bahwa kita memiliki masalah dan cenderung merasa yakin akan berhasil melaluinya. Mungkin hal ini akan berhasil dalam jangka waktu yang pendek, namun tidak untuk jangka waktu yang panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak terapi yang bias dilakukan dalam proses healing, bias dengan terapi menulis, tertawa, menari, menangis, dan lain sebagainya. Pada dasarnya apapun bias menjadi sebuah terapi. Melalui terapi ini sebenarnya yang kita lakukan adalah mentransfer energy negative melalui media-media tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, jika saya melakukan terapi menulis untuk melepaskan energy negative tersebut, mungkin anda dan yang lainnya akan memilih terapi lain yang lebih cocok untuk anda. Salah satunya adalah terapi menangis. Kuncinya, jangan melawan emosi dan perasaan anda. Biarkan emosi tersebut mengalir. Semakin anda melawan dan menolaknya maka semakin lama emosi tersebut berkutat dan mengganggu diri anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda akan melakukan terapi menangis, pastikan anda ditemani oleh seseorang yang paham situasinya. Seseorang yang tidak akan menahan anda untuk menangis. Seorang terapis yang baik memiliki kemampuan terapi bicara yang juga dilakukan bersamaan dengan terapi menangis. Ia akan mampu menggali emosi-emosi anda agar emosi terpendam anda keluar melalui tangisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertarik dengan terapi menangis? Hubungi konselor samsara.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433852997966109948-4326416439633844812?l=samsaraindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/feeds/4326416439633844812/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2009/09/crying-is-healing-terapi-menangis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/4326416439633844812'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/4326416439633844812'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2009/09/crying-is-healing-terapi-menangis.html' title='Crying is Healing ( Terapi Menangis )'/><author><name>samsara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06928317136208780151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433852997966109948.post-7432662031826216761</id><published>2009-08-23T05:01:00.003+07:00</published><updated>2011-05-27T01:00:37.684+07:00</updated><title type='text'>Aborsi &amp; The Blog</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika anda sampai di halaman ini ada beberapa kemungkinan yang membuat anda tertarik dengan materi yang ada di website ini. Bisa jadi karena anda sedang mencari informasi mengenai aborsi baik itu untuk riset atau kepentingan pribadi, mencari informasi bagi teman dekat atau keluarga anda, atau karena anda sedang mencari informasi di mana tempat untuk melakukan aborsi, bahkan bisa jadi anda adalah seseorang yang pernah melakukan aborsi atau post-abortive. Hanya sedikit kemungkinanannya anda tersesat secara tidak di sengaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun alasan anda, adalah sebuah langkah yang tepat ketika anda mulai membaca artikel-artikel yang tersedia di website ini karena dengan demikian anda telah mengakses informasi yang tepat demi membantu diri anda sendiri ataupun orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda tidak pernah melakukan aborsi sebelumnya, maka dengan mengetahui informasi mengenai aborsi dan segala resiko yang mungkin terjadi akibat prosedur tersebut dapat menambah wacana anda dan menjadi bahan pertimbangan ketika suatu saat anda di hadapkan pada situasi yang sulit untuk melakukan aborsi. Karena kesiapan mental seseorang ketika menghadapi prosedur aborsi dapat menentukan cepat atau lambatnya proses pemulihan akibat aborsi baik itu secara fisik ataupun psikis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda memiliki sahabat, keluarga, atau pasangan yang pernah melakukan prosedur aborsi maka anda dapat lebih memahami perubahan fisik dan terutama psikis yang terjadi pada mereka. Akan jauh lebih baik jika kemudian anda dapat memberikan support sehingga mereka bisa cepat pulih dari trauma. Ada beberapa hal yang memang perlu di perhatikan ketika anda menghadapi seseorang post-abortive, salah-salah anda bukannya mendukung proses pemulihannya namun justru malah memperburuk keadaannya. Oleh karena itu perlu kehati-hatian dalam menangani seorang post-abortive. Bekali diri anda dengan informasi yang cukup untuk bisa memberi dukungan bagi orang-orang yang anda cintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih lagi ketika anda adalah seorang post-abortus, saya percaya bahwa perjalanan anda hingga sampai di halaman ini adalah langkah awal proses pemulihan sebagaimana yang anda harapkan. Kebanyakan perempuan post-abortus tidak menyadari bahwa telah terjadi perubahan mental yang secara pelan-pelan merongrong kehidupan mereka, namun seiring dengan waktu para perempuan post-abortus akan mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan kehidupan mereka sehingga berbagai pertanyaan akan muncul untuk mencari tahu akar permasalahan yang sebenarnya terjadi. Artikel mengenai gejala post-abortion syndrome mungkin akan membuat anda semakin kaget karena mendekati beberapa tanda perubahan psikis yang anda alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samsara adalah organisasi nirlaba yang berkomitmen membantu dan menyediakan program pemulihan paska aborsi bagi mereka yang menderita akibat trauma aborsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samsara diambil dari bahasa Sansekerta yang artinya re-born atau terlahir kembali. Setiap orang berhak atas kehidupan yang lebih baik. Setiap perempuan yang menderita akibat konsekuensi aborsi dapat kembali meraih kehidupan yang baik .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samsara lahir dari sebuah media blog yang secara bertahap menjadi sumber informasi dan komunikasi bagi para perempuan dan pasangan yang mengalami aborsi. Komitmen para anggota komunitas untuk memberikan bantuan dan pelayanan konseling menjadi modal utama samsara sebagai organisasi pertama di Indonesia yang fokus terhadap kesehatan mental perempuan dan keluarga paska aborsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tidak perlu khawatir, sekalipun anda seorang post-abortus namun kesempatan anda untuk pulih dan membangun kehidupan yang jauh lebih baik tetap besar, bahkan bisa jadi anda tidak akan percaya dengan konsekuensi positif yang bisa terjadi ketika anda benar-benar berhasil melalui beberapa tahap proses pemulihan. Tidak ada yang mudah dalam proses tersebut, anda akan banyak merasakan luka dan lebih banyak mengeluarkan air mata, anda akan merasa lelah dan mungkin sesekali jenuh dengan berbagai tahapan yang ada. Semuanya di pastikan akan sulit, butuh perjuangan dan keinginan yang besar untuk kembali pulih. Namun, sebagaimana yang anda tahu akan selalu ada buah yang manis di balik setiap perjuangan yang sulit. Anda akan memetik sesuatu yang berharga ketika anda berhasil melalui proses tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, tidak akan mudah apalagi jika anda tak memiliki keluarga atau lingkungan yang member support, namun percayalah bahwa Tuhan selalu menyertai perjalanan siapapun yang merasa lemah dan membutuhkan pertolongannya, anda hanya tinggal memintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjuanglah semampu anda untuk pulih dan membangun kehidupan yang lebih baik, sisanya biarlah Tuhan yang mengurusnya untuk anda.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433852997966109948-7432662031826216761?l=samsaraindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/feeds/7432662031826216761/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2009/08/aborsi-blog.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/7432662031826216761'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/7432662031826216761'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2009/08/aborsi-blog.html' title='Aborsi &amp; The Blog'/><author><name>samsara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06928317136208780151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433852997966109948.post-130454112867653114</id><published>2009-08-21T00:17:00.001+07:00</published><updated>2011-05-14T11:17:53.271+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menjadi Orang Tua'/><title type='text'>Single Parent</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Oleh : Inna Hudaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Banyak yang menyatakan bahwa menjadi single parent adalah sulit.  Benarkah bahwa menjadi orangtua hanya akan lengkap ketika ada pasangan yang membantu? Seringkali menjadi single parent memiliki makna yang negative. Benarkah demikian? Semuanya adalah tentang rasa percaya diri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Tidak diragukan lagi bahwa menjadi single parent adalah sebuah tantangan yang tangguh. Setiap keluarga single parent memiliki tantangan yang unik dan berbeda. Anda berjuang menyeimbangkan pekerjaan, merawat anak, pekerjaan rumah, aktivitas anak dan jadwal-jadwal lainnya. Anda seringkali harus mengorbankan waktu luang untuk diri anda sendiri demi keluarga anda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Anda perlu memperhatikan beberapa hal berikut ketika akan menjadi single parent :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;·    Siapkah anda berperan ganda sebagai ibu dan ayah?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;·    Siapkah anda berkomitmen panjang sebagai orangtua?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;·    Apa saja dukungan yang anda siapkan untuk keluarga anda?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;·    Siapkah anda bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;·    Yakinkah anda bahwa anda siap melalui masa-masa sulit bersama keluarga anda?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Banyak yang pesimis ketika mereka dihadapkan menjadi single parent. Namun anda akan kaget melihat kemampuan banyak orang yang berhasil berjuang melewati periode ini. Seringkali mereka melihat ke belakang dan takjub melihat hal-hal yang berhasil mereka lewati demi mempertahankan hidup keluarga mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Menjadi single parent membutuhkan rasa percaya diri yang tinggi. Anda perlu yakin bahwa apa yang anda lakukan adalah hal terbaik dan akan membuahkan hasil yang baik pula. Seringkali kita takut tidak dapat memberikan yang terbaik bagi anak, seringkali pula kita lupa bahwa sebenarnya anak lah yang memberi lebih banyak pada kita. Kita sering lupa bahwa kita belajar banyak dari anak-anak, bahkan menemukan kekuatan yang tadinya tak terlihat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433852997966109948-130454112867653114?l=samsaraindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/feeds/130454112867653114/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2009/08/single-parent.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/130454112867653114'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/130454112867653114'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2009/08/single-parent.html' title='Single Parent'/><author><name>samsara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06928317136208780151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433852997966109948.post-7348354093046028249</id><published>2009-08-21T00:15:00.004+07:00</published><updated>2011-05-14T11:18:11.997+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menjadi Orang Tua'/><title type='text'>Tantangan sebagai orangtua</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Oleh : Inna Hudaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #323232; line-height: 18px;"&gt;&lt;/span&gt;Menjadi orangtua berarti menciptakan suasana saling mencintai, mengasihi dan aman bagi anak anda ketika mereka tumbuh besar. Anda akan membutuhkan kemampuan yang berbeda-beda dalam setiap pertumbuhan dan perkembangan anak anda. Namun biasanya anak anda akan tetap tergantung pada anda. Anda akan belajar menjadi ahli dalam memahami anak anda dan mengetahu apa yang mereka butuhkan untuk tumbuh dan berkembang menjadi seorang anak yang sehat dan bahagia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Mencintai anak anda dengan tulus adalah hal penting yang dapat anda lakukan. Tak hanya itu, anda seringkali harus membuat keputusan yang berhubungan dengan cara anda merawat dan membesarkan mereka. Tanggung jawab ini membawa kebahagiaan dan kegembiraan, walaupun sesekali dapat menjadi terlampaui berat, membuat frustasi dan kadang-kadang membosankan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Anda membutuhkan bantuan keluarga, teman, buku-buku ataupun komunitas pendukung untuk dapat mengatasi tantangan tersebut. berbagi pengalaman sesame orang tua dapat membantu anda menemukan solusi dan rasa percaya diri dalam mengatasi tantangan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #323232; font-family: inherit; line-height: 18px;"&gt;Menjadi orangtua berarti anda menumbuhkan kekuatan baru di dalam diri anda. Anda belajar untuk mengatasi masa-masa sulit dan menemukan kekuatan di dalamnya, bahkan hal-hal yang tidak anda sadari selama ini. Apa saja yang menjadi kekuatan anda sebagai orangtua?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cinta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Cinta selalu menjadi kekuatan utama anda. Anda memiliki kekuatan cinta yang tak terbatas untuk diberikan kepada anak anda. Kekuatan ini selalu dibutuhkan di setiap tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak anda. Seringkali ada situasi dimana anak anda membutuhkan cinta anda lebih dari biasanya, terutama ketika mereka sakit atau melalui masa-masa sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Toleransi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mengembangkan sikap toleransi adalah sikap yang perlu anda tunjukan ketika menghadapi masa-masa yang tak terkendali. Anda harus bersikap tegas sebagai orangtua, namun anda juga perlu bersikap toleran kepada anak anda ketika dihadapkan pada situasi sulit. Menunjukkan rasa toleransi dapat menumbuhkan sikap menghargai pada anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Humor&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Percayalah, humor adalah salah satu yang membuat keluarga menjadi sehat. Anda membutuhkan kekuatan ini untuk menyadari bahwa tak ada orang tua ataupun keluarga yang sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sabar dan Bijaksana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bersikap sabar dan bijaksana selalu membantu. Kadangkala anda harus mendengarkan keinginan anak anda, dan di lain waktu anda harus bersikap tegas dan melakukan aksi. Ingatlah bahwa anda selalu memiliki kekuatan yang menyembuhkan, yaitu pelukan, ciuman dan kata-kata yang menenangkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433852997966109948-7348354093046028249?l=samsaraindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/feeds/7348354093046028249/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2009/08/tantangan-sebagai-orangtua.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/7348354093046028249'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/7348354093046028249'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2009/08/tantangan-sebagai-orangtua.html' title='Tantangan sebagai orangtua'/><author><name>samsara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06928317136208780151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433852997966109948.post-8029117376616104502</id><published>2009-08-21T00:13:00.001+07:00</published><updated>2011-05-14T11:18:25.349+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menjadi Orang Tua'/><title type='text'>Menjadi Orangtua</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aDlLOO-c06M/So7V6OWBddI/AAAAAAAAANI/rd6Am87ItBQ/s1600-h/family.png" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5372466601759176146" src="http://2.bp.blogspot.com/_aDlLOO-c06M/So7V6OWBddI/AAAAAAAAANI/rd6Am87ItBQ/s200/family.png" style="cursor: pointer; float: left; height: 130px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 130px;" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh : Inna Hudaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Menjadi orangtua adalah sebuah pilihan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Menjadi orangtua tidak datang begitu saja dengan petunjuk manual mengenai apa yang bias dilakukan dalam situasi tertentu. Hal ini akan menjadi hal yang sulit sekaligus penting yang akan anda lakukan, tentu saja dengan penghargaan yang luar biasa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Menjadi orangtua di usia muda merupakan hal yang bagus, namun itu juga berarti banyak masalah yang dihadapi. Ada saat dimana anda masih merasa bahwa anda membutuhkan orang lain untuk menjaga anda, namun ada justru harus menjaga dan merawat seorang anak. Ada saat pula dimana anda ingin bebas dari tanggung jawab untuk mengurus seorang anak dan bersenang-senang seperti biasanya. Tentu akan ada perubahan yang drastic ketika anda hanya mengurus diri sendiri dan harusmengurus seorang anak. Akan berbeda pula jika anda mendapat dukungan dan bantuan dari keluarga atau lingkungan dan jika tidak ada dukungan sama sekali. Hal-hal tersebut dapat membuat segalanya menjadi lebih mudah atau justru lebih sulit. Menjadi orangtua adalah salah satu hal yang sulit dilakukan, namun itu juga amat berharga dan menyenangkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Merawat dan mendidik seorang anak adalah sebuah tanggung jawab besar. Butuh kesiapan dan latihan untuk menghadapi situasi-situasi tertentu. Kebanyakan orangtua belajar sambil melakukannya, dipengaruhi oleh banyak faktor seperti pola pengasuhan yang didapat ketika kecil atau apapun yang mereka baca dan lihat dalam proses tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Gaya mengasuh bias berbeda bagi setiap orangtua, namun hamper semua keluarga memiliki tujuan yang sama. Kita menginginkan anak kita tumbuh sehat, bahagia, tercukup, jujur, bahagia, peduli dan tumbuh menjadi orang yang bertanggung jawab.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433852997966109948-8029117376616104502?l=samsaraindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/feeds/8029117376616104502/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2009/08/menjadi-orangtua.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/8029117376616104502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/8029117376616104502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2009/08/menjadi-orangtua.html' title='Menjadi Orangtua'/><author><name>samsara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06928317136208780151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aDlLOO-c06M/So7V6OWBddI/AAAAAAAAANI/rd6Am87ItBQ/s72-c/family.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433852997966109948.post-8537410462726847290</id><published>2009-08-21T00:09:00.001+07:00</published><updated>2011-05-14T11:18:49.476+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Adopsi'/><title type='text'>ADOPSI ANAK :  Tata Cara dan Akibat Hukumnya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_aDlLOO-c06M/So7U7bfm5ZI/AAAAAAAAANA/tHVFEoCE8l4/s1600-h/hukum.png" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5372465522957280658" src="http://4.bp.blogspot.com/_aDlLOO-c06M/So7U7bfm5ZI/AAAAAAAAANA/tHVFEoCE8l4/s200/hukum.png" style="cursor: pointer; float: left; height: 142px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 142px;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Pasangan suami istri yang tidak mempunyai anak atau yang memutuskan untuk tidak mempunyai anak dapat mengajukan permohonan pengesahan atau pengangkatan anak. Demikian juga bagi mereka yang memutuskan untuk tidak menikah atau tidak terikat dalam perkawinan. Apa langkah-langkah tepat yang harus diambil agar anak angkat tersebut mempunyai kekuatan hukum?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit; font-weight: bold;"&gt;PIHAK YANG DAPAT MENGAJUKAN ADOPSI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;a. Pasangan Suami Istri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Ketentuan mengenai adopsi anak bagi pasangan suami istri diatur dalam SEMA No.6 tahun 1983 tentang penyempurnaan Surat Edaran Nomor 2 tahun 1979 tentang pemeriksaan permohonan pengesahan/pengangkatan anak. Selain itu Keputusan Menteri Sosial RI No. 41/HUK/KEP/VII/1984 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perizinan Pengangkatan Anak juga menegaskan bahwa syarat untuk mendapatkan izin adalah calon orang tua angkat berstatus kawin dan pada saat mengajukan permohonan pengangkatan anak, sekurang-kurangnya sudah kawin lima tahun. Keputusan Menteri ini berlaku bagi calon anak angkat yang berada dalam asuhan organisasi sosial.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;b. Orang tua tunggal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;1. Staatblaad 1917 No. 129&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Staatblaad ini mengatur tentang pengangkatan anak bagi orang-orang Tionghoa yang selain memungkinkan pengangkatan anak oleh Anda yang terikat perkawinan, juga bagi yang pernah terikat perkawinan (duda atau janda). Namun bagi janda yang suaminya telah meninggal dan sang suami meninggalkan wasiat yang isinya tidak menghendaki pengangkatan anak, maka janda tersebut tidak dapat melakukannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Pengangkatan anak menurut Staatblaad ini hanya dimungkinkan untuk anak laki-laki dan hanya dapat dilakukan dengan Akte Notaris. Namun Yurisprudensi (Putusan Pengadilan Negeri Istimewa Jakarta) tertanggal 29 Mei 1963, telah membolehkan mengangkat anak perempuan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;2. Surat Edaran Mahkamah Agung No.6 Tahun 1983&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Surat Edaran Mahkamah Agung No. 6 tahun 1983 ini mengatur tentang pengangkatan anak antar Warga Negara Indonesia (WNI). Isinya selain menetapkan pengangkatan yang langsung dilakukan antara orang tua kandung dan orang tua angkat (private adoption), juga tentang pengangkatan anak yang dapat dilakukan oleh seorang warga negara Indonesia yang tidak terikat dalam perkawinan yang sah/belum menikah (single parent adoption). Jadi, jika Anda belum menikah atau Anda memutuskan untuk tidak menikah dan Anda ingin mengadopsi anak, ketentuan ini sangat memungkinkan Anda untuk melakukannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit; font-weight: bold;"&gt;TATA CARA ADOPSI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Surat Edaran Mahkamah Agung RI No.6/83 yang mengatur tentang cara mengadopsi anak menyatakan bahwa untuk mengadopsi anak harus terlebih dahulu mengajukan permohonan pengesahan/pengangkatan kepada Pengadilan Negeri di tempat anak yang akan diangkat itu berada.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Bentuk permohonan itu bisa secara lisan atau tertulis, dan diajukan ke panitera. Permohonan diajukan dan ditandatangani oleh pemohon sendiri atau kuasanya, dengan dibubuhi materai secukupnya dan dialamatkan kepada Ketua Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi tempat tinggal/domisili anak yang akan diangkat .&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit; font-weight: bold;"&gt;ISI PERMOHONAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Adapun isi Permohonan yang dapat diajukan adalah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;- motivasi mengangkat anak, yang semata-mata berkaitan atau demi masa depan anak tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;- penggambaran kemungkinan kehidupan anak tersebut di masa yang akan datang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Untuk itu dalam setiap proses pemeriksaan, Anda juga harus membawa dua orang saksi yang mengetahui seluk beluk pengangkatan anak tersebut. Dua orang saksi itu harus pula orang yang mengetahui betul tentang kondisi anda (baik moril maupun materil) dan memastikan bahwa Anda akan betul- betul memelihara anak tersebut dengan baik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit; font-weight: bold;"&gt;YANG DILARANG DALAM PERMOHONAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Ada beberapa hal yang tidak diperkenankan dicantumkan dalam permohonan pengangkatan anak, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;- menambah permohonan lain selain pengesahan atau pengangkatan anak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;- pernyataan bahwa anak tersebut juga akan menjadi ahli waris dari pemohon.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Mengapa?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Karena putusan yang dimintakan kepada Pengadilan harus bersifat tunggal, tidak ada permohonan lain dan hanya berisi tentang penetapan anak tersebut sebagai anak angkat dari pemohon, atau berisi pengesahan saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Mengingat bahwa Pengadilan akan mempertimbangkan permohonan Anda, maka Anda perlu mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik, termasuk pula mempersiapkan bukti-bukti yang berkaitan dengan kemampuan finansial atau ekonomi. Bukti-bukti tersebut akan memberikan keyakinan kepada majelis hakim tentang kemampuan Anda dan kemungkinan masa depan anak tersebut. Bukti tersebut biasanya berupa slip gaji, Surat Kepemilikan Rumah, deposito dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit; font-weight: bold;"&gt;PENCATATAN DI KANTOR SIPIL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Setelah permohonan Anda disetujui Pengadilan, Anda akan menerima salinan Keputusan Pengadilan mengenai pengadopsian anak. Salinan yang Anda peroleh ini harus Anda bawa ke kantor Catatan Sipil untuk menambahkan keterangan dalam akte kelahirannya. Dalam akte tersebut dinyatakan bahwa anak tersebut telah diadopsi dan didalam tambahan itu disebutkan pula nama Anda sebagai orang tua angkatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit; font-weight: bold;"&gt;AKIBAT HUKUM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Pengangkatan anak berdampak pula pada hal perwalian dan waris.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;a. Perwalian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Dalam hal perwalian, sejak putusan diucapkan oleh pengadilan, maka orang tua angkat menjadi wali dari anak angkat tersebut. Sejak saat itu pula, segala hak dan kewajiban orang tua kandung beralih pada orang tua angkat. Kecuali bagi anak angkat perempuan beragama Islam, bila dia akan menikah maka yang bisa menjadi wali nikahnya hanyalah orangtua kandungnya atau saudara sedarahnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;b. Waris&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Khazanah hukum kita, baik hukum adat, hukum Islam maupun hukum nasional, memiliki ketentuan mengenai hak waris. Ketiganya memiliki kekuatan yang sama, artinya seseorang bisa memilih hukum mana yang akan dipakai untuk menentukan pewarisan bagi anak angkat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;• Hukum Adat:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Bila menggunakan lembaga adat, penentuan waris bagi anak angkat tergantung kepada hukum adat yang berlaku. Bagi keluarga yang parental, —Jawa misalnya—, pengangkatan anak tidak otomatis memutuskan tali keluarga antara anak itu dengan orangtua kandungnya. Oleh karenanya, selain mendapatkan hak waris dari orangtua angkatnya, dia juga tetap berhak atas waris dari orang tua kandungnya. Berbeda dengan di Bali, pengangkatan anak merupakan kewajiban hukum yang melepaskan anak tersebut dari keluarga asalnya ke dalam keluarga angkatnya. Anak tersebut menjadi anak kandung dari yang mengangkatnya dan meneruskan kedudukan dari bapak angkatnya (M. Buddiarto, S.H, Pengangkatan Anak Ditinjau Dari Segi Hukum, AKAPRESS, 1991).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;• Hukum Islam:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Dalam hukum Islam, pengangkatan anak tidak membawa akibat hukum dalam hal hubungan darah, hubungan wali-mewali dan hubungan waris mewaris dengan orang tua angkat. Ia tetap menjadi ahli waris dari orang tua kandungnya dan anak tersebut tetap memakai nama dari ayah kandungnya (M. Budiarto, S.H, Pengangkatan Anak Ditinjau Dari Segi hukum, AKAPRESS, 1991)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;• Peraturan Per-Undang-undangan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Dalam Staatblaad 1917 No. 129, akibat hukum dari pengangkatan anak adalah anak tersebut secara hukum memperoleh nama dari bapak angkat, dijadikan sebagai anak yang dilahirkan dari perkawinan orang tua angkat dan menjadi ahli waris orang tua angkat. Artinya, akibat pengangkatan tersebut maka terputus segala hubungan perdata, yang berpangkal pada keturunan karena kelahiran, yaitu antara orang tua kandung dan anak tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Sumber : LBH APIK&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433852997966109948-8537410462726847290?l=samsaraindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/feeds/8537410462726847290/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2009/08/adopsi-anak-tata-cara-dan-akibat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/8537410462726847290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/8537410462726847290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2009/08/adopsi-anak-tata-cara-dan-akibat.html' title='ADOPSI ANAK :  Tata Cara dan Akibat Hukumnya'/><author><name>samsara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06928317136208780151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_aDlLOO-c06M/So7U7bfm5ZI/AAAAAAAAANA/tHVFEoCE8l4/s72-c/hukum.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433852997966109948.post-8047348389680391579</id><published>2009-08-21T00:06:00.002+07:00</published><updated>2011-05-14T16:01:47.261+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Adopsi'/><title type='text'>ADOPSI</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_aDlLOO-c06M/So7UfW-AbQI/AAAAAAAAAM4/12ATIywpI6g/s1600-h/adopsi.png" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5372465040706268418" src="http://2.bp.blogspot.com/_aDlLOO-c06M/So7UfW-AbQI/AAAAAAAAAM4/12ATIywpI6g/s200/adopsi.png" style="cursor: pointer; float: left; height: 121px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 121px;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Oleh : Inna Hudaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Adopsi adalah salah satu pilihan dalam mengatasi kehamilan tidak direncanakan. Bayi yang anda kandung dapat diadopsi oleh pasangan yang menginginkan kehadiran anak dalam keluarga mereka. Biasanya perempuan akan mengambil pilihan ini dengan berbagai alasan berikut :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Kehamilan sudah terlalu tua untuk di aborsi.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Aborsi adalah salah menurut keyakinannya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Tidak sanggup menjadi orangtua ; single parent, masih terlalu muda, faktor ekonomi. Dll&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Adopsi anak di Indonesia di atur di dalam KUHPerdata dan UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak ( UUPA).  Didalam UU tersebut disebutkan bahwa pengangkatan anak atau adopsi dilakukan dengan tujuan demi kepentingan terbaik si anak. Pengangkatan anak bias dilakukan oleh pasangan suami istri ataupun mereka yang belum menikah dengan ketentuan yang berlaku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Di dalam UUPA, dijelaskan perbedaan mengenai anak angkat dan anak asuh.  Definisi  Anak Angkat adalah anak yang haknya dialihkan dari lingkungan kekuasaan keluarga orang tua, wali yang sah, atau orang lain yang bertanggung jawab atas perawatan, pendidikan, dan membesarkan anak tersebut, ke dalam lingkungan keluarga orang tua angkatnya berdasarkan putusan atau penetapan pengadilan (Pasal 1 angka 9). Sedangkan definisi Anak Asuh adalah anak yang diasuh oleh seseorang atau lembaga, untuk diberikan bimbingan, pemeliharaan, perawatan, pendidikan, dan kesehatan, karena orang tuanya atau salah satu orang tuanya tidak mampu menjamin tumbuh kembang anak secara wajar (Pasal 1 angka 10)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Pada prinsipnya, setiap anak berhak untuk diasuh oleh orang tuanya sendiri, kecuali jika ada alasan dan/atau aturan hukum yang sah menunjukkan bahwa pemisahan itu adalah demi kepentingan terbaik bagi anak dan merupakan pertimbangan terakhir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Adopsi  bisa dilakukan secara langsung antara orangtua biologis dengan dengan calon orangtua angkat, ataupun melalui yayasan atau lembaga sosial yang telah mendapat ijin untuk melakukan proses pengasuhan anak. Namun keduanya tetap membutuhkan surat ijin tertulis dari Menteri Sosial yang menyatakan anak tersebut sah di adopsi. Ijin ini bisa diperoleh dengan mengajukan permohonan kepada Pengadilan Negeri di mana bayi/anak tersebut berada.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Ketika seorang ibu menyerahkan anaknya untuk diadopsi, tentunya ia akan berharap bahwa anaknya akan mendapat kehidupan yang lebih baik. Oleh karena nya anda perlu memperhatikan hal-hal berikut jika anda akan menyerahkan bayi anda untuk di adopsi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Pastikan keluarga yang mengadopsi anak anda mampu membiayai dan merawat anak. Lembaga social biasanya akan memperhatikan hal ini sebagai salah satu syarat mengadopsi.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Pastikan bahwa calon orangtua anak anda seagama dengan anda, hal ini dijelaskan dalam UUPA pasal 39. Jika anda menyerahkan anak anda kepada lembaga social pastikan anda memberitahu agama anda agar lembaga social tersebut dapat mencarikan orangtua yang seagama. Karena jika anda tidak memberitahu agama anda, maka agama anak akan disesuaikan dengan agama mayoritas setempat.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Anda perlu tahu bahwa orangtua angkat wajib memberitahu asal usul anak mereka,  anak anda memiliki hak untuk mengetahui orang tua kandung mereka ketika mereka siap nanti.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Pastikan bahwa pengadopsian anak dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum. Calon orangtua angkat harus mengajukan permohonan ke Pengadilan Negeri. Sebaiknya anda mengikuti ketentuan ini demi hak anak anda di masa depan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:Calibri;  panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0;  mso-font-alt:"Century Gothic";  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:swiss;  mso-font-format:other;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:10.0pt;  margin-left:0in;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:Calibri;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} p.ListParagraph, li.ListParagraph, div.ListParagraph  {mso-style-name:"List Paragraph";  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:10.0pt;  margin-left:.5in;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:Calibri;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @page Section1  {size:8.5in 11.0in;  margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;  mso-header-margin:.5in;  mso-footer-margin:.5in;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;                                      &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433852997966109948-8047348389680391579?l=samsaraindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/feeds/8047348389680391579/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2009/08/adopsi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/8047348389680391579'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/8047348389680391579'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2009/08/adopsi.html' title='ADOPSI'/><author><name>samsara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06928317136208780151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_aDlLOO-c06M/So7UfW-AbQI/AAAAAAAAAM4/12ATIywpI6g/s72-c/adopsi.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433852997966109948.post-1375260154059510598</id><published>2009-08-20T23:57:00.008+07:00</published><updated>2011-05-14T15:11:24.934+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aborsi'/><title type='text'>Komplikasi Pasca Aborsi</title><content type='html'>Komplikasi pasca aborsi dapat terjadi apabila :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Melakukan aborsi pada kehamilan lanjut&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak dalam keadaan sehat saat menjalani aborsi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bingung akan pilihan melakukan aborsi, tetapi karena tekanan dan stress berkelanjutan dan tak mau memperpanjang masalah, akhirnya melakukan aborsi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Punya kasus penyakit kelamin (gonorea/kencing nanah atau infeksi jamur vagina: klamidia).- Tidak diberikan anestesi sama sekali saat tindakan aborsi dilakukan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rahimnya tidak benar-benar bersih dari sisa-sisa janin yang digugurkan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penolong aborsinya lalai, tidak mengecek dengan seksama hasil keluaran rahim, karena ada kemungkinan kehamilan Anda adalah kehamilan ektopik/molar (biasanya dikenal dengan kehamilan anggur), dan sisa-sisa janin yang tertinggal adalah pangkal komplikasi yang berbahaya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mempunyai rhesus negatif. Untuk hal ini, Anda perlu mendapatkan suntikan khusus guna mencegah timbulnya komplikasi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak menjalani pemeriksaan lanjutan setelah 24 jam menjalani aborsi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Adanya kasus kematian paska aborsi juga perlu diwaspadai. Umumnya, kasus-kasus ini dikarenakan:&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Faktor umur dari wanita yang hendak melakukan aborsi, disamping juga prosedur aborsi yang dipilih dan umur dari janin dalam kandungan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Faktor kesehatan si wanita. Terkadang, si wanita tidak mengetahui adanya kelainan kesehatan yang diidapnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Faktor komplikasi karena anestesi yang digunakan saat aborsi yang menyebabkan terjadinya emboli dalam paru-paru.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Faktor kesalahan penggunaan obat-obatan. Penggunaan Sulprostone (yang mengandung prostaglandin) yang berlebihan dapat menimbulkan serangan jantung.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda baru saja melakukan aborsi dan memiliki tanda-tanda berikut ini, Anda perlu segera menemui tenaga medis terdekat, karena mungkin saja komplikasi paska aborsi mengintai Anda:&lt;br /&gt;Demam.&lt;br /&gt;Menggigil.&lt;br /&gt;Sakit sekitar perut, kram atau sakit punggung.&lt;br /&gt;Perut yang terasa lunak saat ditekan.&lt;br /&gt;Pendarahan yang berlebihan, bahkan menjurus mengalir deras.&lt;br /&gt;Pengeluaran vagina yang berbau busuk.&lt;br /&gt;Mengalami penundaan hingga 6 minggu atau lebih untuk mendapatkan siklus menstruasi kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komplikasi-komplikasi jangka pendek lain yang mungkin Anda hadapi adalah:&lt;br /&gt;Infeksi. Ini dikarenakan ketidaktahuan si wanita akan penyakit yang mungkin diidapnya. Jika si wanita mengidap gonorea, klamidia, atau cervicitis, kemungkinan terkena infeksi paska aborsi adalah sangat besar. Tanda-tanda adanya infeksi antara lain kram perut, demam, pendarahan, dan ketidak-nyamanan disekitar panggul. Jika tanda-tanda ini nyata sekali, Anda harus segera mencari pertolongan. Jika diperkirakan adanya sisa-sisa kehamilan yang masih tertinggal, Anda memerlukan pertolongan medis lanjutan.&lt;br /&gt;Pembekuan darah dalam kandungan. Komplikasi ini biasanya terdeteksi setelah 5 hari aborsi dilakukan. Tanda-tanda komplikasi ini adalah kram dan sakit yang tak kunjung habis. Dengan melakukan pemeriksaan rongga panggul, diketahui bahwa rahim dalam keadaan membesar, tegang tetapi lunak, tanpa disertai pendarahan.&lt;br /&gt;Aborsi yang tidak tuntas. Hal ini mungkin saja terjadi, meskipun aborsi dilakukan di rumah sakit ternama. Dengan evaluasi yang hati-hati setelah aborsi dilakukan, si wanita akan mendapat jawaban atas kesempurnaan aborsinya.&lt;br /&gt;Aborsi yang gagal. Ada kemungkinan, aborsi yang Anda jalani gagal. Ini ditandai dengan terus berlangsungnya kehamilan. Jika ini terjadi, penangan medis yang hati-hati dan kejujuran Anda dituntut, sehingga cacat yang mungkin timbul karena percobaan aborsi dapat dihindari.&lt;br /&gt;Trauma rahim. Karena adanya perobekan rahim dan leher rahim, rahim mengalami trauma. Tergantung dari keseriusannya, penanganan komplikasi ini dapat hanya berupa observasi hingga operasi pengangkatan seluruh rahim. Hal ini banyak terjadi pada aborsi dengan umur janin yang tua.&lt;br /&gt;Pendarahan. Apapun jenis aborsi yang dijalani, pendarahan yang tidak normal sering terjadi. Komplikasi ini berakhir dengan pelaksanaan kuret pada rahim, terkadang, si wanita memerlukan transfusi darah pengganti darah yang hilang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433852997966109948-1375260154059510598?l=samsaraindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/feeds/1375260154059510598/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2009/08/komplikasi-paska-aborsi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/1375260154059510598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/1375260154059510598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2009/08/komplikasi-paska-aborsi.html' title='Komplikasi Pasca Aborsi'/><author><name>samsara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06928317136208780151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433852997966109948.post-8349951167044080827</id><published>2009-08-20T23:56:00.003+07:00</published><updated>2011-05-14T11:29:03.916+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aborsi'/><title type='text'>Dimana Aborsi yang Aman?</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Oleh : Inna Hudaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Beberapa email dengan nada yang sama saya terima berulang kali di inbox email saya. Mengenai hal itu saya ingin sedikit menjelaskan mengenai prosedur aborsi yang aman. Tentu saja, jika saya di tanya di mana tempat melakukan aborsi yang aman maka jawaban saya pasti di klinik atau rumah sakit dan langsung di lakukan oleh dokter ahli. Namun, karena di Negara kita aborsi belum di anggap legal maka tak semua klinik atau dokter mau melakukan tindakan aborsi, kecuali sebagian dokter atau bidan yang nekad melakukan tindakan melawan hukum. Ada perkecualian bagi beberapa kasus di mana kemudian aborsi di legalkan di Negara ini, di antaranya adalah :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;♣ Kehamilan tersebut dapat mengakibatkan resiko kesehatan hingga kematian bagi si ibu atau janin yang di kandungnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;♣ Kehamilan tersebut merupakan akibat dari tindak perkosaan yang mengakibatkan si ibu menjadi traumatik.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Namun, ada beberapa dokter yang juga tetap bersedia melakukan tindakan aborsi bagi pasangan di luar nikah dengan menyertakan surat izin dari wali yang bersangkutan. Tetap saja, di mata hukum positif yang berlaku di Indonesia hal tersebut di anggap melawan hukum.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Nah, sebenarnya jika anda ingin melakukan aborsi, anda bisa melakukannya di mana saja karena tempat-tempat tersebut banyak tersebar baik itu di kota besar maupun di kota kecil. Coba cari info di sekitar anda, anda pasti akan terkejut mengetahui bagaimana banyaknya layanan aborsi yang tersedia di sekitar anda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Sekali lagi, jika pertanyaannya adalah di mana melakukan aborsi yang aman maka jawabanya tentu akan sama, di klinik atau rumah sakit oleh dokter ahlinya. Karena biasanya tempat-tempat aborsi tersebut tidak memberikan jaminan layanan dan keamanan yang memuaskan. Sehingga resiko anda terhadap infeksi, trauma atau bahaya lainnya jauh lebih besar. Memang ada beberapa klinik aborsi yang juga memberikan jaminan layanan dan keamanan kesehatan yang baik namun biasanya biayanya akan membengkak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433852997966109948-8349951167044080827?l=samsaraindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/feeds/8349951167044080827/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2009/08/dimana-aborsi-yang-aman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/8349951167044080827'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/8349951167044080827'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2009/08/dimana-aborsi-yang-aman.html' title='Dimana Aborsi yang Aman?'/><author><name>samsara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06928317136208780151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433852997966109948.post-6635994731413668446</id><published>2009-08-20T23:55:00.003+07:00</published><updated>2011-05-14T11:30:01.213+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aborsi'/><title type='text'>Aborsi Tidak Aman</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Oleh: Inna Hudaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Jika anda melakukan aborsi di klinik atau rumah sakit, anda akan menjalani konsultasi pra aborsi untuk memastikan anda mengetahui berbagai resiko dan kemungkinan yang bisa terjadi, pada saat di lakukan prosedur aborsi anda akan mendapat serangkaian tindakan medis yang telah memenuhi standar medis, diantaranya di lakukan pembiusan yang dapat mengurangi rasa sakit yang berlebihan sehingga anda terhindar dari kemungkinan trauma. Selain itu anda juga akan menjalani perawatan selama beberapa hari pasca tindakan aborsi di mana keadaan kesehatan anda akan terus menerus di pantau untuk memastikan tidak terjadi pendarahan yang hebat atau infeksi. Biasanya anda akan di beri obat atau suntikan antibiotic untuk mengurangi infeksi yang terjadi dan vitamin penambah darah untuk menggantikan darah yang keluar melalui pendarahan. Beberapa minggu atau sebulan kemudian setelah prosedur aborsi anda masih harus melakukan check-up untuk memastikan kondisi anda benar-benar pulih seperti semula.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Berbeda dengan gambaran di atas, ketika anda melakukan tindakan aborsi di klinik aborsi yang illegal, biasanya anda hanya datang pada saat prosedur aborsi dan setelah prosedur selesai di lakukan anda akan langsung pulang atau setidaknya hanya menginap semalam. Bahkan pada beberapa kasus banyak tindakan aborsi yang di lakukan di kamar hotel yang hanya di sewa untuk beberapa jam sehingga sehabis melakukan tindakan aborsi anda terpaksa harus segera check-out. Pada kasus yang lebih parah, bahkan seringkali tindakan aborsi dilakukan tanpa di beri obat penghilang rasa sakit atau pembiusan. Hal ini dapat mengakibatkan kemungkinan terjadinya Post Abortion Syndrome akibat dari trauma yang menyakitkan. Biasanya si dokter atau bidan hanya akan membekali anda dengan beberapa obat atau pil antibiotic dan vitamin penambah darah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Apa akibatnya bila aborsi dilakukan secara tidak aman? Seringkali, aborsi yang dilakukan oleh bukan orang yang ahli akan memakai cara dan alat-alat yang tidak tepat. Untuk merusak dan memaksa janin keluar, rahim akan dipijat dan dimasuki alat atau benda ke dalamnya. Alat ini sering berupa benda tajam, telah tercemar dan tidak bersih. Misalnya bambu, alat penusuk atau selang yang tidak steril sering membuat infeksi rahim. Sebagai akibatnya, selain bisa kena infeksi, rahim itu bisa rusak atau robek dan selanjutnya bisa terjadi perdarahan hebat, terus menerus dan rahimnya rusak untuk selamanya. Jadi bila aborsi dilakukan oleh bukan orang yang ahli maka kemungkinan pertama yang akan terjadi adalah infeksi rahim karena alat yang dipakai tidak bersih. Kemungkinan ke dua adalah akan terjadi perdarahan hebat dan terus menerus karena rahimnya dirusak. Perlu diketahui, rahim yang ada janinnya akan penuh dengan pembuluh darah yang menyalurkan makanan bagi calon bayi. Bila dirusak maka jaringan pembuluh darah ini akan rusak dan terjadi perdarahan yang sukar dihentikan. Kemungkinan ke tiga, rahim akan terus menerus mengeluarkan darah dan cairan lain. Ini tentu akan berakibat kematian bagi si ibu bila tidak segera ditolong. Sementara itu, keadaan rahim yang tidak sehat ini bisa berkembang menjadi infeksi yang terus menerus, tumbuhnya sel baru, tumbuhnya sel ganas dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Tidak adanya tindak lanjut setelah melakukan prosedur aborsi akan sangat membahayakan kesehatan si perempuan di kemudian hari, bahkan pada beberapa kasus terjadi kematian akibat pendarahan yang hebat. Pada beberapa perempuan mungkin tidak terlihat adanya kelainan akibat prosedur aborsi yang tidak aman tapi bukan berarti tidak ada, biasanya infeksi atau trauma nya akan muncul beberapa bulan atau beberapa tahun ke depan, hanya banyak yang kemudian tidak menyadarinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433852997966109948-6635994731413668446?l=samsaraindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/feeds/6635994731413668446/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2009/08/aborsi-tidak-aman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/6635994731413668446'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/6635994731413668446'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2009/08/aborsi-tidak-aman.html' title='Aborsi Tidak Aman'/><author><name>samsara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06928317136208780151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433852997966109948.post-6025181528749072230</id><published>2009-08-16T03:47:00.001+07:00</published><updated>2011-05-25T00:04:50.977+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Perempuan, Aborsi &amp; Konstruksi Sosial</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh : Inna Hudaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah masyarakat kita saat ini, sebagian masih menganggap bahwa “kegilaan” paska aborsi adalah hukuman atau harga yang harus di bayar atas pembunuhan seorang bayi yang tak bersalah. Benarkah demikian? Pertanyaan yang sering saya terima adalah : “Mengapa mau membantu perempuan yang melakukan aborsi?aborsi dalah dosa. Bukankah itu merupakan hukuman yang harus mereka terima?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban saya yang paling simple adalah : “ Lalu siapakah di muka bumi ini yang tak melakukan kesalahan?” atau “Hak anda untuk tidak membantu mereka, demikian juga itu merupakan hak saya sepenuhnya untuk memutuskan membantu mereka atau tidak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada siapapun di muka bumi ini yang berhak membatasi hak hidup lebih baik bagi semua orang. Setiap orang belajar dari kesalahan mereka, dan seperti yang lainnya, mereka memeiliki hak yang sama untuk memperbaiki kualitas kehidupan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apakah aborsi benar adalah sebuah kesalahan? Apanya yang salah? Aborsi itu sendiri atau ketidaksiapan mental mereka yang salah? Mari membahas hal itu. Nilai salah atau tidaknya suatu aborsi tidak absolut bagi semua orang. Salah atau tidaknya aborsi didasarkan pada pemahaman bahwa aborsi adalah suatu tindak pembunuhan. Pemahaman ini sangat rancu, karena perdebatan mengenai kapan kehidupan itu sendiri tidak pernah selesai hingga hari ini. Setiap agama bahkan memiliki keyakinan yang berbeda-beda mengenai awal mula kehidupan. Dalam agama islam, kehidupan dianggap telah ada ketika ruh ditiupkan kepada janin yang ada dalam rahim sang ibu. Jika aborsi dilakukan sebelum ruh ini ditiupkan apakah kemudian aborsi dapat dikatakan sebagai sebuah pembunuhan? Pembunuhan memberi makna penghentian hidup secara paksa pada makhluk yang sudah hidup. Lalu jika janin tersebut belum dianggap hidup, dapatkah aborsi dikatakan sebagai sebuah pembunuhan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama dan kelompok-kelompok lain memiliki acuan yang berbeda mengenai hal ini. kelompok pro-choice melihat aborsi adalah sebuah pilihan, dengan mengedepankan hak asasi si ibu. Dalam hal ini perempuan yang hamil memiliki hak atas apa yang paling baik untuk dirinya, termasuk pilihan untuk melakukan aborsi. Kelompok pro-life kemudian membantah hal ini dengan mempertanyakan hak hidup si bayi. Kelompok pro-life melihat hal ini sebagai sebuah ketimpangan di mana si perempuan yang hamil hanya mementingkan hak hidupnya tanpa melihat hak hidup si anak yang berada dalam kandungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertentangan antara pro-life dan pro-choice tidak pernah ada habisnya. Setiap kelompok memiliki landasan yang kuat untuk tetap mempertahankan keyakinannya. Terlepas dari pro-life dan pro-choice, saya memiliki pandangan sendiri mengenai hal ini. saya cenderung melihat kesalahan tersebut ada pada perempuan yang melakukan aborsi. Perempuan yang melakukan aborsi cenderung tidak berfikir jernih melihat permasalahan aborsi. Mereka tidak memiliki persiapan mental untuk menghadapi berbagai konsekuensi akibat aborsi. Kebanyakan perempuan yang melakukan aborsi cenderung mengambil keputusan tersebut karena faktor-faktor di luar dirinya. Karena merasa hal itu menjadi aib bagi dirinya dan keluarganya. Karena merasa malu telah melakukan dosa. Karena merasa takut pada keluarga dan malu pada lingkungan. Alasan-alasan ini lah yang kemudian tumpang tindih dengan suara hatinya sendiri. Mereka bahkan tidak memikirkan konsekuensi yang harus mereka hadapi paska aborsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah masyarakat kita di mana akses informasi mengenai aborsi sangat terbatas, tingkat aborsi yang tidak aman meningkatkan resiko keselamatan jiwa dan mental perempuan paska aborsi. Aborsi hanya sebuah isu di permukaan, namun di dalamnya isu-isu lain menjadi sangat krusial dan berpengaruh dalam keputusan seseorang melakukan tindakan aborsi. Agama, budaya dan ekonomi adalah hal yang paling mempengaruhi seseorang dalam mengambil keputusan untuk melakukan aborsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan yang dilakukan samsara dalam hal aborsi adalah melihat si perempuan sebagai pelaku aborsi sekaligus faktor penentu kepulihannya dari sindrom paska aborsi. Bahwa mental adjustment seorang perempuan paska aborsi adalah dengan melihat dan mengeksplorasi lebih jauh berbagai emosi di dalam diri mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan ini adalah korban dari keterbatasan informasi dan akses mengenai seks dan kesehatan reproduksi, korban dari tirani budaya dan ekonomi yang melemahkan keyakinan mereka akan kehidupan. Korban dari ketakutan yang telah ditanamkan secara turun temurun dalam agama dan budaya kita tanpa memberikan mereka edukasi dan pemahaman mengenai tubuh dan hidup mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, para korban ini kemudian tetap harus menjadi faktor pemulihan diri mereka sendiri. Tuntutan untuk perubahan dalam kehidupan bermasyarakat butuh waktu lebih lama dibandingkan kebutuhan mereka yang paling utama, meneruskan hidup dan kembali percaya pada kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masihkah anda menutup mata dan telinga pada fakta ini? masihkah anda berfikir bahwa aborsi semena-mena adalah dosa mereka? Ketika anda merasa berhak mengadili orang lain atas tindakan yang mereka lakukan, pernahkah anda berfikir apa usaha yang telah anda lakukan untuk mencegah hal ini terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah ironi ketika sebuah keluarga merasa dipermalukan dan marah kepada anak perempuan mereka yang hamil di luar nikah. Sebuah pertanyaan bagi setiap orangtua ; sebelum anda marah dan kecewa pada anak anda, sudahkah anda memberikan hak mereka untuk memahami tubuh mereka sendiri? Sudahkah anda memberikan pendidikan seks pada anak-anak anda agar anda bisa terhindar dari KTD (kehamilan tidak di inginkan)? Jika tidak, anda turut andil bersalah dalam hal yang anda anggap sebagai suatu kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan bukan pemberian orang lain. Anda pemilik kehidupan itu dan anda yang menentukan kehidupan apa yang anda inginkan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433852997966109948-6025181528749072230?l=samsaraindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/feeds/6025181528749072230/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2009/08/perempuan-aborsi-konstruksi-sosial.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/6025181528749072230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/6025181528749072230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2009/08/perempuan-aborsi-konstruksi-sosial.html' title='Perempuan, Aborsi &amp;amp; Konstruksi Sosial'/><author><name>samsara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06928317136208780151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433852997966109948.post-1658178421372228322</id><published>2009-08-16T03:46:00.001+07:00</published><updated>2011-05-25T00:05:00.395+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Aborsi : Moral dan Agama, Efektifkah ?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh : Inna Hudaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aborsi kembali menjadi perbincangan yang hangat ketika kasus dr. Ownie terkuak ke permukaan. Sedemikian hebohnya hingga masyarakat hanya melihat permasalahan aborsi sebatas masalah moral dan kriminal. Pada tahun 2000 diperkirakan terjadi 2 juta kasus aborsi di Indonesia. Berdasarkan laporan WHO tahun 2006 angka ini meningkat menjadi 2.3 juta kasus pertahun. Berdasarkan angka ini diasumsikan terjadi 6.301 kasus setiap hari atau 4 kejadian setiap detiknya. Fakta yang mengejutkan bahwa 70% dari pelaku aborsi tersebut adalah ibu rumah tangga. Penelitian Yayasan Kesehatan Perempuan pada tahun 2003 menyebutkan 87% yang melakukan aborsi adalah istri dan ibu, hanya 12% oleh remaja putri .Hasil riset ini jauh berbeda dengan anggapan bahwa aborsi identik dengan seks bebas yang mengakibatkan Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD). Apakah benar demikian? Riset-riset tersebut merupakan riset klinis, dalam artian data tersebut didapatkan dari rumah sakit, klinik atau puskesmas. Itu sebabnya hasil riset menunjukkan bahwa mayoritas pelaku aborsi adalah ibu rumah tangga. Riset tersebut tidak menjangkau aborsi ilegal yang banyak dilakukan oleh perempuan pra-nikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Alan Guttmacher Institute pada 2003, di Eropa di mana aborsi legal justru angka aborsi rendah. Namun di negara-negara berkembang seperti Indonesia di mana aborsi ilegal, angka aborsi justru tinggi. Rendahnya angka aborsi di Eropa karena adanya kesadaran masyarakat akan pendidikan seks dan angka pemakaian kontrasepsi yang tinggi. Pelegalan aborsi kemudian hanya mengurangi resiko terjadinya aborsi tidak aman. Selain itu budaya di Eropa memberikan ruang bagi seorang perempuan untuk menjadi “Single Mother”. Hal ini berbeda dengan Indonesia di mana pendidikan seks masih di anggap tabu dan kesadaran pemakaian kontrasepsi yang rendah. Kedua faktor inilah yang kemudian memicu terjadinya Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD). Permasalahan aborsi menjadi sangat komplek di Indonesia, pendidikan seks dan pemakaian kontrasepsi masih mengundang banyak perdebatan. Pendidikan seks dan kampanye pemakaian kondom dianggap sebagai pelegalan seks. Remaja diberi pendidikan moral tanpa diberi pemahaman yang benar akan tubuh mereka, tanpa dibekali mentalitas memperjuangkan hak-hak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sebuah isu tidak dibicarakan, ketika kebanyakan orang tutup mulut atau tidak mau mendengar, bukan berarti isu tersebut tidak penting. Kenyataannya, ketika sesuatu dianggap tabu untuk dibicarakan justru hal tersebut menjadi sebuah permasalahan besar. Tidak adanya ruang untuk membicarakan seks yang dianggap tabu justru menjadi penyebab kenapa angka aborsi semakin meningkat setiap tahunnya. Masyarakat tidak mendapatkan akses informasi mengenai seksualitas dan kesehatan reproduksi yang seharusnya menjadi hak mereka. Informasi menjadi kebutuhan dasar setiap orang, hak untuk mendapatkan informasi yang benar merupakan hal yang penting, tidak adanya ruang publik untuk membicarakan hal ini secara terbuka menyebabkan banyak orang akhirnya mendapatkan informasi yang salah. Hal ini pula yang menyebabkan banyak perempuan pada akhirnya melakukan aborsi tidak aman yang beresiko terhadap kesehatan fisik dan mental. Salah satu yang menjadi dorongan para perempuan untuk melakukan aborsi adalah karena budaya kita tidak memberi ruang kepada perempuan untuk menjadi single mother. Stigma yang kuat dari masyarakat dan keluarga masih menjadi momok yang menakutkan bagi para perempuan yang ingin mempertahankan janinnya. Hukum juga tidak berpihak pada calon anak yang masih dalam kandungan. Perempuan sebagai pelaku aborsi masih tersubordinasi dalam hukum Indonesia. Pemerintah sangatlah tidak bijak menyikapi permasalahan ini, tidak ada perlindungan bagi perempuan yang terpaksa melakukan aborsi di bawah tekanan keluarga atau pasangan. Akses informasi akan kesehatan reproduksi dan jaminan pelayanan kesehatan yang aman bagi perempuan juga tidak dapat dijangkau oleh semua kalangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan selalu menjadi korban, tersubordinasi dalam hukum, budaya bahkan dalam hak-hak reproduksinya sendiri. Rahim, dimana janin tumbuh berada di bawah kendali perempuan sebagai pemilik alat reproduksi. Itu sebabnya aborsi selalu di kaitkan sebagai masalah perempuan, kesalahan perempuan. Lelaki seakan menjadi bagian yang terpisahkan dalam permasalahan ini. Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) terjadi karena adanya hubungan seksual antara lelaki dan perempuan. Dalam hal ini lelaki turut berperan serta mengakibatkan terjadinya KTD yang berbuntut pada aborsi. Lelaki dan perempuan memiliki peran dan tanggung jawab yang sama dalam hal aborsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah saatnya pemerintah melakukan perubahan melalui UU kesehatan mengenai aborsi. Pengakuan bangsa sebagai negara yang memegang adat dan budaya timur, dengan moral yang dijunjung tinggi, ternyata tak dapat menyelesaikan permasalahan aborsi. Moral dan agama tak dapat berjalan sendiri. Usaha mengurangi angka aborsi dengan mendengung-dengungkan moral tanpa bekal pengetahuan dan mentalitas sama saja mengajarkan remaja kita untuk bersikap hipokrit dan menyangkal hasrat seksual yang ada dalam diri setiap orang.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433852997966109948-1658178421372228322?l=samsaraindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/feeds/1658178421372228322/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2009/08/aborsi-moral-dan-agama-efektifkah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/1658178421372228322'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/1658178421372228322'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2009/08/aborsi-moral-dan-agama-efektifkah.html' title='Aborsi : Moral dan Agama, Efektifkah ?'/><author><name>samsara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06928317136208780151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433852997966109948.post-5301847953305550564</id><published>2009-08-16T03:45:00.001+07:00</published><updated>2011-05-25T00:05:04.715+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Landasan Prinsip Aborsi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh : Soe Tjen Marching&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, aborsi adalah perbuatan kriminal dan perempuan-perempuan yang ketahuan telah melakukannya diganjar hukuman yang keras. Orang-orang yang anti-aborsi biasanya berpegang pada prinsip pro-kehidupan (pro-life), sebab aborsi masih dianggap sebagai pembunuhan, perbuatan yang keji dan pantas dihukum. Sebaliknya, para pendukung aborsi dinamakan pro-pilihan (pro-choice), dengan alasan mereka tidak mengindahkan kehidupan embrio dalam kandungan sang ibu. Oleh karena kepercayaan ini telah ditanamkan pada masyarakat, banyak perempuan yang melakukan aborsi merasa bersalah seumur hidup karena cap “pembunuh” tertanam dalam diri mereka. Namun jika aborsi dianggap tindakan kriminal, bukankah dalang suatu perbuatan kriminal seharusnya mendapat ganjaran lebih berat daripada pelaku tindakan kriminal itu sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya hukum dibuat untuk keadilan dan bukannya untuk memberi kesempatan kepada pihak tertentu leluasa berbuat semena-mena. Tetapi, hukum di Indonesia sering memberi angin kepada dalang: para lelaki yang menghamili perempuan dan kabur begitu saja. Lalu, pilihan apakah yang tersedia bagi kebanyakan perempuan yang kehamilannya tidak diinginkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan pertama adalah membesarkan si bayi dengan menanggung semua biaya dan nista bagi diri sendiri dan anaknya, dan bahkan bagi keluarga si perempuan. Pilihan kedua, melenyapkan diam-diam dan mencoba mengubur semua rahasianya. Kedua pilihan ini bak memakan buah simalakama. Di beberapa negara yang telah melegalkan aborsi, seperti di Belanda, Kanada, dan Selandia Baru, pilihan yang tersedia bagi perempuan jauh lebih layak. Selain tersedianya klinik aborsi di mana-mana, jika perempuan hamil diluar nikah dan ayah sang janin tidak menghendaki bayi tersebut, biasanya tersedia tiga alternative: menggugurkan kandungan, menjadi single mother (orang tua tunggal) atau pengaturan adopsi untuk si bayi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang tua tunggal, dia beserta bayinya akan mendapatkan dukungan materiil, seperti tunjangan makanan, kesehatan, biaya hidup bahkan sekolah bagi anak dari pemerintah. Di Indonesia, jangankan mengharap tunjangan, perlakuan manusiawi pun terkadang sulit didapat bagi perempuan bernasib seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang pelarangan aborsi dapat dilihat sebagai perlindungan kepada janin, kepada bayi yang belum dilahirkan. Namun, bila hukum itu untuk melindungi seluruh rakyat, bukankah hukum seputar aborsi di Indonesia sering tidak mengindahkan hak wanita, dan juga anak yang dilahirkan secara ilegal? Jangankan mengharap tunjangan, hidup yang normal pun akan sulit bagi sang ibu dan anak “haram”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, bisakah penentang aborsi di Indonesia disebut pro-life bila beberapa penentang aborsi tidak memanusiakan si perempuan ataupun anak yang lahir dari aborsi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, mereka menyatakan diri pro-life dengan melindungi hak hidup fetus yang belum berbentuk manusia, tetapi mereka tidak begitu mengindahkan hak hidup sang perempuan ataupun anak yang lahir, yang nyata-nyata telah menjadi manusia seutuhnya dalam lingkungan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermacam pandangan dalam masyarakat dan agama di dunia juga dapat mempertanyakan pendapat bahwa aborsi selalu identik dengan pembunuhan. Gereja Katolik sendiri telah mengalami banyak perubahan dalam pandangan mereka tentang aborsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;St Augustine (354-430 AD) yang terkenal dengan larangan-larangannya akan kenikmatan seks, menyatakan aborsi dini tidak merupakan pembunuhan. Menurut St Augustine, bila tubuh belum terbentuk, nyawa di dalamnya tidaklah lebih dari nyawa hewan. Konstitusi Apostolik mengamini pendapat St Augustine dengan menyetujui fetus yang berbentuk manusia saja yang mempunyai nyawa manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dua buku karya John Riddle - Eve’s Herbs: A History of Contraception and Abortion in the West (Harvard University Press, 1997) dan Contraception and Abortion from the Ancient World to the Renaissance (Harvard University Press, 1992) - memaparkan bahwa dari abad kelima sampai abad ke-17 banyak sekali perempuan melakukan praktik aborsi dini dengan berbagai ramuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada abad itu juga, menurut Riddle, belum ada larangan yang jelas dan konsisten dari Gereja mengenai praktik-praktik seperti ini. Pada abad ke-17, praktik “pengembali menstruasi” semakin berkurang dan pada abad ke-19 Paus Pius IX memproklamirkan hal ini merupakan pembunuhan dan dosa besar, apa pun alasan pengembalian menstruasi tersebut. Bahkan, pemakaian kontrasepsi pun akhirnya dilarang dan dianggap sebagai pembunuhan janin yang akan terbentuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada dengan buku di atas adalah sekelumit artikel oleh Emily O’Reilly berjudul Early Church Permitted Abortion in Some Cases. Artikel pendek ini menceritakan banyaknya perubahan kebijaksanaan dalam Gereja Katolik mengenai aborsi. Memang, mayoritas Gereja Katolik masih menganggap aborsi sebagai dosa besar. Namun, beberapa Gereja Katolik telah menyetujui aborsi, baik secara diam-diam maupun terbuka. Gereja Katolik yang menyetujui aborsi dengan terbuka adalah FutureChurch di Cleveland Ohio, berdiri pada tahun 1990 (www.futurechurch.org).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa insan Katolik yang mencoba menghentikan penghujatan terhadap aborsi bergabung dalam Catholic for Free Choice (CFC). Salah satu pengurus CFC adalah Rosemary Ruether, profesor teologi di Garrett-Evangelical Theological Seminary di Illinois. Berbasis di Washington DC, CFC turut menandatangani pernyataan yang dipublikasikan di New York Times pada 7 Oktober 1984. Dalam pernyataan ini disebutkan, tradisi Gereja Katolik mempunyai lebih dari satu pandangan mengenai aborsi sehingga pelaku aborsi tidak seharusnya dijuluki sebagai orang berdosa. Informasi lebih lanjut mengenai CFC dapat dilihat di website mereka: http://www.cath4choice.org/lowbandwidth/indexyouth.htm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gereja Katolik lain yang tidak melontarkan hujatan akan aborsi adalah Gereja Katolik Bebas. Kebetulan sekali, saya kenal baik dengan salah satu pastor Gereja ini yang namanya tidak asing lagi sebagai ahli penerjemah buku sastra Indonesia ke dalam bahasa Inggris, Harry Aveling. Dalam korespondensi kami, Harry Aveling menyatakan bahwa Gereja Katolik bebas tidak memberi pandangan tertentu mengenai aborsi karena bagi mereka aborsi adalah masalah pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Islam, terdapat pula beragam pandangan. Pandangan pertama dan yang paling populer di Indonesia adalah pelarangan pengguguran kandungan dalam umur berapa pun. Beberapa aliran di Indonesia bahkan mengharamkan pemakaian alat kontrasepsi. Namun, Avicenna atau Ibn Sina yang hidup pada zaman keemasan Islam (980-1037 M), memperkenalkan kontrasepsi pada dunia Barat yang saat itu masih dalam Abad Kegelapan. Dengan keahliannya pada dunia sains, Ibn Sina mampu menemukan sekitar 20 cara untuk mengontrol kelahiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah aliran Islam menyetujui aborsi sebelum umur 40 hari. Muhammad Ibn Abi Said, misalnya, memperbolehkan pengguguran kandungan sebelum umur 80 hari. Bahkan sebuah aliran lainnya menyatakan pengguguran kandungan sebelum 120 hari tidak merupakan pembunuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sains dan praktik kedokteran pun mempunyai pandangan berbeda-beda. Walaupun beberapa dokter dengan tegas menyatakan peniadaan janin adalah pembunuhan, beberapa dokter lain berpendapat embrio yang berumur kurang dari tiga bulan tidak lebih keprimitifannya dari seekor katak ataupun ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, hak hidup si janin masih tergantung pada badan yang mengandungnya, yaitu sang ibu. Dalam pandangan ini, para pembela aborsi pun dapat disebut pro-life karena hak untuk aborsi adalah hak yang membela kehidupan perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, manakah pendapat di atas yang salah atau yang benar? Mungkin, semua pendapat di atas tidak ada yang salah atau tidak ada yang benar. Bukankah kita adalah masyarakat pluralis yang terdiri dari bermacam kepercayaan dan agama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kita seharusnya lebih terbuka terhadap berbagai macam pandangan. Bila kita menghargai bermacam pandangan, bukankah perempuan juga seharusnya diberi hak untuk memilih? Hak untuk melaksanakan atau tidak pengguguran kandungannya? Dan hak untuk mendapat hidup layak, apa pun pilihan sang perempuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, ada kekhawatiran bahwa pelegalan aborsi akan menyulut “pembunuhan” lainnya (bila aborsi masih bisa disebut “pembunuhan”). Akan tetapi, di beberapa negara yang melegalkan aborsi, tidak ada bukti bahwa aborsi dapat menyulut naluri pelaku aborsi menjadi “pembunuh”. Sungguh, kita harus jujur mengakui saat ini di Indonesia terdapat lebih banyak kasus pembunuhan massal daripada di beberapa negara lain yang melegalkan aborsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Beberapa bagian dari artikel ini telah dimuat di Kompas, 7 Juli 2003 &amp;amp; 8 September 2003).&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433852997966109948-5301847953305550564?l=samsaraindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/feeds/5301847953305550564/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2009/08/landasan-prinsip-aborsi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/5301847953305550564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/5301847953305550564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2009/08/landasan-prinsip-aborsi.html' title='Landasan Prinsip Aborsi'/><author><name>samsara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06928317136208780151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433852997966109948.post-625092771155099263</id><published>2009-08-16T02:46:00.001+07:00</published><updated>2011-05-24T23:12:25.556+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Konseling Pasca Aborsi'/><title type='text'>Konseling Pasca Aborsi</title><content type='html'>&lt;div face="georgia" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_aDlLOO-c06M/SoW9qiTHA9I/AAAAAAAAAJE/K7lF0nRBQTM/s1600-h/speakout-facebook.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5369906669168296914" src="http://1.bp.blogspot.com/_aDlLOO-c06M/SoW9qiTHA9I/AAAAAAAAAJE/K7lF0nRBQTM/s320/speakout-facebook.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 158px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 225px;" /&gt;&lt;/a&gt;Pemulihan paska aborsi merupakan proses panjang yang menuntut kesediaan seseorang untuk terbuka dan melihat jauh ke dalam dirinya. Tidak ada pemulihan yang instan, selain pemulihan yang menyisakan banyak konflik yang akan kembali muncul ke permukaan pada waktu-waktu yang tidak terduga. Banyak perempuan post-abortus yang kehilangan minat mereka terhadap kehidupan, terjebak dalam keputus-asaan melawan ketakutan dan kecemasan di dalam dirinya. Tidak sedikit dari mereka kemudian mulai mencari informasi dan bantuan untuk keluar dari permasalahan tersebut, salah satunya dengan mengikuti konseling dan pendampingan. Seberapa besarkah kontribusi konseling dan pendampingan dalam proses pemulihan mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost" style="font-weight: bold;"&gt;KENAPA HARUS KONSELING?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Setiap manusia secara naluri memiliki keinginan untuk di dengarkan, di dukung dan di kasihi. Keinginan alami ini akan meningkat pada saat seseorang mengalami masa-masa sulit, cemas atau kebingungan. Di sisi lain, banyak orang yang tidak dapat melihat dengan jernih permasalahan yang terjadi pada diri mereka. Emosi mereka seringkali membuat mereka tidak melihat akar permasalahan dengan obyektif dan cenderung menilai segala sesuatunya berdasarkan perasaannya. Apa yang di rasakannya, itulah yang ia pahami mengenai permasalahan yang terjadi. Aborsi adalah sebuah permasalahan yang sangat personal, namun efeknya berimbas secara social, budaya, hukum dan agama. Sebuah permasalahan yang menjadi sangat rumit ketika harus di hadapi oleh seorang perempuan. Efek yang membias inilah yang menyebabkan seorang perempuan cenderung tertutup dan membiarkan permasalahan terkubur di dalam diri mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam kondisi seperti ini konseling menjadi penting, karena konseling dapat memenuhi kebutuhan seseorang untuk di dengarkan, di dukung dan di kasihi, sekaligus membantu seseorang mencari jalan keluar dari permasalahan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Konseling adalah proses interaksi antara konselor dan klien yang terarah dan berorientasi pada problem solving. Konseling terdiri dari komunikasi dua-arah antara konselor dan klien. Keduanya berbicara dan saling mendengarkan selama sesi konseling. Dalam proses konseling, konselor membantu klien menggali dan menganalisa permasalahan dengan tujuan memecahkan permasalahan dan kepulihan klien.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Proses pemulihan membutuhkan banyak waktu dan energi. Secara emosional, proses konseling akan banyak mengeluarkan amarah, kekecewaan, air mata sekaligus harapan-harapan yang terpendam di dalam diri seseorang. Melalui proses konseling ini, konselor juga memberikan motivasi dan dukungannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433852997966109948-625092771155099263?l=samsaraindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/feeds/625092771155099263/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2009/08/konseling.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/625092771155099263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/625092771155099263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2009/08/konseling.html' title='Konseling Pasca Aborsi'/><author><name>samsara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06928317136208780151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_aDlLOO-c06M/SoW9qiTHA9I/AAAAAAAAAJE/K7lF0nRBQTM/s72-c/speakout-facebook.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433852997966109948.post-6252538837896522968</id><published>2009-08-15T03:04:00.001+07:00</published><updated>2011-05-14T11:24:12.273+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aborsi'/><title type='text'>Memilih Klinik Aborsi</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_aDlLOO-c06M/SoXDZBjzuUI/AAAAAAAAAJc/VUCbkt2MrWI/s1600-h/surgery.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5369912965391956290" src="http://3.bp.blogspot.com/_aDlLOO-c06M/SoXDZBjzuUI/AAAAAAAAAJc/VUCbkt2MrWI/s200/surgery.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 200px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 133px;" /&gt;&lt;/a&gt;Sebelum anda mengunjungi klinik aborsi, sebaiknya anda tahu apa konsekuensinya bagi masa depan anda. Anda tidak perlu mengambil keputusan secara terburu-buru. Bersikap tenang dan ambil kesempatan untuk berfikir. Jangan biarkan orang lain menyarankan anda untuk melakukan aborsi, anda yang harus mengambil keputusan. Ada banyak pusat kehamilan ibu dan anak yang dapat member anda informasi mengenai beberapa pilihan yang dapat anda ambil. Ada banyak resiko dalam prosedur aborsi. Anda harus paham mengenai resiko ini karena tidak semua klinik aborsi memberi informasi yang jelas mengenai hal ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Berikut ini adalah beberapa saran mengenai klinik aborsi sebelum anda memutuskan untuk mendatangi klinik tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit; font-weight: bold;"&gt;Ketahui kemungkinan resiko aborsi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Dari banyak perempuan yang pernah melakukan aborsi kita dapat mengetahui dengan jelas bahwa aborsi memiliki resiko yang besar, tidak hanya secara fisik tapi juga emosional, spiritual dan psikologis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit; font-weight: bold;"&gt;Lakukan tes urin tau tes darah untuk memastikan anda benar-benar hamil.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Bisa jadi anda tidak benar-benar hamil, laboratorium kesehatan dapat memberikan pelayanan yang dapat membantu anda mengetahui kepastian mengenai kehamilan anda. Anda juga dapat memperoleh informasi yang berhubungan dengan keadaan anda, sesuai dengan yang anda butuhkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit; font-weight: bold;"&gt;Konfirmasi kehamilan anda dengan dokter yang tidak melakukan prosedur aborsi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Pada beberapa kasus, klinik aborsi tidak memberikan informasi yang benar terhadap pasien dengan tujuan agar pasien tetap memutuskan melakukan aborsi. Ada kasus di mana dokter tidak memastikan apakah pasiennya benar-benar hamil tau tidak, bahkan prosedur aborsi tetap di lakukan pada pasien yang tidak hamil tanpa sepengetahuannya hanya karena ketakutannya. Untuk mendapatkan masukan medis mengenai aborsi sebaiknya anda berbicara dengan dokter yang professional yang tidak memiliki kepentingan dengan keputusan aborsi anda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit; font-weight: bold;"&gt;Lakukan tes ultrasound&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Anda dapat melakukan tes ultrasound di pusat-pusat perawatan kesehatan di kota anda. Tes ini dapat memberitahu anda umur kehamilan anda atau memberitahu anda apakah janin yang ada dalam rahim anda dapat bertahan atau tidak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Dengan kata lain, bisa jadi anda akan mengalami keguguran dan tidak perlu melakukan prosedur aborsi. Biasanya prosedur ini dilakukan oleh seorang sonografer yang dapat membantu anda untuk mengambil keputusan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit; font-weight: bold;"&gt;Ingat nama dokter yang melakukan prosedur aborsi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Aborsi legal di beberapa negar, namun bukan berarti resiko medis yang terjadi tidak akan menjadi buruk. Banyak wanita yang kemudian meninggal sekalipun mereka menjalani prosedur aborsi yang “legal dan aman”. Beberapa di antaranya masih bertahan hidup namun mencapai titik di mana mereka tidak dapat memiliki keturunan lagi. Jika anda tidak tahu nama dokter yang melakukan prosedur aborsi, anda akan sulit mencari tahu jika terjadi resiko yang tidak di inginkan. Seorang dokter yang melakukan prosedur aborsi harus memperhatikan keadaan anda, bukan berarti anda justru mempercayakannya untuk menyakiti diri anda. Banyak wanita yang tidak mau mengetahuinya dan itu adalah sebuah kesalahan. Tanya namanya dan catatlah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Jangan menandatangani apapun yang menyatakan bahwa dokter yang melakukan prosedur aborsi terbebas dari tanggung jawab terhadap resiko yang mungkin terjadi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Banyak wanita yang mengatakan bahwa mereka menjadi bingung secara emosional pada saat mereka harus menandatangani pernyataan yang seakan-akan “ setelah selesai, keluar dan selesai”. Jika klinik aborsi meminta anda untuk menandatangi pernyataan semacam ini , baca dengan teliti dan berfikirlah sejenak. Jika ada yang tidak anda mengerti, tanyakan untuk lebih jelasnya. Jika anda tidak puas dengan jawabannya, terus paksa mereka menjawab lebih detail. Jangan terburu-buru dalam memutuskan sesuatu karena apa yang anda tanda tangani dapat member akibat bagi masa depan anda. Anda masih bisa membuat jadwal ulang jika anda belum yakin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit; font-weight: bold;"&gt;Ketahui bahwa anda punya hak ketika melakukan aborsi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Adalah melawan hukum bagi siapapun yang memaksa anda melakukan aborsi. Sekalipun itu adalah suami atau orangtua anda sendiri, jika itu bertentangan dengan kehendak anda, sekalipun jika anda masih berada di bawah umur. Carilah pusat kesehatan dan kehamilan yang dapat membantu anda dalam keadaan ini, mereka dapat membantu anda untuk mendiskusikan berbagai pilihan yang ada dengan orang-orang terdekat anda. Hukum di beberapa Negara juga mengharuskan klinik atau pelaku aborsi untuk member anda informasi berikut :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;1. Komplikasi yang mungkin terjadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;2. Perkembangan janin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;3. Organisasi yang dapat membantu anda melakukan prosedur aborsi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit; font-weight: bold;"&gt;Pastikan bahwa klinik aborsi bersih dan sehat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Banyak wanita yang melaporkan bahwa wilayah di mana mereka melakukan aborsi tidak bersih, berdebu atau bahkan berbau tidak enak. Infeksi bisa terjadi karena kondisi yang tidak bersih dan sehat. Jika anda ke klinik aborsi, jangan lupa untuk menanyakan prosedur kebersihan dan kesehatan yang mereka miliki dan cek apakah ruang tempat melakukan prosedur aborsi sesuai dengan standar sanitasi. Jika mereka tidak memberikan informasi yang jelas untuk menggambarkan kondisi sanitasi klinik, sebaiknya anda meminta izin untuk keluar dan meminta kembali uang yang telah anda bayarkan. Infeksi karena sanitasi yang buruk dapat menyebabkan ketidaksuburan bahkan kematian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Sadari bahwa anda dapat merubah keputusan anda bahkan hingga menit-menit terakhir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;banyak perempuan yang pernah melakukan aborsi menyebutkan bahwa mereka harus melakukan prosedur aborsi karena mereka terlanjur masuk ke dalam ruangan klinik. Beberapa mengatakan bahwa mereka menunggu di atas meja operasi dengan harapan menunggu pasangan mereka “ menyelamatkan” mereka pada detik-detik terakhir. Beberapa klinik bahkan menyebutkan bahwa mereka tidak dapat mengambil kembali uang yang telah di bayarkan jika prosedur aborsi di batalkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit; font-weight: bold;"&gt;Mengerti bahwa bayi bukan sekedar “ gumpalan jaringan”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Beberapa klinik aborsi mengatakan pada wanita yang akan melakukan aborsi bahwa bayi mereka belum sepenuhnya manusia tapi sederhananya adalah sebuah “ gumpalan jaringan” . bagi beberapa orang, akan jauh lebih mudah untuk melakukan aborsi jika mereka meyakini bahwa bayi mereka belum sepenuhnya menjadi manusia. Photo ultrasound menunjukan bahwa pada tahap awal kehamilan, sisi manusia sebuah embrio sudah jelas ada. Ketika beberapa perempuan melihat foto ini stelah mereka melakukan aborsi baru mereka menyadari dan menyesali informasi salah yang telah di berikan oleh klinik. Tes foto ultrasound akan mengungkapkan perkembangan janin anda yang sebenarnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit; font-weight: bold;"&gt;Ketahui bahwa anda tidak sendiri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;wanita yang merasa bahwa aborsi adalah pilihan mereka seringkali merubah keputusan mereka setelah mendatangi care center dan memahami layanan support yang tersedia. Care center kehamilan ada untuk membantu anda melalui masa kehamilan anda dan setelahnya. Tidak ada masalah besar yang tidak dapat di selesaikan dengan persahabatan dan dukungan yang besar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433852997966109948-6252538837896522968?l=samsaraindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/feeds/6252538837896522968/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2009/08/memilih-klinik-aborsi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/6252538837896522968'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/6252538837896522968'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2009/08/memilih-klinik-aborsi.html' title='Memilih Klinik Aborsi'/><author><name>samsara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06928317136208780151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_aDlLOO-c06M/SoXDZBjzuUI/AAAAAAAAAJc/VUCbkt2MrWI/s72-c/surgery.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433852997966109948.post-1910213425654685275</id><published>2009-08-13T03:51:00.000+07:00</published><updated>2011-05-25T01:08:06.430+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Pro Kontra Aborsi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pasal-pasal tentang praktik aborsi dalam RUU Kesehatan 2005 yang merupakan amandemen UU No 23/1992 tentang Kesehatan menjadi polemik.Cendekiawan dan ulama yang mendukung pelegalan aborsi telah berusahamelakukan lobi-lobi untuk mendapatkan dukungan umat. Di antaranyadengan cara mengekspose data hasil survei yang mendukung pentingnyaaborsi legal, seperti data survei tentang penyebab tingginya AngkaKematian Ibu (AKI) di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar pelegalan praktik aborsi di negeri ini didukung, diisukan bahwalegalnya aborsi akan menurunkan AKI --termasuk aborsi tidak spontanyang ilegal berkontribusi 30-50 persen terhadap AKI di Indonesia.Selain itu, pesan-pesan WHO pada perayaan Hari Kesehatan se-Duniapada 7 April 2005 lalu tentang aborsi sebagai bagian pelayanankesehatan ibu yang disediakan negara, sengaja diserukan kepadaberbagai organisasi pemerintah dan masyarakat yang bergerak di bidangkesehatan perempuan dan anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah pelegalan aborsi merupakan satu-satunya cara menurunkan AKIdi Indonesia? Apakah pelegalan aborsi tidak akan menguntungkan pezinadan pelaku seks bebas, sebagaimana halnya penjualan bebas alat-alatkontrasepsi, sehingga kemaksiatan semakin marak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profil Kesehatan Reproduksi Indonesia 2003 yang dikeluarkan Depkes RItentang penyebab kematian ibu aborsi menyatakan: ''diketahui bahwasemua wanita hamil berisiko terhadap kematian ibu. Penyebab langsungutama kematian ibu di negara-negara berkembang meliputi pendarahan,infeksi, persalinan macet atau berkelamaan, aborsi yang tidak aman,dan kehamilan dengan gangguan hipertensi.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1995 mengindikasikan bahwapenyebab utama kematian ibu terkait dengan pendarahan, eklamsia,infeksi, dan persalinan macet. Faktor-faktor ini sering terjadiselama atau segera setelah persalinan. Dalam banyak kasus, persalinandibantu dukun tidak terlatih (TBAs) atau anggota keluarga. Parakorban juga sering tidak memperoleh pelayanan dasar obstetri yangmungkin dapat menyelamatkan nyawa mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan penyebab utama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan penjelasan yang tercantum dalam laporan tersebut dapatdisimpulkan bahwa aborsi bukan penyebab utama tingginya AKI. Mutupelayanan kesehatan serta akses layanan kesehatanlah yang menjadipenyebabnya. Karena itu, mestinya, yang harus diupayakan olehcendekiawan dan ulama adalah mengingatkan pemerintah sungguh-sungguhmengimplementasikan sejumlah strategi teknis dalam penatalaksanaankomplikasi kehamilan dan persalinan untuk menurunkan AKI, sepertipenyediaan tenaga medis dan fasilitas bantuan pertama.&lt;br /&gt;Pentingnya mengingatkan pemerintah akan layanan kesehatan yangparipurna bagi ibu pada masa pra, selama, dan pasca-kehamilan untukmenekan aborsi bisa diambil sebagai simpulan lain berdasarkan pidatopengukuhan Prof Dr dr Biran Affandi SpOG sebagai Guru Besar TetapIlmu Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran UniversitasIndonesia, lima tahun lalu. Prof Biran Affandi menyebutkan setiaptahun diperkirakan terjadi 2,3 juta abortus. Dari jumlah itu, satujuta merupakan abortus spontan dan sisanya abortus tidak spontan.Rinciannya, 0,6 juta karena kegagalan Keluarga Berencana (KB) dan 0,7juta karena tidak memakai alat KB. ''Sebagian besar abortus tidakspontan merupakan abortus yang tidak aman,'' jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara kuantitatif, terungkap dalam pernyataan Prof Biran Affanditersebut bahwa peserta program KB menyumbang angka lebih tinggiterhadap AKI, karena aborsi ilegal dipilih sebagai jalan keluar untukmenghentikan kehamilannya. Sejumlah data mengindikasikan turunnya tingkat ekonomi masyarakat seiring dengan krisis monoter 1998 lalu,ikut menurunkan kemampuan masyarakat mengakses layanan kesehatan,termasuk untuk ber-KB.Mestinya, sebagaimana ditulis dalam laporan Depkes 2003, peningkatan akses terhadap pelayanan KB sangat memungkinkan penurunan angkaaborsi dan akan meniadakan kebutuhan pelayanan aborsi.Abortus ilegal, menurut berbagai penelitian --termasuk DirektoratBina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan-- menyumbang 35-50persen AKI. Masih berdasarkan laporan Depkes, sejumlah kajian mengindikasikan tingginya tingkat aborsi. Studi pada 1993 memperkirakan total aborsi di Indonesia berkisar antara 750 ribu dandapat mencapai satu juta per tahun. Ini berarti, 18 aborsi per 100 kehamilan (dengan asumsi 4,5 juta kelahiran hidup di Indonesia pada1989).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data Depkes dari rumah sakit pada 1980-an mengindikasikan tingkataborsi sekitar 18 persen di 27 provinsi. Dalam konteks di mana aborsimasih dianggap ilegal, banyak wanita (remaja yang tidak menikah danmenikah serta aktif secara seksual) masih membutuhkan pelayanan aborsi (dari dukun bayi, bidan, dokter, atau petugas medis lainnya,atau mencoba melakukan aborsi sendiri (dengan minum jamu atau pemijatan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayoritas tidak menikah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Survei pada tahun 1994 oleh PKBI menemukan bahwa lebih dari separuh(58 persen) dan 2.558 catatan kasus aborsi dilakukan remaja putriberusia 15-24 tahun. Mayoritas dari mereka (62 persen) tidak menikahdan sering terlambat melakukan aborsi dini. Sekalipun data tersebutbukanlah data terbaru, tergambar bahwa ternyata pelaku aborsi yangkehamilannya didapat dari perzinahan juga membutuhkan legalnya aborsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak heran jika MUI pun didesak untuk mendukung aborsi melalui fatwanya. Akhirnya, setelah didahului oleh perdebatan panjang selamalebih kurang enam bulan, MUI memfatwakan ''asal belum hamil 40 hari,dibolehkan aborsi bagi kehamilan karena perkosaan''.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa tersebut merupakan jawaban MUI terhadap persoalan-persoalanyang sedang berkembang di masyarakat. Meningkatnya jumlah kasusperkosaan menjadi alasan pertama keluarnya fatwa ini. Menurut KetuaKomisi Fatwa MUI, Ma'ruf Amin, saat ini kasus-kasus aborsi ilegalsudah sangat memprihatinkan. Untuk itu, dengan adanya fatwa inidiharapkan bisa memberikan penjelasan kepada masyarakat bahwa aborsibisa dilakukan dan sah dengan persyaratan tertentu, dan denganmemperhatikan masalah-masalah tuntunan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan kedua keluarnya fatwa karena adanya tuntutan kalangankedokteran dan beberapa peneliti yang meminta MUI membahas kembalipermasalahan aborsi, terutama menyangkut beberapa hal. ''Kita melihatbahwa saat ini sering terjadi, bahkan banyak sekali kasus aborsi ituterjadi karena perzinahan dan sebagainya,'' ungkap Ma'ruf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana diungkapkan Ma'ruf Amin, MUI memandang aborsi dibolehkankalau ada udzur. Namun, untuk kehamilan akibat perzinahan, hubungansedarah (incest), cacat mental, dan sakit jiwa, MUI belum bisamemperbolehkan aborsi. MUI hanya mengizinkan aborsi korban perkosaankarena akan mengakibatkan penderitaan bagi ibunya, anaknya, dankeluarganya, serta menjadi lambang kesulitan dan kesusahanberkepanjangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rezeki dijamin Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau memang banyak janin karena gagal KB diaborsi secara ilegal,mestinya ada pandangan hidup keliru di tengah kehidupan kita saatini. Bukankah Allah SWT telah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya dimuka bumi ini tanpa hisab? Kemiskinan yang dijadikan alasan para ibuuntuk mengaborsi janinnya, mestinya dijawab pemerintah denganmemakmurkan rakyatnya. Bukankah bumi Indonesia ini kaya dengan sumberdaya alamnya namun keliru dikelola?&lt;br /&gt;Memberikan fasilitas kesehatan untuk mencapai kesehatan ibu telahdiisukan dalam pesan WHO pada Hari Kesehatan 7 April 2005; hasil kesepakatan International Conference on Population and Development(ICDP) 1994 di Kairo, Mesir; serta Millenium Development Goals (MDG)2000 di New York AS; yang diikuti Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestinya, pesan-pesan itulah yang ditonjolkan dan dikaji untuk dicaristrategi penerapannya. Apalagi mengingat semakin tingginya biayahidup sejak subsidi BBM dicabut lalu dialihkan untuk meningkatkanlayanan publik orang miskin yang salah satunya adalah layanankesehatan.&lt;br /&gt;Semua pihak, termasuk kita, hendaklah mengingatkan pemerintah agarmemenuhi hak kesehatan rakyat. Banyak kasus yang diekspose mediaakhir-akhir ini berkaitan dengan kapitalisasi rumah sakit, sekalipunitu milik pemda atau pemerintah. Berbagai layanan medik lainnya jugasemakin sulit untuk diakses dan mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, sewajarnyalah sebagai hamba Allah yang mencintai tegaknyaaturan Allah di bumi Indonesia ini, serta bagi pendukung tegaknyamasyarakat bermoral dan menjaga garis keturunannya, kita berupayamencegah pengesahan RUU Kesehatan yang memuat pasal-pasal tentanglegalisasi praktik aborsi. Kita pun berkewajiban mengingatkanpemerintah akan kewajibannya untuk memenuhi hak kesehatan ibu danwanita secara khusus serta umat secara umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengajar Teknik Kimia UNRI&lt;br /&gt;(Sri Helianty)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6433852997966109948-1910213425654685275?l=samsaraindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/feeds/1910213425654685275/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2009/08/pro-kontra-aborsi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/1910213425654685275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6433852997966109948/posts/default/1910213425654685275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://samsaraindonesia.blogspot.com/2009/08/pro-kontra-aborsi.html' title='Pro Kontra Aborsi'/><author><name>samsara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06928317136208780151</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6433852997966109948.post-3873753780694193003</id><published>2009-08-13T03:49:00.000+07:00</published><updated>2011-05-25T01:08:06.431+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Hukum Fikih Aborsi tidak Hitam-Putih</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tak kurang dari dua juta perempuan Indonesia setiap tahun melakukan tindak aborsi karena kehamilan yang tidak mereka kehendaki. Yang mengkhawatirkan, kebanyakan melakukan praktik aborsi secara tidak aman, sehingga ikut mendongkrak angka kematian ibu melahirkan di Indonesia. Lantas adakah payung hukum yang meregulasi persoalan aborsi dan menjamin keselamatan reproduksi perempuan? Berikut kami sajikan perbincangan JIL dengan Dra. Maria Ulfah Anshor, Ketua Umum Fatayat NU, penerima Saparinah Sadli Award untuk dedikasinya dalam pembelaan hak-hak reproduksi perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negara lain, persoalan aborsi menjadi isu kampanye yang membelah sikap partai-partai yang berkontestasi dalam pemilu antara yang pro dan kontra. Di Indonesia, isu ini belum menjadi perdebatan publik pada musim kampanye. Meski demikian, persoalan aborsi tetap perlu menjadi isu yang diperhatikan. Sebab faktanya, tak kurang dari 2 juta perempuan Indonesia setiap tahun melakukan tindak aborsi karena kehamilan yang tidak mereka kehendaki. Yang mengkhawatirkan, kebanyakan melakukan praktik aborsi secara tidak aman, sehingga ikut mendongkrak angka kematian ibu melahirkan di Indonesia. Lantas adakah payung hukum yang meregulasi persoalan aborsi dan menjamin keselamatan reproduksi perempuan? Bagaimana pula perspektif hukum Islam dalam pokok soal ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendalaminya, Novriantoni dan Abd. Moqsith Ghazali dari Jaringan Islam Liberal (JIL) berbincang-bincang dengan Dra. Maria Ulfah Anshor, Ketua Umum Fatayat NU. Perbincangan dengan penerima Saparinah Sadli Award untuk dedikasinya dalam pembelaan hak-hak reproduksi perempuan itu berlangsung Kamis (9/12) kemarin. Berikut petikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JIL: Bu Maria, Agustus lalu Anda mendapatkan Saparinah Sadli Award untuk dedikasi Anda dalam membela hak-hak reproduksi perempuan melalui penelitian berjudul Fiqh Aborsi Alternatif untuk Penguatan Hak-hak Reproduksi Perempuan. Sebenarnya seberapa penting isu aborsi di Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MARIA ULFAH ANSHOR: Saya kira sangat penting. Sebab, soal aborsi adalah persoalan yang sangat kompleks, tidak bisa hanya dilihat dari satu sudut pandang agama, hukum, atau medis saja. Dia harus dilihat secara komprehensif, karena pokok persoalan ini bukan berdiri sendiri. Ada berbagai faktor yang dapat kita lihat, termasuk agama, sosial, ekonomi, dan lain-lain. Selama ini, ketika kita bicara tentang aborsi, yang menjadi sasaran dan korban selalu kaum perempuan. Padahal penyebab orang melakukan aborsi beragam, termasuk partisipasi laki-laki yang selama ini tidak dilihat sebagai bagian dari pihak yang ikut berproses dalam kehamilan yang tidak dikehendaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JIL: Berdasarkan penelitian Anda, siapa yang banyak melakukan aborsi dan atas dasar apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MARIA ULFAH ANSHOR: Saya tidak melakukan penelitian baru, tapi berangkat dari penelitian yang sudah dilakukan Pusat Kesehatan UI dan Yayasan Kesehatan Perempuan tahun 2003. Di situ ditemukan bahwa 87 % mereka yang melakukan aborsi adalah ibu rumah tangga dengan suami yang sah. Prof. Budi dan kawan-kawannya menemukan bahwa dalam setiap tahun terdapat 2 juta lebih kasus aborsi. Bahkan lembaga lain menemukan, dari 2 juta kasus pertahun itu, kebanyakan melakukan aborsi yang tidak aman. Selain itu, saya juga mencermati dari sisi lain di mana angka kematian ibu di Indonesia termasuk kategori sangat tinggi dibanding negara lain. Di ASEAN, Indonesia yang tertinggi. Sampai saat ini, data valid menyebutkan angkanya berkisar antara 373-800 orang per 100,000 kelahiran hidup (selamat). Nah, salah satu faktornya adalah pendarahan. Dalam kasus pendarahan inilah terdapat kasus aborsi yang tidak aman. Kasus aborsi yang menyebabkan kematian berkisar antara 13-50 % dari kasus kematian akibat pendarahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JIL: Apakah hukum kita membuka ruang bagi tindakan aborsi demi menjamin terselenggaranya aborsi yang aman?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MARIA ULFAH ANSHOR: Sama sekali tidak. Jadi, UU kita menutup sama sekali praktik aborsi dengan alasan apapun. Dalam UU Kesehatan terlihat sekali bahwa klausul tentang aborsi itu sangat bias (gender). Di situ diterangkan, dokter bisa mengambil tindakan tertentu untuk menyelamatkan ibu dan janinnya. Klausul ini kan menyangkut dua hal yang tidak mungkin dilakukan dalam konteks aborsi, dengan alasan menyelamatkan nyawa kedua-duanya. Padahal, dalam aborsi pasti ada yang dikorbankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JIL: Sekarang mari kita mengelaborasi apa kata fikih Islam soal aborsi. Apa yang anda temukan dalam buku-buku fikih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MARIA ULFAH ANSHOR: Saya mencoba melakukan penelitian literatur dari empat mazhab fikih: Maliki, Hanafi, Syafi’i, dan Hambali. Dari situ, kita dapat menemukan pendapat-pendapat yang kontroversial di kalangan ulama. Di kalangan penganut mazhab Syafi’i sendiri, ada yang membolehkan dan ada yang melarang. Di mazhab lain juga sama. Ini memang isu khilafiah sejak zaman dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, saya tidak memilih mana pandangan yang paling baik dan paling benar. Saya hanya ingin menegaskan bahwa dalam fikih terdapat wacana yang begitu beragam tentang aborsi. Nah, ini sebenarnya misi yang saya angkat. Sebab, hampir mayoritas orang Islam di Indonesia mengatakan bahwa aborsi itu haram. Padahal dalam kitab-kitab fikih, bahkan di kalangan Syafi’i yang nota bene menjadi panutan mayoritas umat Islam di Indonesia, juga ada yang membolehkan dengan persyaratan-persyaratan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JIL: Apakah dengan beragamnya pandangan ulama fikih menyangkut aborsi, umat Islam bisa punya wewenang untuk memilih mana yang dianggap baik bagi dirinya: melaukan aborsi atau tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MARIA ULFAH ANSHOR: Kalau saya melihatnya dari perspektif perempuan, ya! Selama ini, ketika dihadapkan pada persoalan kehamilan yang tidak dikehendaki, perempuan yang paling terbebani dan paling bertanggung jawab. Untuk mendapat pelayanan aborsi yang aman saja, nyaris tidak ada dokter yang mau memberi pertolongan. Begitu dia cerita kalau dia tidak menghendaki kehamilannya, apakah akibat perkosaan atau sebab lain, dokter selalu menolak. Sehingga kemudian mereka lari ke praktik-praktik dukun atau melalukan aborsi sendiri. Kasus seperti inilah yang paling sering menimbulkan resiko pendarahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, masyarakat juga selalu menganggap kasus aborsi itu pasti akibat kehamilan di luar nikah. Mereka yang melakukannya dianggap berdosa. Padahal mereka punya beban yang sangat tinggi kalau anaknya sampai lahir. Misalnya orang yang diperkosa lalu hamil. Mereka adalah korban. Tapi ketika menghadapi persoalan ini, masyarakat tidak ada yang berempati atau memberi solusi, dan selalu saja bertindak menghakimi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JIL: Tadi Anda membahas fikih Islam yang belum tersingkap di masyarakat, sehingga terjadi resiko aborsi tidak aman bagi perempuan. Apa yang bisa ditimba masyarakat dari kajian Anda ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MARIA ULFAH ANSHOR: Untuk kasus kehamilan yang tidak dikehendaki karena bencana perkosaan, dilihat dari sisi apapun tentu sangat membebani perempuan. Untuk kasus seperti ini, mesti dicarikan solusi yang bijak. Kalau si perempuan tidak mampu menanggung itu, baik secara medis maupun psikis, maka kalau mereka tidak menginginkan anaknya, segera saja digugurkan. Segera lakukan, dan jangan menunda. Melihat sisi pertumbuhan embrio, masa yang paling aman untuk melakukan aborsi adalah sebelum sampai 42 hari masa kehamilan. Pertimbangannya, karena proses pertumbuhan embrio sebelum 42 hari masih tergolong belum sempurna. Masih dalam taraf pembentukan, tetapi belum sempurna. Kalau dilakukan sebelum 40 hari, dia masih dalam bentuk sel. Jadi, 40 hari pertama, seperti diinformasikan Alqur’an dan Hadis masih dalam tahap nutfah, sel yang belum berbentuk organ-organ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara medis, sebelum 40 hari masih tergolong aman, dan secara syar’i sendiri memiliki dasar hukum yang kuat. Dalam hadis diterangkan, apabila nutfah telah melewati masa 42 hari, Allah akan mengutus malaikat untuk membentuk rupa, penglihatan, daging, dan lain sebagainya. Lalu malaikat berkata: wahai Tuhan apa akan dijadikan laki-laki atau perempuan? Ketika itulah Allah menentukan akan dijadikan laki-laki atau perempuan. Jadi, pada hadis ini sebetulnya tersirat bahwa sebelum 42 hari, prosesnya belum terbentuk, termasuk penentuan jenis kelamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JIL: Pendapat fikih soal aborsi cukup beragam. Tapi faktanya kita tidak punya payung hukum yang dapat meregulasi soal aborsi. Apakah Anda berharap kajian Anda ini ditindaklanjuti menjadi undang-undang yang meregulasi soal aborsi yang aman?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MARIA ULFAH ANSHOR: Pada akhirnya, yang membuat kewenangan regulasi itu DPR dan pemerintah. Saya hanya ingin mengangkat wacana yang menawarkan solusi untuk perempuan. Jadi ada alternatif yang bisa kita lakukan. Kalau kajian ini dianggap relevan dan masyarakat sepakat perlu ada payung hukum untuk melindungi praktik ini, dan supaya dokter punya jaminan hukum untuk melakukannya, saya pikir kenapa tidak?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JIL: Sejauh ini, apakah Anda dan para aktivis perempuan belum mengusahakan ke arah itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MARIA ULFAH ANSHOR: Yang kami lakukan bukan mengusahakan UU soal aborsi, karena aborsi hanya bagian kecil dari keseluruhan soal kesehatan. Jadi yang paling relevan tetap UU kesehatan. Sebab di situ tidak ada ruang untuk pengecualian-pengecualian dalam tindak aborsi. Sebab, kita tidak bisa melakukan aborsi seperti dalam kasus kehamilan yang tidak dikehendaki ini, kalau dalam klausul hukumnya tidak ada jaminan. Memang harus ada payung hukumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JIL: Ada pendapat bahwa kita tidak bisa selalu memperhatikan nasib seorang ibu, tapi juga hak anak atau janin yang ada dalam kandungan untuk hidup. Imam al-Ghazali yang sering dikutip para ulama misalnya menyatakan bahwa sejak terjadinya pembuahan, sesungguhnya sudah ada kehidupan. Jadi tidak bisa digugurkan. Bagaimana menurut Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MARIA ULFAH ANSHOR: Imam al-Ghazali dalam Ihyâ `Ulumuddîn memang mengatakan bahwa ketika terjadi konsepsi, transaksi tidak boleh dirusak lagi. Jadi beliau mengibaratkan proses pembuahan itu sebagai transaksi. Jadi al-maujûd al-hâshil (sesuatu yang telah terkonsepsi) itu, tidak boleh dianulir. Tapi Imam al-Ghazali dalam kitabnya yang lain, al-Wajîz juga mengakui bahwa pengguguran yang dilakukan dalam tahap `alaqah (gumpalan darah) itu tidak apa-apa. Jadi yang perlu dianalisis dari pertentangan pendapat al-Ghazali ini adalah sisi hermeneutikanya. Mengapa al-Ghazali memiliki dua pandangan dan sikap yang berbeda-beda? Setelah saya kaji, ternyata beliau menulis al-Wajîz dalam kapasitasnya sebagai ahli fikih. Belakangan, ketika menulis kitab Ihyâ `Ulûmuddin, beliau dalam tahap usia lanjut sebagai filosof dan ahli sufi yang pemikirannya “sangat arif sekali”. Dalam kajian tentang hermeneutika yang ditulis pemikir Libanon, Ali Harb, dikatakan bahwa penglihatan yang sangat dalam dan kearifanlah yang menjadi metode dominan bagi kalangan sufi. Ini berbeda dengan metode kalangan ahli fikih yang melihat fakta-fakta dan kompleksitas suatu persoalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JIL: Lantas apa dapat dikatakan bahwa pandangan al-Ghazali dalam Ihyâ sebagai revisi atas pandangannya dalam al-Wajîz?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MARIA ULFAH ANSHOR: Menurut saya, ada tahapan yang bukan berarti revisi. Sebab, al-Ghazali pun tidak mencabut pandangannya dalam al-Wajîz itu. Jadi kita justru dapat mengambil hikmah dan alternatif pemikiran dari sini. Proses manusia untuk dapat memperoleh tahapan pemikiran ahli sufi itu kan juga butuh waktu yang lama. Nah, “kearifan” al-Ghazali itu bisa dikatakan yang ideal. Tapi untuk kondisi tertentu, itu juga tidak harus memaksa semua orang untuk berpikiran serupa seperti al-Ghazali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JIL: Lantas bagaimana penelusuran Anda terhadap pandangan-pandangan lembaga resmi keagamaan di Indonesia tentang aborsi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MARIA ULFAH ANSHOR: Pandangan lembaga resmi keagamaan seperti MUI, NU, dan Muhammadiyah sama. Ketiga lembaga ini memfatwakan bahwa aborsi adalah haram. Jadi tidak ada elaborasi lebih lanjut. Pengecualiannya hanya untuk menyelamatkan nyawa ibu. Tapi lagi-lagi, meski dimungkinkan untuk menyelamatkan nyawa ibu, karena tidak ada payung hukum untuk praktik aborsinya, kita kesulitan. Jadi praktik yang terjadi tetap ilegal sebetulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JIL: Nampaknya ada jurang yang begitu lebar antara pandangan resmi keagamaan dengan fakta di lapangan. Sebab data menunjukkan kalau 87 % pelaku aborsi di Indonesia justru perempuan bersuami, misalnya karena gagal KB, alasan keseha
